Refleksi Drama M2IQ

Respons setiap orang beragam, ketika ia dihadapkan pada tantangan. Ada yang percaya diri menerimanya, ada yang ragu-ragu tapi dicoba, ada yang mundur perlahan tapi ada pula yang menolak mentah-mentah. Entah saya berdiri di posisi yang mana. Ketika tantangan itu datang, saya hanya berjalan dengan segenap kepasrahan. Tapi sama sekali saya tak takut. Hanya berjalan enggan sambil memejamkan mata. Mungkin sesungguhnya tak sudi melihat kekalahan.

Tidak ada yang menyenangkan dari segala yang berjudul kompetisi. Mengapa harus ada pertandingan kalau akan ada pihak yang menelan kecewa karena kalah tanding. Apa pula yang harus diramaikan dari seorang pemenang yang menerima medali dan piala. Kemenangan bagi kaum sufi malah berpotensi merusak kualitas hati karena mengundang perasaan ingin dipuji.

Tapi beberapa pekan lalu saya berada di sana. Di arena kompetisi dua tahunan bernama Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Kompetisi macam begini berangkat dari keinginan sejumlah ulama yang terpuji. Yakni untuk melestarikan semangat mempelajari dan mencintai Alquran hingga generasi kekinian. Makanya sejumlah cabang pun diusung guna menghasilkan simbol-simbol juara, yakni mereka para penjaga generasi qurani.

Ada cabang qiraatil quran di mana para pembacanya melantunkan ayat Alquran dengan lagu-lagu indah, kaligrafi yang menghasilkan khat dan ukiran ayat tampak indah, tahfiz yang mengundang decak kagum penyaksinya melihat para penghapal Alquran, fahmil quran yakni pengujian pengetahuan peserta akan informasi umum di Alquran dan tafsir quran di mana peserta diuji kualitas intelektualnya menafsirkan pesan Tuhan.

Saya tak hapal lengkapnya ada berapa cabang. Beberapa pekan lalu, tepatnya kawasan Tasikmalaya, 17-23 April 2016 saya pun ada di perhelatan itu sebagai peserta. Tepatnya di cabang paling bungsu MTQ yang bernama Musabaqah Makalah Ilmiah Alquran (M2IQ). Itu kompetisi di mana peserta ditantang untuk membuat makalah ilmiah 10-15 halaman. Makalah mengupas isu-isu kekinian berdasarkan tema yang disodorkan panitia, disambungkan dengan penggalian solusi berdasarkan petunjuk Alquran.

Namun kompetisinya tak sesederhana itu. Sebab peserta harus menyusun makalahnya di arena lomba selama 8-10 jam nonstop. Waktu istirahat, makan dan shalat dilaksanakan berdasarkan kebijakan masing-masing peserta. Selesai tak selesai, ketika batas waktu usai, semua makalah harus dikumpulkan ke panitia.

Arena lomba akan diwarnai keheningan obrolan manusia. Yang ada hanya bunyi “tik tok tik tik tok drag” mesin-mesin tik yang menghasilkan musik tak beraturan. Inilah yang membuatnya unik. Arena M2IQ mencipta keramaian yang klasik tapi hening.

Peserta sibuk dengan ketikan dan tumpukan buku referensi masing-masing. Mengadu jemari dengan tombol huruf mesin yang ditekan. Segala bentuk catatan kecil, rangkuman konsep makalah dan contekan dalam bentuk apapun disita panitia. Peserta harus menyusun ulang naskah dengan modal lembaran kertas kosong yang diberikan panitia, mesin tik dan buku-buku referensi.

Penggunaan mesin tik berdasarkan pertimbangan menjaga originalitas karya. Juri menginginkan ide-ide dan gagasan segar muncul dari peserta tanpa dikotori praktik plagiat. Mesin jadul tersebut juga menantang peserta memiliki kerunutan berpikir dibarengi kewaspadaan ketika menyusun gagasan di makalah berlandaskan referensi akurat.

Tahap demi tahap saya jalani. Sering kali jengkel dengan oknum-oknum yang berseliweran. Ada orang-orang yang datang dengan segenap ambisi, ada pula yang mencari celah bagaimana mendatangkan uang dari momen MTQ dengan cara instan. Bagi saya, ini mengerikan karena mereka betul-betul bernyali besar.

Di momen MTQ, saya punya rasa hormat yang tinggi akan semangat syiar Islam yang damai. Tapi di waktu yang sama, saya melihat orang-orang yang picik bersembunyi di balik keagungan Alquran. Demi prestasi dan nama baik daerah, cara-cara memalukan dilakukan agar dapat medali emas.

Dua tahun lalu, perdana saya ikut MTQ di cabang serupa. Kala itu dapat juara dua. Kala itu saya melihat praktik-praktik-praktik yang membuat hati frustrasi. Kala itu saya mendapati oknum-oknum yang mengaku ingin berdakwah melalui MTQ, tapi malah memanipulasi data. Kala itu mereka mengaku cinta Alquran, tapi menjalankan praktik suap-menyuap demi piala. Kala itu saya bahkan sempat berniat tak mau lagi ikut lomba.

Tapi akhirnya saya memutuskan bertahan. Saya pikir, saya harus menjadi bagian yang menekan dominasi para oknum. Saya ingin ikut meramaikan kelompok orang yang berniat setia berlomba dengan adil seperti yang dicontohkan pendahulu di awal-awal MTQ dirintis.

Meski hanya peserta, seharusnya ada upaya yang disumbangkan. Mengapa harus repot menyerapah dari luar arena, ketika kamu diberi kesempatan untuk jadi bagian perbaikan di dalam arena? Maka dua tahun kemudian, saya memasuki arena itu lagi. Lantas merapat kepada segelintir orang yang bisa dipercaya. Agar sebisa mungkin menjalani lomba sesuai prosedur.

Tidak. Sebenarnya tak semulia itu niat yang saya bawa. Itu hanya niat ideal yang mengawang-awang. Saya hanya bosan dengan rutinitas harian. Ketika di depan ada tawaran yang menantang, kenapa tak disambut. Lagi pula, saya hanya penasaran, bagaimana saya akan sanggup melewatinya? Saya cuma penasaran. Sesederhana itu.

Maka saya kaget, ketika mendapati para peserta MTQ lainnya yang berpartisipasi dengan segenap cita-cita tinggi. Dari mulai mereka yang ingin berdakwah, mencatat prestasi hingga ingin meraih hadiah utama berangkat ke tanah suci. Mereka belajar sangat tekun, fokus, bekerja keras dan beberapa tampak berambisi.

Terhadap orang-orang semacam itu, saya menjaga jarak. Betapa niat saya tampak terlalu dangkal di sini. Padahal orang-orang menggantungkan harapan tinggi agar saya jadi juara satu. Sikap-sikap itu terasa menakutkan dan sempat mengganggu konsentrasi saya kala menjalani lomba.

Mungkin saya seorang yang dibesarkan dengan minim motivasi. Tapi saya memang bukan penggemar fanatik Mario Teguh dan kawan-kawan motivatornya. Saya tak mau usil dengan niat orang lain ber-MTQ, pun terpengaruh dengan tuntutan dan harapan orang-orang asing yang tak berdasar, juga tak mau berendah diri dengan niat sendiri.

Sederhana saja. Saya menyambut kesempatan menyampaikan gagasan lewat tulisan berlandaskan Alquran dengan tangan terbuka. Apalagi hasil karya M2IQ akan dibukukan dan diterbitkan. Tak ada ruginya berbagi ide. Siapa tahu dapat membantu yang lain mempelajari Alquran. Terutama, drama MTQ ini sangat membantu saya untuk mencari solusi atas permasalahan diri sendiri.

Sejumlah teman dekat membantu mencari buku referensi dan sharing gagasan. Kepada mereka, sungguh saya berterima kasih banyak-banyak. Tanpa disulut oleh mereka, saya mungkin tak akan mendapatkan ide yang terasa keren.

Dua tema yang disodorkan panitia untuk M2IQ 2016 yakni tentang Budaya Kerja dan Kesetaraan Jender. Naskah tema Budaya Kerja menjadi modal saya lolos babak penyisihan. Kala itu saya menyoroti soal konsep “Amal soleh” yang disuguhkan Alquran secara konsisten hingga masa kini, di tengah tantangan kemajuan teknologi. Jadilah judulnya: Amal Shaleh, Arahan Paten Alquran di Era Sistem Kerja Serbainstan.

Di babak semi final, tema Kesetaraan Jender saya arahkan ke judul yang spesifik. Yakni “Refleksi Perjuangan Perempuan Setara Mengapresiasi”. Ide ini cukup unik, bermula dari kegamangan saya dan teman atas maraknya kritik untuk perempuan berjilbab ketika mereka mengapresiasi suatu karya seni yang dinilai tidak Islami. Di sisi lain saya memutuskan menjadi “anak baru” yang menggemari sebuah grup band hingga bernafsu untuk menonton konser mereka. Saya penasaran, arahan dari Alquran seperti apa. Semacam sambil menyelam minum air.

Naskah-naskah itu dipersiapkan beberapa pekan sebelum lomba dimulai. Menjadi peserta M2IQ mendorong saya terus berpikir, mencari dan membeli buku referensi, mengonsep naskah dan yang terpenting, saya jadi lebih sering membuka Alquran. Naskah-naskah itu sempat membuat saya sakit kepala dan batuk yang berkepanjangan. Tapi saya senang bisa melewatinya dengan baik-baik saja.

Singkat kata, saya menang dan berpeluang maju mewakili provinsi berlomba di tingkat nasional. Drama MTQ untuk sementara, selesai. Sejumlah ucapan selamat dari keluarga dan sahabat terdekat saya peroleh setelah pamer. Menyenangkan bisa berbagi bahagia dengan mereka. Beberapa hari kemudian, ucapan selamat dari orang-orang asing ikut datang. Terima kasih.

Saya pegang pesan dari sahabat saya agar tidak Jumawa. Lalu hidup terus berlanjut dan kembali normal. Saya harus bekerja dan terus belajar agar selalu bahagia. Agar ketika tantangan selanjutnya datang, kita selalu bersiap tanpa penyesalan.

06052016

***

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s