Rencana

Semua orang lazimnya punya rencana. Meski kadar dan tujuannya beragam, saya selalu salut dengan manusia-manusia jenis ini. Sebagian menjabarkannya dalam bentuk daftar resolusi dan ditempel di dinding kamar. Sebagian lagi dicatatkan dalam buku harian. Ada pula yang cukup menyimpannya di hati, tapi sungguh-sungguh dijalankan langkah menuju akhir rencana.

Salut, sebab mereka orang-orang berani. Meski jalan di masa depan masih gulita, orang yang berencana mencari lentera dengan upayanya sendiri, agar setidaknya ada gambaran tentang sosok mereka di masa depan. Orang yang berani berencana juga tak takut menghadapi kegagalan dan cemooh kala rencana itu gagal.

Sebaliknya, pikiran mereka terus positif mencari jalan lain untuk mencapainya. Terus-menerus berusaha, lantas mereka jadi tak malas melenggang aktif di muka bumi. Mereka tampil berani di antara khalayak yang berjejalan pasrah, berlagak menyerahkan segala urusan di bawah kendali sesuatu yang mereka sebut “Tuhan”.

Tapi bagaimana jika seseorang berjalan di muka bumi tanpa rencana? Ia menggombali Tuhan dengan serangkaian doa minta selamat dan bahagia. Ia mengaku melakukan itu setiap jam setiap waktu, lalu berlagak shaleh dengan menyatakan akan senantiasa berserah diri pada-Nya.

Padahal yang sesungguhnya terjadi ialah, orang-orang jenis ini terlalu terlena dengan kemalasan akan bermimpi dan bercita-cita, pengecut merencanakan suatu kebaikan untuk dirinya sendiri. Ia mengaku menerima segala yang digariskan Tuhan, tapi menggerutu ketika nasib buruk, ketidaknyamanan dan kesedihan menimpa. Lalu ia merengek terus-menerus. Minta dikasihani.

Saya tidak membicarakan siapa-siapa sebab itu adalah saya sendiri. Betapa selama ini saya berjalan tanpa rencana. Seperti berjalan dengan mata tertutup. Ketika perjalanan masih berlangsung hingga hari ini, saya merasa aman di bawah perlindungan-Nya. Ibaratnya begini, saya senang ketika mencium bau wangi yang kerap kali datang sesekali. Ini yang saya sebut “hadiah” dari Tuhan yang Mahabaik. Di mana bahkan ketika saya berkelakuan tanpa rencana, Ia banyak memberi kejutan yang membuat saya tersenyum bahagia lantas bangga akan keberadaan diri.

Tapi dalam perjalanan yang gelap ini, saya juga sering kali berusaha berlari kabur ketika ada bau busuk. Ini maksudnya mewakili kondisi-kondisi tak menyenangkan sehingga membuat saya sesak nafas, terjepit dan ingin segera menghindarinya. Tapi saya tak pernah tahu, segala bau itu berasal dari mana dan kenapa.

Suatu hari dalam upaya pelarian diri ketika mendapati ketidaknyamanan, saya merasa terjebak dan berniat menyerah. Apakah jalan ini harus terus ditempuh? Apakah harus bertahan dan mengubah cara pandang? Apakah harus mencari jalan lain yang belum jelas menjanjikan jaminan kebahagiaan? Dalam kepasrahan yang panjang itu  saya perlahan sadar, segala yang bermasalah bukan berasal dari baunya, melainkan dari organ penciuman saya sendiri yang tak cerdas menangkap segala hal baik dari perjalanan hidup yang beragam.

Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Begitulah para pemuka agama berceramah agar manusia terlindung dari rasa putus asa. Saya memutuskan percaya. Sebagai yang perdana, kali ini saya ingin berani berencana. Bukan karena terpaksa, apalagi karena ingin lari dari sesuatu yang dianggap tidak nyaman.

Saya ingin berencana untuk keluar dari rutinitas yang telah dijalani selama sekitar dua tahun ini. Bukan untuk melarikan diri. Hanya ingin melakukan pergerakan dengan segenap niat baik. Berniat untuk bermeditasi dan memaksa diri untuk belajar lagi. Rencana ini pastinya butuh waktu agar terealisasi. Mungkin tiga bulan ke depan, atau entah kapan. Yang pasti, semoga rencana ini segera di-ACC Tuhan.

Berencana macam begini bukanlah hal mudah bagi orang yang telah lama terbiasa tak berencana. Saya harus siap ketika nanti menemukan jalan gelap dan melelahkan ketika rencana itu benar-benar dijalankan. Ada sejumlah taruhan yang dipasang. Saya juga harus siap dengan ragam pandangan orang yang nanti akan membenarkan dan menyalahkan rencana saya ke depan. Mereka pasti orang-orang yang sangat peduli dengan kehidupan manusia lain.

Sudahlah. Setidaknya saya sudah memulai. Bukankan Dia sendiri yang memerintahkan manusia untuk berdoa dan berupaya menuju perbaikan diri. Maka saya hanya sedang berupaya menjadi hamba yang baik untuk-Nya.

Semoga…
11052016

Berikut ini lagu “Kotoshi No Sakura”-nya Flumpool. Ini lagu sukses jadi soundtrack di keseharian saya belakangan ini. Lagu indah yang  penuh kepasrahan dan harapan. Lirik dan terjemahnya silakan diintip di http://taijiproject.livejournal.com/143177.html

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s