Pesawat

Senja keberangkatan Jakarta-Padang. Burung besi membawa terbang. Aku duduk di labungnya. Duduk pasrah sembari mengintip kejauhan. Pasrah menerima gemuruh bising selama ia terbang menjauhi daratan. Pesawat bergerak melawan gravitasi, tapi tak berniat menjangkau langit.

Burung besi hanya sejenak melintasi perkampung awan yang terhampar indah tapi labil. Misi utamanya mencari rute perjalanan udara dengan tarif mahal, agar cepat sampai tujuan. Menggandeng Singkat, ia sanggup mendatangkan sejuta gengsi, juga kepasrahan akan maut. Ragam pemberitaan soal tragedi kecelakaan pesawat cukup efektif membuat kesan mengerikan di sepanjang perjalanan. Padahal maut bisa datang seenaknya. Seonggok Takut dan selembar Takjub tersenyum.

Burung besi lepas landas. Gedung, jalan dan orang-orang mengecil. Perlahan menjelma serupa peta berskala dinamis. Warna-warni bumi menyatu. Lautan jadi biru, pun daratan seragam menyokelat. Dimensi tampak dari tiga menjadi dua. Menjadi kotak dan baris berwarna.

Burung besi terbang meninggi. Dari balik jendela aku masih mengintip. Bocah-bocah awan yang gemuk tampak berpencar. Asyik bermain kejar-kejaran padahal diawasi angin. Pandangan sesaat itu usai sebab Bunda Matahari datang mengajak pulang menuju gulita. Waspada, ada senja!

Burung besi masih melintas tampa permisi. Di balik jendela mini, para bocah awan dirayu permen-permen gulali mega yang merona. Pesonanya tak terbantahkan. Para bocah pulang dengan sembari tersenyum manis. Kampung awan menutup gerbang. Atraksi senja usai ditutup ucapan selamat datang kepada Malam. Lalu gelap. Lalu lelap.

***

Senja keberangkatan Padang-Jakarta. Bumi Sumatra menyajikan hamparan perkebunan kelapa sawit sombong luas. Masih ada tukang intip-aku-dari celah perut burung besi yang konsisten lepas landas dengan bising. Hamparan sawit menjelma karpet hijau yang digunting-gunting. Ada yang acak, ada yang teratur. Dijahit sungai, dipagari laut.

Terbang burung besi makin tinggi. Tapi tak kujumpai anak-anak awan gemuk bermain. Awan tampak suram menahan tangis. Mungkin Senja hari ini marah besar karena awan-awan gendut semakin nakal. Senja merona penuh kelicikan. Pamer senyum kekuasaan sembari menjemput malam.

Sejenak langit gulita, tapi tak lama. Kala bergerak mendekati daratan Jakarta, tampak hamparan berlian berkilauan. Serupa peti harta karun raksasa yang dibuka lebar. Ada yang berkelap kelip, ada yang bersinar terang. Ada yang menetap, ada pula yang berjalan-jalan. Jawa, Jakarta, selalu benderang.

Para penyumbang cahaya itu di antaranya gabungan peserta macet jalanan. Yang berkeringat, lapar. Di antaranya pula lampu-lampu malam yang kesepian. Mereka menerangi jalan tapi tegar kedinginan. Di antara mereka pula ada konglomerat, pekerja kantoran, juga pedagang yang sibuk bekerja, berjualan cilok dan buah-buahan. Di antara lampu terang mereka tengok kiri kanan kesepian. Bagaimana meraih kekayaan, kapan target omzet tercapai, di manakah para pelanggan.

Di bawah sana, yang lainnya mendongakkan kepala ke langit. Melantunkan harapan dan kerinduan pada bintang. Melontarkan keluh kesah dan tangisan. Juga menatap bahagia membayangkan seseorang di kejauhan pun melakukan hal yang sama, melontarkan harapan serupa.

Manusia-manusia itu bermandikan terang dan selalu menggantungkan keinginan pada langit. Sebagian menunggu ada bintang yang lewat atau jatuh. Siapa tahu cita-cita terwujud secara instan. Siapa tahu orang yang dicari segera dipertemukan.

Tahukah, mereka. Dari atas sini aku menatap takjub. Hasil kebertahanan mereka yang berharap dalam terang, pun menghadapi kejenuhan di macet jalanan, adalah indah. Tahukah jika dari atas sini menetes lantunan kumandang puji kepada Tuhan. Betapa ajaibnya gabungan kalian yang di daratan. Segala yang kompleks di daratan menjadi sederhana mengagumkannya dari udara.

Tak perlu iri. Aku dan segala yang di atas sini akan segera bergabung. Entah dengan atau tanpa nyawa, kami akan turun sebentar lagi. Keindahan malam perkotaan selalu memesona, tapi tak bisa ditatap lama-lama. Lebih indah menjadi bagian dari kelap-kelip perhiasan daratan. Melanjutkan kehidupan.

Angkasa adalah daratan, begitu pun sebaliknya. Hanya masalah waktu, kita saling bertukar tempat bergantian. Mari saling menerima posisi masing-masing saat ini. Ketika penerimaaan itu terasa, akan ada jalan menuju pergerakan dan perpindahan posisi yang membahagiakan. Ke tempat pulang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s