Abang Tukang Intip

CartoonCamera_1446069950540

Abang curang. Sebab selalu bergerak mengendap-endap sepanjang hari. Menyelidiki Hayati dalam sunyi melalui layar mini ponsel pintar yang cahayanya benderang. Semacam rutinitas, setiap pagi Abang mengintip segala apa yang dipamerkan Hayati di dinding facebook. Itu dinding maya tempat Hayati dan warga facebook lainnya bisa coret-coret apa saja. Mendongeng, berpuisi, berdoa, menyerapah, cari perhatian, narsis, dan segala hal sesuai gerak hati yang diteruskan oleh gerak jemari di papan ketik layar ponsel.

Pagi ini Hayati bilang salam “selamat pagi” dari sebelah sana. Itu kemungkinan dia sedang berada di kosannya yang sederhana. Sapa itu dibarengi foto Hayati yang unyu tengah tersenyum sambil makan potongan mini semangka. Kerudungnya merah. Bibirnya juga merah gincu. Semerah warna buah semangka. Kamu lagi-lagi tersenyum-senyum sendiri mengintip Hayati di layar hape. “Cantiknya Hayati kesayangan Abang,” kata Abang kemudian.

“Abang kayak ga ada kerjaan laen aja,” kataku menyela. Mengganggu keasyikannya.

“Berisik anak kecil, sana bantu Emak masak di dapur, siapin sarapan,” katamu sambil pasang muka menyebalkan.

Lantas ia kembali memusatkan fokus ke layar ponsel pintar. Kabel charger yang panjangnya cuma dua jengkal itu membelenggunya agar terus merapat di dekat colokan listrik. Jadilah ia semacam anjing yang tak bisa beranjak ke mana-mana karena diikat di dekat tiang. Abang harus terus online. Tak boleh sedetik pun ia ketinggalan apdetnya Hayati. Dia harus jadi orang pertama yang tahu, yang membubuhkan “like” di bawah rangkaian posting Hayati, pun jadi yang pertama memberi komentar. Abang sudah terampil mencari perhatian Hayati di dunia maya.

Situasi makin parah sebab Hayati berpwran semacam wartawan untuk dirinya sendiri. Menurut cerita Abang, Hayati bisa apdet 19 kali sehari. Dari mulai mengucapkan selamat pagi di pagi hari, lanjut posting perasaan dan kegiatannya sepanjang hari, ditutup dengan “selamat malam” menjelang bobok.

Karena keranjingan ngintipin Hayati, Si Abang jadi mahir berekspresi secara ajaib. Dia bisa ketawa sambil guling-guling di lantai, bisa marah sampe mukanya merah dan mengeluarkan asap, bisa mengubah muka jadi hijau dengan bibir keriting tanda sakit, bisa juga mencium sampai mengeluarkan lambang hati juga ekspresi lainnya. Dia juga bisa memunculkan beragam binatang lucu dan isyarat jemari berwarna-warni. Semua praktik itu mahir ia terapkan secara pas di layar ponsel, ketika berkomunikasi dalam jaringan dengan teman-teman maya. Si Abang jadi pengintip super ajaib.

Bukan cuma Hayati yang jadi korban intip Si Abang. Segala hal yang jadi fokus Hayati harus pula jadi fokusnya. Pun segala hal yang bersinggungan dengan Hayati harus diketahuinya. Maka itu, ia berteman maya dengan semua teman dekat Hayati. Ia juga mencari tahu soal mereka. Tujuannya satu. Agar tahu apa dan bagaimana kegiatan Hayati bersama teman-teman dekatnya. Ia sampai tahu siapa laki-laki yang sedang coba ngegebet Hayati pekan ini. Maklum Hayati gadis manis. Semua lelaki caper sama Hayati.

Aku bergidik, lalu pergi meninggalkan Si Abang Bodoh, menuju Emak yang lagi sibuk di dapur. Si Abang sudah gila. Aku memang lagi baik-baikin Emak. Supaya janji dia membelikanku telepon genggam android segera terlaksana.

***

“Adek?”

“Mmmm…”

“Abang sakit hati banget, Hayati akhirnya resmi jadian sama Si Mamat, hati Abang ancur berkeping-keping.”

“Abang lebay ah.”

“Gak ada yang bisa gantiin Hayati di hati Abang, Dek.”

“…..”

“Abang ga bisa jatuh cinta sama cewek lain lagi.”

“…..”

“Abang bakal nungguin Hayati sampe jomblo, titik.”

“…..”

“Adek dengerin Abang kagak?”

“Mmmm…”

Si Abang benar-benar mengganggu konsentrasi. Di layar ponsel yang kugenggam ada notifikasi: Udin mengubah foto profilnya—-lima detik yang lalu. Wow. Gantengnya pujaan hati Adek. Bang Udin di foto sedang naik motor ninja, lidahnya melet dan kedua jari telunjuk tangannya ditekan ke pipi kiri dan kanan. Aaak. Lucunya gak nahan. Sebelum dia ganti foto profil, dia posting sedang bosan di kelas perkuliahan. Adek jadi ikutan bete. Dua jam lalu dia juga apdet sedang makan di kantin bersama teman-teman sekelasnya. Mengintip postingan itu, aku jadi berdoa dalam hati: makan yang banyak, Bang Udin, biar terus terjaga kesehatan dan ketampanannya.

Tadinya aku mau minta saran Si Abang, gimana harus berkata-kata mengomentari foto super unyu itu. Tapi kayaknya Si Abang sedang patah hati. Ya sudah. Lebih baik mikir sendiri.

Bersambung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s