Siapa Mau Mati di Aokigahara? (Review Film The Forest-2016)

Sebelumnya saya tidak pernah berpikir ada tempat kesukaan orang untuk mati bunuh diri. Tempat favorit biasanya identik dengan kegiatan yang sarat dengan keseharian, atau ia dipikir menyenangkan oleh kebanyakan manusia. Ketika ada tempat favorit berlibur, makan, outbound, atau nongkrong, rupanya ada juga tempat favorit orang bunuh diri.

Kabarnya, tempat tersebut adalah hutan bernama Aokigahara. Terletak di kaki Gunung Fuji di Jepang. Ini hutan baru saya tahu pasca nonton film “The Forest”. Ia bercerita soal sepasang kembar identik, Sara dan Jess (dibintangi oleh Natalie Dormer) yang punya masa kelam terkait kematian orang tua mereka di masa kecil. Setelah dewasa, mereka hidup terpisah. Jess yang tinggal di Jepang tiba-tiba menghilang di Hutan Aokigahara dan diduga telah mati bunuh diri. Sara tak percaya dengan kabar kematian tersebut kemudian bertekad mencari sang adik.

Selanjutnya, cerita film memamerkan keindahan Hutan Aokigahara yang mistis lengkap dengan gelimpangan mayat yang menggantung diri. Ini hutan memang sangat lebat dan perawan. Di tengah segala yang horor, saya pikir orang Jepang cerdas betul mempromosikan wilayah pariwisatanya. Termasuk lewat film sepaket dengan kisah mistisnya. Membuat saya yang sejatinya apatis, jadi penasaran juga browsing tentang Aokigahara. Kapan-kapan, jika ada kesempatan umur dan uang, saya bahkan tertarik datang ke sana.

Semoga bukan untuk bunuh diri.

Yap. Aokigahara rupanya sudah terkenal sejak lama. Ia lekat dengan cerita rakyat setempat. Katanya zaman dahulu kala, orang-orang miskin membunuh anak-anak dan orang renta ke hutan itu. Dari pada tak bisa memberi makan, lebih baik mati saja di sana. Begitulah kira-kira. Lantas tempat itu jadi sarang arwah yang marah. Mereka siap mengajak kamu ikutan mati lewat jalan ketakutan.

Ada juga novel yang berisi kisah-kisah bunuh diri berikut setan-setan yang menghuni Aokigahara. Istilah mereka yakni Yūrei atau roh amarah. Entah wujudnya seperti apa, tapi mereka punya kuasa menuntun pengunjung bunuh diri. Kekuatannya bisa berlipat ganda ketika seseorang datang dengan segenap kesedihan dan keputusasaan.

Bunuh diri.

Menurut ajaran agama, juga kata masyarakat yang mengaku punya moral dan hukum, bunuh diri dengan cara apapun, adalah tindakan yang tercela. Ia menunjukkan keputusasaan akan amanah ruh yang dititip jasad dan kehidupan dari Tuhan. Bagi saya, perbuatan itu semacam tindakan berani tanpa ancang-ancang. Pelaku bunuh diri mungkin terlampau lelah tinggal di dunia. Atau ia tidak meyakini ada perjalanan selanjutnya setelah melalui gerbang kematian, yang sarat pertanggungjawaban. Entahlah.

Hidup memang tidak melulu terasa menyenangkan. Apalagi jika seseorang menyimpan kenangan yang menyedihkan di masa lalu sehingga mengusik kehidupannya di masa kini. Itu berpotensi bergerak menggerogoti jiwamu, bahkan bisa jadi modal besar Yūrei untuk menuntun orang kepada praktik bunuh diri. Sederhananya, bisik Yūrei, buat apa hidup jika hanya menanggung sengsara.

Maraknya kasus bunuh diri berikut keberadaan setan-setan di Aokigahara masih menjadi misteri. Tapi yang bikin saya angkat topi, alam punya kuasa untuk melindungi dirinya sendiri. Salah satunya ditunjukkan hutan tersebut. Kalau mau ditilik dari logika, salah seorang teman menjelaskan. Hutan merupakan tempat memproduksi oksigen di siang hari, dan karbon dioksida di malam hari. Ketika malam, apalagi jika hutannya lebat, kamu bisa-bisa tercekik karena kebanyakan menghirup karbon dioksida.

Di hutan juga udaranya dingin. Ketika di titik dingin tertentu, tubuh yang tidak tahan akan gelisah dan lupa diri. Istilahnya saya tidak hapal. Tapi secara kedokteran, ini bisa dijelaskan. Tapi kenapa marakpraktik bunuh diri di Aokigahara. Mungkin karena trend. Begitu terkenalnya hutan ini sebagai tempat favorit bunuh diri, maka semua orang yang ingin mengakhiri hidupnya secara mandiri pun terinspirasi untuk menggantung diri di antara pohon di Aokigahara.

Entahlah…

Soal suara-suara aneh yang suka terdengar di hutan ada lagi penjelasannya. Ia bisa jadi berasal dari tumbuhan yang tergesek angin, suara hewan dan serangga di kegelapan, atau suara yang datang dibawa angin. Maksudnya, angin itu mengalir dari dataran rendah ke dataran tinggi. Ia juga berjalan dari suhu bertekanan tinggi ke tempat bertekanan rendah. Gunung ada di dataran tinggi dan bertekanan rendah. Jadilah ia–meminjam istilah teman–menjadi “perekam” segala suara dari perkotaan. Kadang terdengar blur, kadang terdengar jelas dan mencekam.

Maka sangat penting kamu merendahkan diri ketika melakukan perjalanan di hutan. Pasrah pada Alam dan Tuhan adalah cara terbaik meski sudah membawa bekal strategi bertahan hidup. Mungkin dalam perjalanan itu, kamu mengalami situasi tak terduga yang tak terbayangkan logika. Misalnya kesurupan, bertemu orang asing yang menuntun sepanjang jalan, kesasar atau bertemu macan yang diduga jelmaan Prabu Siliwangi. Itu semua harus kamu hadapi, tetap dengan segenap kerendahan hati diiringi doa kepada sang maha Tinggi.

Ketika perjalanan itu berlangsung, mungkin kamu juga akan mengalami hal buruk seperti yang dialami Sara ketika mencari Jess di Hutan Aokigahara. Ia dibayang-bayangi ketakutan masa lalu yang justru menuntunnya kepada kematian yang tak dia sadari.

Memang kenapa dengan masa lalu? Sebagaimana kata Sherlock Holmes kepada Watson, “Kita semua punya masa lalu, Hantu. Mereka adalah bayangan yang menegaskan setiap hari cerah kita”. Jadi, memangnya kenapa jika kamu merasa punya masa lalu yang kelam atau menyedihkan. Memangnya kenapa jika kamu dihantui. Terima saja. Keberadaannya tak perlu ditolak karena hanya akan membuatmu lelah sampai mati, sebagaimana dialami Sara. Terhadap masa lalu, anggap ia variasi hidup.

Menutup tulisan ini, saya secara sepihak ingin mendaulat sosok Oom Holmes Versi Benedict Cumberbatch untuk jadi salah satu instrumen pengusir “Hantu”. Tuhan, kenapa bisa ada jelmaan kelewat keren macam dia?!

images (7)

Sumber gambar dari:

https://encrypted-tbn3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQaxEQ1AA8iG7oxVrNhQijWCKeNy93Hu-IceqjbX0wOK-yGeyj-vEEjWEq6iA

 

 

 

 

Satu respons untuk “Siapa Mau Mati di Aokigahara? (Review Film The Forest-2016)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s