Tik Tok Tik Tok

Tik tok tik tok

 

Anggaplah ini ilustrasi bunyi jarum detik jam yang berputar. Ia menjadi salah satu penegas Paman Waktu yang terus berjalan maju tanpa lelah. Dari zaman batu hingga era modern masa kini, ia konsisten dengan keangkuhan sebab tak pernah menoleh ke belakang. Enggan berhenti untuk sekadar minum air mineral. Paman Waktu ditakdirkan jadi makhluk sakti. Ia belum diminta berhenti, setidaknya hingga detik ini.

 

Tik tok tik tok

 

Kesetiaan Paman Waktu akan kelakuannya sendiri membuat manusia membuat beragam perhitungan waktu. Ia dirumuskan, dicatatkan, dipatenkan. Lantas menjadi tolak ukur beragam pencapaian. Satu hari 24 jam, satu jam 60 menit, satu menit 60 detik, satu bulan 30 hari, satu tahun 12 bulan,dan seterusnya dan selanjutnya. Paman Waktu kemudian didaulat sebagai pemandu dari banyak tujuan tertentu. Karenanya ia terkadang terasa memburu, lalu sejenak menjadi terasa beku. Perasaan-perasaan yang menipu. Sebab Paman Waktu terus berlalu.

 

Tik tok tik tok

 

Lantas waktu menginjak di malam ini. Ciee … kamu-kamu pasti sedang kompak menghitungi pergerakan Paman Waktu. Kabarnya hari ini istimewa karena menjadi hari di mana tahun berganti. Dari 2015 ke 2016. Hayo ngaku! Kamu menghitung waktu di malam ini dengan beragam perasaan dan kegiatan. Ada yang berdebar-debar, ada yang bersuka cita, ada yang kesepian, atau mungkin ada yang tengah dirundung duka, tapi kebanyakan biasa-biasa saja, sebenarnya. Segala perasaan itu, mana saya tahu, mana saya peduli. Yang jelas, pasti kebanyakan dari kamu menggantungkan segala harapan. Agar menjadi lebih baik di tahun depan.

 

Tik tok tik tok

 

Kenapa malam ini kamu menggantungkan banyak harapan? Karena keadaan menggiringmu melakukan itu setiap tahun. Seperti kehilangan kreativitas, lihatlah acara televisi, organisasi masyarakat, media massa, komunitas, atau di lingkup tersederhana bernama keluarga. Sibuk mencari momentum. Semua kompak membuat acara istimewa khusus tahun baru yang itu itu saja. Panggung musik, komedi, drama musikal, bakar daging, makan-makan. Lihat itu di tangan kamu ada terompet dan petasan. Laluilah malam tahun baru dengan meriah dan suka cita. Jangan lupa datangi pusat perbelanjaan. Ada diskon gila-gilaan. Harga baju, kulkas dan sendal jepit seolah-olah murah meriah.

 

Tik tok tik tok

 

Ada juga perhelatan berbau ukhrowi di mana tampil rangkaian acara pertobatan massal. Waktu yang telah berlalu baiknya ditelaah. Yang jelek-jelek jangan sampai diulangi di tahun depan. Ia tergelat dalam dzikir akbar, tausiyah, mabit akbar, dan segala-gala yang akbar. Kedua gaya perayaan tahun baru itu punya banyak kesamaan. Keduanya merupakan momen perputaran modal akbar. Gejala positif bagi perbaikan ekonomi nasional. Perhelatan yang disusupi perangkat komersial yang tak perlu diusilkan, sih. Orang kaya silakan kipas-kipas uang akhir tahun.

 

Tik tok tik tok

 

Kamu kamu jangan iri sama malam tahun baru saya. Karena, seperti tahun-tahun sebelumnya, selalu istimewa. Terlebih hari ini berada di tengah-tengah keluarga. Di kampung halaman yang serba damai. Tanpa harus diistimewakan dengan cara “diacarakan”, kita berbahagia nonton stand up comedy bareng di TV. Emak dan kakak-kakak sudah tidur lebih dulu. Ota, adik bungsu, serius main game di komputer. Ujang mengantre, menunggu Ota game over agar dia bisa dapat giliran main. Akan panjang kalau saya ceritakan detil–ga penting juga. Yang jelas, kegiatan ini bukannya dilakukan karena ada malam tahun baru. Ini kegiatan biasa-biasa saja yang bisa dilakukan kapan saja. Keluarga saya tidak mainstream, makanya istimewa. 😀

 

Tik tok tik tok

 

Sesuatu bernama “Tahun Baru”, rayakan saja. Berlaku mainstream tak memalukan. Makanya, agar sedikit seperti orang-orang, saya sengaja memaksakan diri ngeblog di malam pergantian tahun. Tak pula jadi berdosa, ketika di akhir catatan terucap “Selamat Tahun Baru Masehi 2016”. Semoga segala hal baik selalu menyertai perjalanan semua kita. Momentum yang menyenangkan dibarengi pertobatan massal tak perlu disikapi sinis. Manfaatkan saja hal-hal tersebut sebagai penegasan rasa syukur. Mengapresiasi hidup. Bukankah sudah seharusnya kita melakukannya setiap waktu? #Saya mah omdo orangnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s