Si Gadis Kecil

IMG_20160802_203453

Sepuluh tahun yang lalu, seorang gadis kecil akan dibawa pergi. Ia tak tahu tujuannya ke mana. Yang ia tahu, kepergiannya aman-aman saja bahkan dianggap sebagai keputusan terbaik. Ia tahu, kepergiannya akan makan waktu lama sehingga menjauhkannya dari seorang teman yang telah ia anggap sebagai sahabat dekat. Ia juga tahu, ketika pergi, ia akan meninggalkan sekolahnya, teman-teman satu geng nya, tetangga, guru-guru, dan semua di lingkungan sekitarnya. Ketika pergi, ia tahu tak ada kemungkinan untuk kembali.

Itu membuatnya sesak nafas.

***
Sepuluh tahun yang lalu jelang kepergian, Si Gadis Kecil sibuk menghitung hari. Ia tidak tahu bagaimana cara berpamitan atau memberi kenang-kenangan dengan baik dan benar. Ia tak tahu apakah berpamitan itu merupakan suatu hal yang penting atau tidak. Apakah berpamitan menjadi jaminan ia akan diingat selamanya? Perlukah diingat orang lain? Mengapa harus berpamitan padahal agenda pergi telah dipastikan.

Tapi nyatanya sembari menghitung hari, ia menjahit boneka kain sembunyi-sembunyi. Rencananya ketika jadi, boneka itu akan diberikan pada seorang teman baik. Boneka kain itu bukan kenang-kenangan. Si Gadis Kecil hanya ingin berterima kasih kepada temannya itu, atas segala kesempatan dari persinggungan yang akrab sehari-hari, serta rangkaian penerimaan yang terasa tulus.

Berpamitan mungkin menurutnya tidak penting. Benda kenang-kenangan seberapa pun harganya, juga hanya akan menjadi benda berdebu yang ditinggalkan. Apalagi itu hanya boneka kain alakadarnya. Tapi ia membayangkan, ucapan terima kasih kepada yang berharga setidaknya akan membuat prosesi kepergian sedikit melegakan.

***
Sepuluh tahun yang lalu, ketika boneka kain itu telah jadi, ketika keberangkatannya pergi tinggal sebentar lagi, Si Gadis Kecil tampak muram. Ia berdiri sembari menggenggam boneka kain di depan rumah sahabat dekatnya. Rumah itu kosong dan pintunya terkunci. Berdasarkan informasi para tetangga, temannya itu pergi berlibur sekeluarga.

Si Gadis Kecil jadi kecewa. Bukan pada siapa-siapa. Ia kecewa pada dirinya sendiri karena tidak sempat mengucapkan terima kasih seperti yang direncanakan. Boneka kain pun tak pernah tersampaikan ke tujuan. Boneka yang ia jahit berhari-hari itu akhirnya jadi milik tempat sampah. Gadis kecil itu membuangnya dengan terlebih dahulu merusaknya.

***
Sepuluh tahun yang lalu, Si Gadis Kecil lantas pergi begitu saja. Tak ada seorang teman pun yang ia beri salam perpisahan. Pun tak ada teman yang menampakkan diri untuk sekadar basa-basi melambaikan tangan berharap berjumpa lagi di masa depan. Pergi dengan cara seperti itu, ia adakah ia kini baik-baik saja?

Entahlah, ketika itu saya tak yakin apakah ia menangis atau tidak. Tapi mungkin saja tidak. Sebab perilaku itu tidak akan mengubah apapun. Ia tetap akan digiring pergi ke situasi yang sunyi. Kehidupan kemudian berjalan terus. Kondisinya baik-baik saja bagi semua yang ditinggalkan di masa lalu. Kehidupan juga akan terus berlanjut dengan baik-baik saja bagi Si Gadis Kecil yang menghilang, yang terlupakan.

***
Hari ini Si Gadis Kecil yang terlupakan itu datang lagi. Menatap sepanjang waktu tanpa berkata-kata. Sepuluh tahun yang lalu ia pergi tanpa pilihan. Tapi hari ini, ia justru pergi dengan terencana, dengan alasan tertentu, atas keinginannya sendiri.

Ini adalah pengalaman pertamanya. Sejumlah orang bertanya-tanya alasannya pergi. Adakah ia harus mengutarakan alasan yang super penting, bermutu, atau mendesak. Si Gadis Kecil memutuskan hanya menyuguhkan alasan sederhana.

Ia ingin pergi bersemedi.

Mengutarakan alasan pergi kepada orang-orang yang bertanya baginya tak terlalu jadi soal. Bahkan jika pun ia tak menjelaskan alasan apapun kepada semua orang, ia akan tetap pergi. Justru hal yang paling menyedihkan yakni mengulang kejadian sepuluh tahun yang lalu.

Adakah ia akan punya kesempatan untuk berterima kasih kepada manusia-manusia baik di sekelilingnya hari ini? Adakah ia bisa berpamitan dari lingkungannya yang berharga saat ini dengan baik dan benar?

Hari ini, Kami belum benar-benar pergi. Tapi mata Si Gadis Kecil sudah berurai air mata sepanjang hari.

***
Sembari mendengarkan ost Hello Monster, Remember Me-Dear Cloud..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s