Kala Bom Meledak (Lagi) di Jakarta

 

Bagaimana jika, ketika Anda sedang duduk manis sambil main gadget, “Bang!!!” Ada bom membuat ledakan besar. Kemungkinan terburuk, Anda langsung mati dengan tubuh hancur. Kemungkinan kedua, Anda mengalami cacat dan luka jiwa raga, karena toh ledakan menimbulkan kekagetan luar biasa. Jika jasad Anda tak terkena bom, bayangkan jika anggota keluarga Anda, atau teman, kenala, atau manusia lain yang berada di posisi tersebut. Anda harus menanggung kesedihan, atau setidaknya miris karenanya.

 

Kamis (14/1) siang, sekitar pukul 11.00 WIB, bom meledak di pos polisi kawasan Sarinah, Thamrin, Jakarta. Setelah sekian lama Jakarta damai sentosa, kejadian ini membuat gegar dunia nyata dan maya. Kejadian teror pun makin bergoyang tralala dengan cerita soal pelaku bom dan penembak yang masih berkeliaran.

 

Semua memantau, kaget, panik, prihatin, saling menanyakan kabar, saling khawatir, mencari tahu lebih lanjut, mencari sisi-sisi lain kejadian. Kemana pula intel, mereka yang paling disalahkan sebab kebobolan. Segala komentar dan spekulasi ikut nimbrung. Apalagi, media sosial memfasilitasi. Mengikuti segala komentar itu berpotensi membuat kamu muntah.

 

Belum lagi media massa. Dari kejadian ini, mereka berlomba-lomba agar juara menarik pembaca dan pemirsa. Semoga tetap menjaga keakuratan dan etika, pun tak memperparah kepanikan. Jadilah, ledakan di Thamrin berikut kejar-kejaran dan pemenbakan itu berlanjut ke ledakan opini yang berseliweran di masyarakat.

 

Teror. Keberadaannya berguna untuk meramaikan dunia. Pelakunya mungkin tahu, ia akan dikecam, dikutuk dan dihukum karena membangkitkan ketakutan massa, atau yang terfatal, menjadi penyebab nyawa seseorang atau sejumlah orang melayang. Teroris itu, jika mereka bukan penderita kelainan jiwa, pasti mereka para pemberani yang memegang kebenarannya sendiri.

 

Nantinya, para awak media, detektif, intel, polisi dan analisis akan repot-repot menyelidiki segala tentang teroris. Mungkin kemudian ada kaitan sambung-menyambung dengan sindikat atau organisasi tertentu, lalu dikaitkan lagi dengan keyakinan agama dan misi-misi lainnya. Begitulah teror. Satu kejadian awal yang harus dilanjutkan. Bagaimanapun, pelaku penjahat kemanusiaan harus ditindak.

 

Setelah segala yang terjadi, bisakah kita semua tidak ikut-ikutan menjadi teroris? Caranya sederhana. Yakni dengan tidak ikut menebar ketakutan kepada jutaan orang. Kita mampu melakukannya tanpa modal mengingat keberadaan kita sebagai warga dunia maya.

 

Biarlah jika yang lain seenaknya menyebarkan foto korban yang kena ledakan, biarkan media massa yang menyebarkan issu eror bom lanjutan di kawasan lain. Biarkan mereka. Abaikan mereka. Agar kepanikan ini tak makin parah berimbas pada hal-hal buruk lainnya.

 

Lebih baik berkaca diri. Banyak hal bisa membuatmu mati. Bukan hanya karena bom. Kamu mungkin bisa mati karena ditabrak mobil, diracuni ketika minum kopi, atau karena digigit nyamuk dan tertiup angin. Mati adalah keniscayaan yang datangnya tanpa permisi. Ketimbang bangga menyebarkan ketakutan, lebih baik menyiapkan diri agar kita semua bisa tersenyum ketika mati.

 

soniafitri-14012015

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s