Lelucon Keyakinan yang Berisiko (Review Buku Saving Fish From Drowning)

 

20160217_133008Pertama kali nemu buku ini di tukang loak sekitar dua tahun lalu. Dijual dengan harga murah di kawasan Bandung. Pada awalnya saya tidak terlalu tertarik dengan judul buku “Saving Fish From Drowning (Penyelamatan yang Sia-Sia) karangan Amy Tan. Disajikan dalam bentuk terjemahan oleh Inggrid Dwijani Nimpoeno.

Tapi membaca sinopsisnya sekilas membuat penasaran. Dugaan awal, ini novel misteri. Boleh lah kapan-kapan dibaca. Begitulah pandangan awal saya. Lantas saya kembali melakukan tindak kriminal kepada ini buku. Dia mendep sekian lama di lemari. Saya terlalu sibuk membaca status bbm, postingan sampah-sampah di media sosial dan “membaca” yang lain-lain. *pengakuan dosa*.

Novel setebal 549 halaman dan diterbitkan Gramedia ini akhirnya disentuh juga baru-baru ini. Tadinya ia hanya menjadi pengusir bosan di sepanjang perjalanan mudik Jakarta-Bandung. Tapi ternyata rangkaian kisahnya membuat candu. Sebab banyak teka-teki yang disajikan di awal cerita. Membuat ingin segera menamatkan baca.

Baiklah, mari dimulai saja.

***

Tokoh utama novel adalah arwah penasaran yang menuturkan keseluruhan kisah di buku ini. Ia merupakan pakar bisnis eceran, pesohor sekaligus anggota Dewan Museum Seni Asia. Namanya Bibi Chen (63 tahun). Ia meninggal dalam keadaan tragis: leher terbelit tali dan benda kecil mirip penggaruk tanah memotong tenggorokan. Anehnya, Bibi Chen pun sedang mencari tahu penyebab dirinya mati.

Bibi Chen seharusnya memimpin perjalanan ekspedisi “Mengikuti Jejak Sang Budha”. Rute perjalanan menelusuri masa lampau tersebut dimulai dari pojok barat daya Cina di Provinsi Yunan, kemudian berlanjut ke Selatan, menuju Burma Road yang termasyhur. Perjalanan melibatkan 12 wisatawan Amerika, lima pria, lima wanita dan dua orang anak-anak serta seekor anak anjing.

Pasca kematian Bibi, para wisatawan tetap berangkat dengan menyewa jasa pemandu tak berpengalaman. Dampaknya, perjalanan mereka beberapa kalo menemui sejumlah kendala karena ketidaktahuan. Bahkan mereka sempat kena kutukan karena melakukan hal terlarang di tengah perjalanan.

Arwah Bibi sebagai penutur cerita tentu saja mengawal mereka, mengomentari banyak hal, menelisik kepribadian dan latar belakang para personel wisatawan, sesekali mengomel sepanjang perjalanan. Semua berharap mereka tidak digerayangi Nat, roh jail dalam takhayul Burma.

Silakan cari bukunya dan dibaca sampai tamat. Nantinya mungkin kamu akan terjangkit rasa penasaran di awal kisah. Penasaran itu terpelihara hingga di bagian pertengahan, dan mendapat kejutan yang agak “yah” di akhir cerita. Sebab kenapa, ternyata semua prasangka menyeramkan itu dijawab dengan lelucon dari salah sangka dan ketidaksengajaan yang tak terencana. Yah, karena ending cerita ternyata jauh dari hal yang disangka.

Misalnya jawaban soal misteri kematian Bibi Chen, atau kutukan untuk para wisatawan karena salah seorang personelnya mengencingi tempat larangan di Gua Kelamin Wanita, atau jawaban dari misteri hilangnya para wisatawan selama hampir sepekan. Tapi jangan khawatir, Bibi Chen dengan piawai merangkai cerita sembari mendalami karakter masing-masing tokoh cerita tanpa membuat pembaca tersesat. Cerdas.

Terlepas dari isi cerita yang menurut saya berakhir “Yah”, dari novel ini saya dapat wawasan tambahan soal kepercayaan umat Budha. Misalnya, tentang para biarawan yang meminta-minta. Bukan karena mereka tidak mau bekerja keras. Itu semua dilakukan agar umat manusia memelihara kebajikannya, dengan memberi pada biarawan.

Pembahasan yang berkaitan dengan judul buku pun disinggung di halaman 195. Ini berkaitan dengan catatan pembuka yang disinggung penulis di awal buku berikut ini:

“Seorang laki-laki yang saleh menjelaskan kepada para pengikutnya, “Mengambil kehidupan itu jahat, dan menyelamatkannya adalah tindakan yang mulia. Setiap hari aku berjanji akan menyelamatkan ratusan kehidupan. Kutebar jalaku di danau dan ratusan ikan pun terjaring. Kutaruh ikan-ikan itu di tepi danau, dan di sana mereka melompat-lompat dan menggeliat. “Jangan takut,” kataku pada ikan-ikan itu. “Aku menyelamatkan kalian supaya tidak tenggelam.” Tak lama kemudian ikan-ikan itu tenang dan berbaring diam. Tapi sayang, aku selalu terlambat. Ikan-ikan itu mati. Dan karena tidak baik untuk membuang apapun, aku membawa ikan-ikan mati itu ke pasar dan kujual dengan harga bagus. Dengan uang itu aku membeli lebih banyak jala supaya bisa menjala lebih banyak ikan”.

– ANONIMUS –

Kutipan panjang di atas membuat saya menarik kesimpulan soal membenarkan suatu keburukan agar kelihatan seperti kebaikan. Ini terdengar mengerikan. Tapi sepertinya persoal baik dan buruk erat kaitannya dengan kesepakatan, dalih, persepsi dan terutama keyakinan. Makanya, mengubah keyakinan seseorang jauh lebih memuaskan dibandingkan mempertunjukkan tipuan-tipuan yang hanya menimbulkan kekaguman sesaat.

Jika orang atau kelompok orang sudah beriman, memegang teguh suatu keyakinan, itu akan menjadi yang paling prioritas dibandingkan makanan atau sikap kemanusiaan universal. Kebajikan adalah harapan. Ia merupakan alasan setiap orang untuk bertahan hidup. Di situasi seperti ini, ada saja orang culas yang memanfaatkannya untuk kepentingannya sendiri. Membuat ia disembah, lalu dia memanfaatkan pengikutnya turut segala “ajaran”.

Hati-hatilah dengan keyakinanmu, sebab boleh jadi ia menjadi lelucon yang kadang berakhir tak menyenangkan. Kadang juga ia bisa menggiringmu untuk membuat orang menderita tanpa kamu sengaja. Tapi juga jangan sampai tak punya keyakinan. Nanti kamu bisa mati terombang-ambing. Tak punya tempat bernaung apalagi tempat pulang. Entahlah.

Lewat novel ini, saja juga jadi banyak kepo soal sejarah Myanmar yang dulunya bernama Burma. Rupanya di masa lampau, bahkan hingga kini, masih terjadi perebutan kekuasaan antara pihak militer dan kalangan sipil yang mengaku pejuang demokrasi. Nama Myanmar kabarnya tak direstui. Tapi militer punya kendali sehingga kamu hanya bisa bengong menerima atau mau melawan dan mati.

Entah pihak mana yang lebih mulia, setiap perebutan kekuasaan pasti menelurkan derita buat orang kecil. Suku Karen, misalnya. Mereka penduduk asli Burma yang kemudian hidup terkatung-katung dan dianggap pemberontak. Sebagian dikabarkan kena pembantaian militer, sebagian disiksa, sebagian lagi berhasil selamat karena mengungsi atau bersembunyi di hutan-hutan. Berharap perlindungan pada entah.

Penderitaan juga menimpa Etnis Rohingya. Kelompok ini tersiksa, terusir dari tanahnya sendiri, mengungsi tapi ditolak di mana-mana. Tujuan mengungsi termasuk ke Indonesia. Untungnya Nelayan Aceh kita baik hati dan mau menampung sesama Muslim. Ada orang bilang, pengungsi Rohingya menyusahkan. Ini pernyataan menyebalkan di tengah kita yang masih sok-sok merayakan Valentin. Katanya merayakan hari kasih sayang, tapi warga dunia masih membiarkan ada kelompok manusia yang hidup terkatung-katung.

Sementara perebutan kekuasaan terus bergulir. Yang terbaru, pencarian di Google memberi tahu kalau sekarang ini kekuasaan militer bisa diimbangi sipil tampuk kekuasaan Myanmar. Itu karena mereka baru saja melakukan pemilihan umum dan kalangan oposisi yang dipimpin Aung San Suu Kyi menang.

Wanita yang dikenal sebagai pejuang demokrasi tersebut sedang diagendakan menjadi presiden baru Myanmar, namun terkendala undang-undang. Pasalnya, ia punya anak-anak dengan status kewarganegaraan asing. Tapi lah, kalau dukungan mayoritas sudah dipegang, apapun bisa menjadi lancar jaya. Tinggal tunggu tanggal mainnya.

Wallahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s