Cibiru

Cibiru (15052016)

Kenangan berserakan di Cibiru. Di bunderan Cibiru yang selalu sesak kendaraan, di gorong-gorong permukiman, di tempat fotokopian, masjid, di deretan tukang jajanan sepanjang trotoar, Gang Kujang, Jalan Desa, Manisi, di dalam dan sekitaran kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Enam tahun lalu pertama kali menginjakkan kaki di sana. Ceritanya menjadi mahasiswa. Tak seperti lazimnya yang lain, saya datang tanpa idealisme, rencana baru, apalagi mimpi dan cita-cita. Bukan karena frustrasi atau menampik kondisi. Mungkin karena kelewat cuek. Saya hanya memandang segala hal di hadapan, dari hari ke hari, sebagai kisah baru. Tentang kejutan apa yang telah datang silih berganti di masa itu, saya berupaya mensyukurinya.

Dimulai dari sendirian, saya dipertemukan dengan sejumlah teman. Tuhan selalu menginginkan saya di dalam penjagaan-Nya, dengan mengutus mereka. Jadilah kami semacam gerombolan yang menamakan diri “Strikam”. Saya selalu tergelitik mengingat kisah dan arti di balik istilah alay ini. Mereka salah satu sumber penyulut bahagia. Terlebih ketika merasa terpuruk. Merasa bahwa kamu tidak sendirian, itu sangat menolong dijauhkan dari putus asa.

Tentu bukan hanya mereka yang jaga saya. Ada dosen tampan, dosen bermuka teduh, dosen cantik, dosen penyihir, dosen hantu. Ada senior kesayangan pun ada pula senior teman bertengkar. Ada teman sebaya sholehah, aktivis politik, pejuang dakwah, ahli Alquran-hadits, anak mal, teman begajulan, teman kalem dan teman yang seperti tokoh komik. Ada Mang Asep cuanki, Aa Kopma, teteh PSPB dan Mahapeka. Dan lain-lain. Terutama Sekre Suaka.

Beragam ekspresi pernah terasa, tertinggal berserakan di Cibiru. Cari perhatian, jajan, belagu, jajan, menyerapah, jajan, jalan-jalan, jajan, bercanda, jajan, mengapresiasi, jajan, berorganisasi, jajan, pengecut, jajan, teriak, jajan, terasingkan, jajan, tertawa, jajan, mengasingkan orang, jajan, mengejar orang sok penting, jajan, menangis, jajan, hujan, jajan, taman DPR, jajan, mengantre, jajan, anak jalanan, jajan, lapar, jajan, nge-hedon, jajan, rumpi, jajan, menyimak, jajan, lalu berkontemplasi lagi dan lagi. Mengenang tak perlu banyak bicara.

Cibiru. Ini saya. Kembali sejenak. Sebagai orang asing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s