Surat untuk Sayangku (bagian I)  

Sayangku …

 

Mari merapat ke sebelah sini. Pasti kamu sudah lama kedinginan, sendirian. Tak tertarik kah kamu dengan segala rayu yang kulontarkan? Adakah selama ini kamu tak menghargai segala perhatian yang kugelontorkan. Aku selama ini berjuang untuk meraihmu, agar berdiri di sisiku. Hingga di ambang lelah hari ini. Tapi kakimu terpaku di sebelah sana. Aku harus bagaimana.

 

Cintaku …

 

Kamu tidak akan pernah punya siapa-siapa, jika hanya berdiam diri di persimpangan. Berlagak seolah wasit yang mengawal peperangan antara aku dan dia. Tanpa sikap yang pasti, kamu seenaknya datang dan pergi. Sesekali kamu menghampiriku, tersenyum manja bahkan membalas perhatian yang datang. Tapi keesokan harinya kamu berpaling padanya, lantas berlaku sebagaimana kamu lakukan kemarin kepadaku, kepadanya. Ketika itu terjadi, aku kau cibir, kau tampar, kau hinakan. Tapi bodohnya, kami tetap berperang untuk memperebutkanmu.

 

Manisku …

 

Kata orang, hidup harus memilih dari sekian banyak alternatif yang tersedia. Setelah itu kamu bisa berfokus menetapkan tujuan, cita-cita dan banyak agenda untuk mensyukuri hidup. Semua orang memilih, dan jika kamu terus begini, kamu tak akan punya teman selamanya. Semua berjalan di atas kepentingannya masing-masing. Semua jelas, hanya kamu yang mengawang-awang.

 

Mengapa kamu berlagak serakah? Sesekali mengintip ke sebelahku, lain waktu menelisik ke sebelahnya. Bukankah pernah ku jelaskan sebelumnya, aku di sini hanya berbisnis. Sama dengan dia yang juga berdagang. Persaingan bisnis di antara kami wajar-wajar saja. Maka adanya peperangan ini pun menjadi kewajaran. Semua pebisnis melakukan itu agar dagangannya paling laku, paling diminati konsumen.

 

Memang kenapa kalau aku sesekali mengatasnamakan rakyat jelata dalam serangkaian promosi. Toh mereka tak berkeberatan. Damai-damai saja tinggal di kolong jembatan. Pun ketika saya berupaya menjatuhkan bisnis dia. Itu pun wajar karena dia pun melakukan hal yang sama. Bisnis adalah peperangan yang wajar. Siapa kuat dia yang menang.

 

Lalu di peperangan ini kamu belagak jadi wasit. Enggan berpihak karena menilai diriku dan dirinya punya sisi gelapyang tak bisa diterima? Kedengarannya mulia membela rakyat jelata. Pasti kamu bakal dapat jatah surga dari Tuhan. Tapi kamu tak akan dapat keuntungan apa-apa dari sisiku dan sisinya. Pengusaha penguasa dunia.

 

Pujaan hatiku …

 

Kamu sesekali bilang “tidak” sekaligus “ya” untuk saya, pun mengatakan “setuju” dan “tidak setuju” pada dia. Apa sebenarnya maumu? Jika kamu mau keadilan dan damai, pergilah ke gunung atau pantai. Di sana, hanya benda mati yang memberi keadilan hampa. Bertapalah hingga wahyu mendatangimu. Bukan di sini. Peperangan ini tak perlu wasit. Atau mungkin kamu rela jadi samsak di tengah ring tinju.

 

Untuk kesekian kalinya, tak lelah aku memberi penawaran ini. Kamu bisa saja tetap berdiri di tengah-tengah. Hanya perlu mundur sedikit, agar tak masuk areal perang. Di posisi itu, kamu bisa jadi seniman. Kamu bisa beroleh kepentingan dengan menyanyi, melukis atau menulis cerita fiksi. Keberadaanmu jadi berguna untuk aku dan dia, menghibur pascalelah berperang seharian. Mimpi-mimpimu yang serba ideal bisa dituangkan dalam karya seni. Mungkin bisa jadi sebait lirik puisi, lagu, cerpen, lukisan, atau apalah. Jika kami senang, ada banyak gelontoran rupiah dan segala fasilitas nyaman buatmu.

 

Nanti kamu bisa pelesiran, kamu bisa menikmati keindahan alam yang memang murni buatan Tuhan, pun yang kami–para pemilik modal–buat, sebagai sarana bisnis lanjutan. Kamu juga bisa makan enak, dapat kehormatan berupa piala dan sertifikat dari rangkaian penghargaan yang kami buat.

 

Sini, kemarilah cintaku, datang ke pelukanku.

 

Terimalah, bahwa aku tak benar-benar menyayangimu. Aku bahkan bisa berhenti pura-pura mencintaimu, jika kamu terus berlagak berkepala batu. Jika itu terjadi, satu detik lagi aku bisa saja mengantarkan ruh mu ke surga. Biar. Biarkan kami berperang tanpa wasit. Biar. Biarkan nanti kami sematkan namamu dalam deretan nama pahlawan yang wajib dikenang. Setidaknya emak bapakmu akan senang.

 

Sonia Fitri 12122015

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s