Ketika “Patriotisme” Menagih Nyawa (Review Film Letter From Iwo Jima)

letters-from-iwo-jima

Bagi kebanyakan masyarakat sipil, sikap patriotik hanyalah abstrak. Ia semacam benda antik yang ditatap penuh bangga tapi sebisa mungkin tak disentuh. Membela negara dan harga diri bangsa sepenuh jiwa raga merupakan hal entah. Tak perlu terlalu jadi soal sebab ada alat negara bernama “Tentara” yang siaga pasang badan, katanya. Masyarakat sipil hanya perlu menghormati mereka yang “disiapkan” untuk tangguh berperang. Sekalipun Tentara kadang berlaku angkuh dan sewenang-wenang di keseharian. Mentang-mentang tegap bersenjata. Sebab Patriotisme dibawa, maka hormat pada tentara terus terpelihara.

Setidaknya begitulah yang tampaknya dirasakan Saigo ketika ia tengah tenteram menjalani kehidupannya bersama istrinya, Hanako di Jepang. Sebagai tukang roti, ia rela meski tentara kerap mengambil roti-roti dagangan seenaknya. Terlebih ketika Jepang terlibat dalam Perang Dunia II. Tentara makin dekat mendekati kalangan sipil. Para patriot tersebut mengambil segalanya untuk kebutuhan keamanan dan perang. Banyak tentara mati di medan perang. Puncaknya pada 1944-1945, rakyat sipil direkrut berperang atas nama patriotisme. Saigo kena jatahnya. Ia harus meninggalkan Hanako dan jabang bayi sebab dikirim bertugas menjadi bagian dari pasukan pertahanan di Pulau Iwo Jima. Ia merupakan pulau yang dianggap paling strategis untuk pertahanan militer Jepang.

Atas nama patriotisme, rakyat dan tentara Jepang berperang. Begitulah setidaknya yang ditampilkan dari film “Letters from Iwo Jima”. Ia tayang perdana di 2006, tapi saya baru menontonnya sepuluh tahun kemudian. Hahaha iya memang telat. Belakangan ini saya tertarik dengan negeri tersebut, disulut oleh keberadaan band kece bernama Flumpool. 😀 Jadi, segala berbau Jepang saat ini terasa begitu menarik. Film peperangan juga menjadi menarik karena keberadaan drama Korea berjudul “Descendant of The Sun”. Orang-orang di sini sedang semangat mengikuti drama yang dibintangi oleh aktor tampan Song Jong Kii tersebut. Kebanyakan mungkin gagal fokus. Hahaha.

Balik ke film, ia diproduksi berdasarkan kisah nyata. Sejarah mencatat dan mendokumentasikan, pernah ada peperangan sengit di seonggok pulau hampa yang luasnya hanya 20 kilometer persegi saja. Kondisinya terbengkalai, berpasir hitam dan dikuasai bebatuan vulkanik saja. Namanya Iwo Jima artinya belerang. Tapi ia menjadi rebutan karena lokasinya yang strategis. Amerika, pihak penyerang, meninginkan penguasaan atas pulau itu sebab posisinya berada di antara Saipan dan Tokyo. Jika dikuasai, tentara Amerika akan mudah dan efektif melakukan penyerangan ke pusat pemerintahan.

Begitulah kemudian film bercerita soal ragam kelakuan para tentara Jepang ketika mereka sejak awal mengetahui akan kalah. Di sanalah Saigo dibawa bersama sejumlah warga sipil lainnya. Menyatu dalam barisan tentara lini bawah. Saigo menggali parit, lalu dimaki, makan dan minum seadanya, lalu dipukul, menggali gua pertahanan di Gunung Suribachi, lalu dihukum membuang kotoran pispot, belajar menggunakan senjata, lalu ketika perang bergejolak berhari-hari, ia harus menyaksikan kematian teman-teman tentara yang miris.

Semua pengalaman itu ia ceritakan pada Hanako lewat surat. Meski, kemungkinan surat itu sampai adalah nol persen. Saigo tak mau cengeng. Jika ia kebanyakan mengeluh, pasti akan sangat mencela patriotisme dan siap-siap kena hukuman. Saigo tak sendirian, kegiatan berkirim surat juga dilakukan oleh tentara lain, juga oleh sang komandan perang, Jendral Kuribayashi. Sosok ini tersebut dalam sejarah sebagai pemberani, pemegang patriotisme tinggi. Di sisi lain, is punya hati lembut dan sangat peduli pada nyawa manusia. Tindakan bunuh diri atas nama kehormatan perang sangat ditentangnya. Karenanya ia juga disebut pengecut hasil didikan Amerika oleh sebagian petinggi.

Armada dan senjata di Iwo Jima minim tanpa dapat bala bantuan. Sebagian menjadi pengecut, sebagian lagi rela mati demi kehormatan. Jendral Kuribayashi berusaha mempertahankan semangat “Banzai” dan menginginkan kekalahan yang bermartabat. Yakni kalah dengan mendapatkan korban dari pihak sekutu sebanyak-banyaknya. Salah satu strategi yang ia jalankan yakni mempertahankan Gunung Suribachi yang terletak di ujung selatan pulau sampai titik darah penghabisan. Di situasi tertekan, Kuribayashi terus menulis sura. Tapi di ambang ajalnya, ia memerintahkan Saigo untuk membakar semuanya agar segala dokumen perang tidak dideteksi musuh.

Korban tewas di pihak Jepang tercatat 21 ribu dan hanya sekitar 200-an yang menjadi tawanan. Sementara dari pihak Amerika tercatat sekitar 6 ribu jiwa. Operasi militer yang diperkirakan selesai dalam waktu lima hari ngaret menjadi 36 hari. Betapa pulau mini tersebut jadi saksi melayangnya sekian jiwa-jiwa atas nama patriotisme. Mengerikan.

Perang selalu menyisakan lara duka. Di dalam film terselip pesan pamer karakter tentara Jepang yang heroik, manusiawi, berani mati dan tentu saja patriotik. Mungkin Tuhan tak membiarkan semua kelakuan di perang Iwo Jima sia-sia. Setelah perang usai, ada saksi sejarah berupa surat-surat yang tak jadi dibakar. Surat yang menjadi harta karun bagi masyarakat Jepang hingga generasi kekinian. Kisah perjuangan akan terus diceritakan sebagai bentuk apresiasi, sekaligus regenerasi.

Terlepas dari perebutan apa yang sedang diributkan penguasa yang ongkang-ongkang kaki di atas sana, tentara yang gugur di Iwo Jima rasanya menganggap bangsa sebagai rumah. Maka kepada apa lagi mereka bangga dan membela, kecuali kepada rumah sendiri. Meski mereka tahu, ketika mati hanya ada apresiasi lewat lagu dan nisan. Kampanye perdamaian hanya gombalan yang tak berkaki. Sebab penguasa selalu bernafsu berekspansi. Bahkan makin ke sini makin busuk. Menyulut perang kembali.

Selamat menonton ….

***

Sumber:

http://perangdunia-2.blogspot.co.id/2013/12/pertempuran-di-iwo-jima.html

https://inspirasinema.wordpress.com/2011/07/11/letters-from-iwo-jima/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s