Berterima Kasih Atas Keberadaan Pak Kasim

 

seoranglelakidiwaimital_5962

Sejenak saya jadi emosional membaca sebuah postingan panjang dari salah seorang senior wartawan RRI via grup Watsapp. Akhir-akhir ini segala pesan yang berseliweran di dunia maya kerap saya abaikan. Semacam jenuh apalagi akhir-akhir ini kebanyakan postingan di grup terasa berisi lelucon yang membuat sampah di otak.

Misalnya lelucon tentang Saipul Jamil, Kalijodo, LGBT dan segala yang berbau seks. Mereka menarik dan berpeluang besar jadi bahan guyon sejak zaman purbakala. Atau barusan ada postingan lomba-lomba jurnalistik dengan hadiah jutaan rupiah. Saya tak paham makna “prestasi” yang diperoleh dari sana.

Ah maaf saya sedang sinis saja sepertinya. Semua orang terkadang butuh obyek untuk ditertawakan, butuh pengakuan atas perjuangan, piala bukti kemampuan diri dan serta hadiah-hadiah yang bernilai. Tidak ada yang salah. Tapi terkadang semua orang juga bisa sinis ngacapruk keterlaluan seperti yang saya lakukan sekarang. Hahaha… let it be… Peace.–kebetulan ketika menuliskan postingan ini, saya sedang memutar lagu “Let It Be”-nya The Beatles. Lagu tentang penerimaan. Lumayan lagu keren ini menetralisir kesinisan diri agar tidak terlalu meluap-luap.

Baiklah, sebelum saya berkoar-koar lebih lanjut, mari sejenak menyimak postingannya:

Screenshot_2016-02-23-22-11-35

***

Copas dr HAE Muda..🙏🏻😊

Inspirasi

Grup HA-IPB tengah membicarakan sosok Pak Kasim Arifin, mahasiswa IPB yang pergi ke Waimital Pulau Seram utk KKN lalu tidak pulang 15 tahun karena membangun daerah itu menjadi kawasan yg lebih makmur. Taufiq Ismail menuliskan puisi buat Kasim, sahabatnya ini (baca kisahnya di bawah setelah puisi). Bagi saya, puisi ini sama kuatnya dan menggetarkan dengan puisi Taufiq Ismail lainnya:

Almamater.

Syair untuk Seorang Petani dari Waimital, Pulau Seram, yang pada hari ini pulang ke Almamaternya

I

Dia mahasiswa tingkat terakhir

ketika di tahun 1964 pergi ke pulau Seram

untuk tugas membina masyarakat tani di sana.

Dia menghilang

15 tahun lamanya.

Orangtuanya di Langsa

memintanya pulang.

IPB memanggilnya

untuk merampungkan studinya,

tapi semua

sia-sia.

II

Dia di Waimital jadi petani

Dia menyemai benih padi

Orang-orang menyemai benih padi

Dia membenamkan pupuk di bumi

Orang-orang membenamkan pupuk di bumi

Dia menggariskan strategi irigasi

Dia menakar klimatologi hujan

Orang-orang menampung curah hujan

Dia membesarkan anak cengkeh

Orang kampung panen raya kebun cengkeh

Dia mengukur cuaca musim kemarau

Orang-orang jadi waspada makna bencana kemarau

Dia meransum gizi sapi Bali

Orang-orang menggemukkan sapi Bali

Dia memasang fondasi tiang lokal sekolah

Orang-orang memasang dinding dan atapnya

Dia mengukir alfabet dan mengamplas angka-angka

Anak desa jadi membaca dan menyerap matematika

Dia merobohkan kolom gaji dan karir birokrasi

Kasim Arifin, di Waimital

Jadi petani.

III

Dia berkaus oblong

Dia bersandal jepit

Dia berjalan kaki

20 kilometer sehari

Sesudah meriksa padi

Dan tata palawija

Sawah dan ladang

Orang-orang desa

Dia melintas hutan

Dia menyeberang sungai

Terasa kelepak elang

Bunyi serangga siang

Sengangar tengah hari

Cericit tikus bumi

Teduh pohonan rimba

Siang makan sagu

Air sungai jernih

Minum dan wudhukmu

Bayang-bayang miring

Siul burung tekukur

Bunga alang-alang

Luka-luka kaki

Angin sore-sore

Mandi gebyar-gebyur

Simak suara azan

Jamaah menggesek bumi

Anak petani diajarnya

Logika dan matematika

Lampu petromaks bergoyang

Angin malam menggoyang

Kasim merebah badan

Di pelupuh bambu

Tidur tidak berkasur.

IV

Dia berdiri memandang ladang-ladang

Yang ditebas dari hutan rimba

Di kakinya terjepit sepasang sandal

Yang dipakainya sepanjang Waimital

Ada bukit-bukit yang dulu lama kering

Awan tergantung di atasnya

Mengacungkan tinju kemarau yang panjang

Ada bukit-bukit yang kini basah

Dengan wana sapuan yang indah

Sepanjang mata memandang

Dan perladangan yang sangat panjang

Kini telah gembur, air pun berpacu-pacu

Dengan sepotong tongkat besar, tiga tahun lamanya

Bersama puluhan transmigran

Ditusuk-tusuknya tanah kering kerontang

Dan air pun berpacu-pacu

Delapan kilometer panjangnya

Tanpa mesin-mesin, tiada anggaran belanja

Mengairi tanah 300 hektar luasnya

Kulihat potret dirimu, Sim, berdiri di situ

Muhammad Kasim Arifin, di sana,

Berdiri memandang ladang-ladang

Yang telah dikupasnya dari hutan rimba

Kini sekawanan sapi Bali mengibas-ngibaskan ekor

Di padang rumput itu

Rumput gajah yang gemuk-gemuk

Sayur-sayuran yang subur-subur

Awan tergantung di atas pulau Seram

Dikepung lautan biru yang amat cantiknya

Dari pulau itu, dia telah pulang

Dia yang dikabarkan hilang

Lima belas tahun lamanya

Di Waimital Kasim mencetak harapan

Di kota kita mencetak keluhan

(Aku jadi ingat masa kita diplonco

Dua puluh dua tahun yang lalu)

Dan kemarin, di tepi kali Ciliwung aku berkaca

Kulihat mukaku yang keruh dan leherku yang berdasi

Kuludahi bayanganku di air itu karena rasa maluku

Ketika aku mengingatmu, Sim

Di Waimital engkau mencetak harapan

Di kota, kami …

Padahal awan yang tergantung di atas Waimital, adalah

Awan yang tergantung di atas kota juga

Kau kini telah pulang

Kami memelukmu.

1979

Catatan: (dari Taufiq Ismail) Bagian IV puisi ini saya bacakan pada hari wisuda Institut Pertanian Bogor di kampus Darmaga, Sabtu, 22 September 1979, sesudah M. Kasim Arifin menerima gelar Insinyur Pertanian. Sebelumnya, Kasim yang sudah 15 tahun dikabarkan hilang, tapi ternyata menanam akar di Waimital enggan memenuhi panggilan Rektor Prof. Dr. Ir. Andi Hakim Nasoetion. Pada kali ketiga kedatangan utusan Rektor, yaitu sahabatnya Saleh Widodo, baru Kasim mau datang ke Bogor. Dia terharu karena penghargaan alma maternya, tapi pada hakekatnya dia tidak memerlukan gelar akademik.

Pada hari wisuda itu Kasim yang berbelas tahun berkaus oblong dan bersandal jepit saja, kegerahan karena mengenakan jas, dasi dan sepatu, hadiah patungan sahabat-sahabatnya.

Mahasiswa-mahasiswa IPB mengerumuninya selalu dan mengaguminya sebagai teladan keikhlasan pengamalan ilmu pertanian di pedesaan.

Berbagai tawaran pekerjaan disampaikan padanya, tapi dia kembali lagi ke desa Waimital sesudah wisuda. Baru sesudah itu dia menerima pekerjaan sebagai dosen di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, di tanah asalnya. Tawaran meninjau pertanian di Amerika Serikat ditolaknya. Ketika ditanya kenapa kesempatan jalan-jalan ke A.S. itu tak diterimanya, sambil tertawa Kasim berkata bahwa pertama-tama jangankan bahasa Inggeris, bahasa Indonesianya saja sudah banyak lupa. Kemudian yang penting lagi, katanya, apa manfaatnya meninjau pertanian di sana, yang berbeda sekali dengan pertanian kita di sini. Kesempatan meninjau sambil liburan tamasya ke A.S. itu tak menarik hatinya.

#Terima kasih bang Ahmad Husein yang telah menulis ulang.

Berdasarkan info yang baru saya dapat, beliau sang tauladan, abangda Muhammad Kasim Arifin telah menghadap Sang Khalik. Semoga surga bagi mu.

Terima kasih

Copas dari status FBnya Prof Khairulrijal… 👍👍

***

Begitulah bunyi postingannya. Semoga kamu-kamu semua membacanya dengan khusuk. Sebagian orang sudah tahu tentang nama dan kisah hidup Bapak Kasim yang fotonya buram dan minim di google, tapi maksimal mengusik gengsi. Sebagian lagi baru tahu (contohnya saya) akan sosoknya dan mungkin ada sebagian lagi yang belum tahu beliau.

Ini dampak dari wawasan yang terlalu sempit, kurang kepo soal keberadaan para aktivis kampus yang kurang publikasi, makanya kisah Bapak Kasim yang bernilai baru saya tahu hari ini. Mungkin di IPB kisah beliau selalu diceritakan turun-temurun dari generasi ke generasi.

Kisahnya telah diapresiasi lewat beragam media massa, syair, blog dan postingan via media sosial. Pun beroleh sertifikat dan piala yang kemudian ia abaikan. Kamu keren, Bapak. Terima kasih telah beraksi. Sebab jelas-jelas tingkahmu mempermalukan manusia-manusia pragmatis macam saya. Yang inginnya serba praktis. Padahal segala perubahan menuju hal-hal baik di negara yang kompleks ini butuh waktu tidak sebentar.

Adakah segala permasalahan pertanian hanya bisa diselesaikan lewat satu judul berita singkat yang cuma numpang lewat di koran atau situs berita. Atau diselesaikan oleh kajian akademik yang njelimet di ruangan bersih ber-AC? Jawabannya, tidak. Meski tetap, rangkaian berita pun konon kabarnya berfungsi sebagai pencatat sejarah, pengawal langkah-langkah manusia dan pemerintah menuju kondisi tertentu sesuai kendali politik yang berkuasa.

Itu sosok Bapak Kasim, ia yang berani tampil beda, membuat langkah untuk negerinya dengan proses yang sabar dan nyata. Bukan dengan bualan-bualan yang termuat dalam rangkaian berita atau analisis panjang soal pertanian dengan serangkaian data dan grafik. Tidak. Yang ia lakukan adalah bertindak total, fokus pada satu titik, mengesampingkan ego diri di tengah segala tuntutan hidup yang serba mainstream: lulus sekolah, dapat kerjaan dengan gaji bagus, dapat jodoh, diakui prestasi dan jasanya, bahagia bersama keluarga, mati, selesai.

Lagu “let it be” yang mula-mula menetralisir kesinisan kini menyempurnakan momen melankolis malam ini. Ah, Pak Kasim sukses membuat saya baper. Terhadap keberadaan bapak kasim. Terima kasih. Kamu selalu hidup untuk dikenang sekaligus menjadi cambuk berkali-kali untuk kami yang tidak sabaran. Meski mungkin kamu tidak peduli apakah akan diapresiasi atau tidak, terima kasih atas keberadaanmu. Segala rahmat Tuhan semoga selalu menaungi bapak beserta keluarga yang ditinggalkan.

Kisah tentang ia juga ditulis sejumlah kawan blogger salah satunya di link berikut ini: http://www.hutan-tersisa.org/2010/01/mengenang-m-kasim-arifin-aktivis.html

Silakan berkunjung.

 

Ket:

Sumber gambar foto Pak Kasim dari http://2.bp.blogspot.com/_qgA-MDa10Yw/TSkBQslMxYI/AAAAAAAAAD8/ZDwKX9KFwl0/s400/seoranglelakidiwaimital_5962.jpg

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s