Suatu Pagi, di Kawasan Properti “Surga”

Sembari mendengarkan lagu Everybody’s Changing-nya Keane, saya berusaha menetralisir serapah dalam hati ketika menelusuri jalan di salah satu kawasan elit Kemang, Jakarta, tadi pagi. Kejengkelan pertama, sebab saya harus berjalan kaki lumayan jauh untuk menuju lokasi acara. Motor dan kendaraan umum tidak diperkenankan melintas dong. Wong ini kawasan elit, hanya mobil pribadi yang boleh ditumpangi. Tentu oleh masing-masing pemiliknya. Pagi itu ceritanya ada acara konferensi pers proyek raksasa baru si perusahaan properti pemilik ini kawasan, kerja sama dengan investor Jepang. Kejengkelan kedua, sebab sejumlah satpam yang saya tanya tidak tahu lokasinya. Malah mereka bikin saya agak kesasar, meski pada akhirnya sampai juga. Hmm.. profesi ini membuat saya makin gak sabaran di segala situasi.

Syukurlah, akhirnya saya sampai juga di lokasi tanpa telat. Konferensi pers dimulai dengan presentasi investor Jepang, membahas interior dan eksterior proyek kondominium raksasa yang kabarnya siap diluncurkan akhir tahun ini. Mendengar serangkaian presentasi, disertai contoh gambar-gambar, hadirin terpesona. Ini kawasan memang semacam hunian surga. Semua fasilitas serba ada. Bagi Anda penghuni kawasan ini, dijanjikan jaminan ketenteraman, kemewahan dan jaminan privasi berteknologi tinggi.

Saya langsung membayangkan adegan salah satu drama korea populer. Pemeran utama pria merupakan putra mahkota kerajaan bisnis apalah, lalu dia memamerkan kekayaannya itu kepada kekasihnya yang miskin. Kemewahan tersebut berupa fasilitas helikopter sehingga kamu bisa pergi ke mana saja, mengakses apa saja tanpa harus menyapa macet jalanan. Di dalam helikopter yang mengudara itu, kamu bisa melihat bangunan properti mewah berkilauan yang tingginya menjulang mencubit kulit langit, dengan desain amazing yang sarat detail cantik. Kamu juga bisa mendapat tempat liburan di pulau pinggir pantai yang perawan dan eksklusif.

Beragam kemewahan hunian serupa juga telah banyak ditampilkan di berbagai tayangan film hollywood yang sempat saya tonton. Dan itu semua nyata, kawan. Di tengah kita yang setiap hari berkutat dengan macet, panas matahari dan segala macam antre, ada segelintir orang yang punya dunia sendiri, punya surga huniannya sendiri, di kawasan terintegrasi punya mereka sendiri. Segelintir orang itu ialah kalangan yang disebut “menengah-atas”. Mereka yang punya dompet tebal, penuh kartu-kartu pengakses uang miliaran.

Merekalah kalangan yang sanggup membeli kemewahan ini. Dengan uang segepok, mereka bisa tinggal dengan nyaman di kawasan 37 in 1. Maksudnya, di satu kawasan mereka dapat mengakses banyak fasilitas pribadi maupun publik semisal tempat olahraga, kolam renang, rumah sakit, hotel, restoran, helikopter, jalan tol, sekolah dan segala-galanya. Membuat kalangan menengah ke bawah terpana. Sebagian lagi bermimpi untuk bisa merasakan fasilitas serupa di sisa hidupnya yang sengsara.

Menyadari situasi ini, saya bergidik. Kemewahan hunian yang harganya selangit itu nyatanya ramai peminat. Siapa tak mau hidup nyaman dan membanggakan secara finansial. Ah, jika pun saya dijejali uang, saya rasanya tak akan tergiur untuk membeli satu unit apartemen di sini. Alasannya jelas, karena saya sudah terbiasa tinggal di tempat yang kata orang kaya itu “prihatin”. Tanpa pendingin ruangan dan kelengkapan fasilitas harian. Saya juga sedang berlagak jadi sosialis yang pandai berkoar-koar. Hmm… Saya tidak berminat, karena, juga telah terbiasa mencari makanan dan barang-barang dengan harga murah, wkwkwk, pun menempuh jalanan umum Jakarta yang hobi mengundang kejengkelan.

Tapi saya juga jeri membayangkan jika saya menjadi kalangan menengah ke atas itu. Saya tidak sudi membayar jutaan rupiah untuk hunian mewah pribadi, ketika di luar sana banyak orang masih kedinginan tidur di bawah kolong jembatan, bingung mau membeli sepatu untuk sekolah, atau tercekik karena bekerja di ibu kota tapi gaji hanya 750 ribu per bulan dan kerap telat. Ketika terlena terhadap suatu kekayaan yang berlebihan, saya mungkin tidak akan terlalu peduli sekitar, realita masih ada orang-orang yang harus bekerja keras cari makan. Saya juga akan dipastikan terhindar dari terpaan para pengamen, pedagang kaki lima dan anak-anak jalanan yang punya beragam cerita hidup yang unik.

Tapi ini bukan berarti orang-orang kaya itu tak menyadari ada saudara lain di luar kawasan megah yang mereka huni, tengah kelaparan dan kesusahan. Mereka mungkin tahu. Mereka mungkin punya cara yang saya tidak tahu, karena bukan bagian dari dunia mereka saat ini. Merek pastinya juga membaca koran dan berita di televisi. Di tengah kesibukan mereka berbisnis dan mencari hal detail untuk kenyamanan pribadi, mereka pastinya tahu kesenjangan ekonomi Indonesia makin nyata. Ketika mereka sudah ke tahap peduli memikirkan bagaimana penjagaan tradisi dibalut sentuhan modern untuk desain properti, mereka juga seharusnya lebih pintar menunjukkan rasa peduli, atau sudi membantu orang miskin secara nyata tanpa dibarengi pamer apalagi sombong diri. Mereka seharusnya bisa melakukan itu, dengan dukungan finansial yang serba ajeg.

Sekian

05112015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s