Euforia

KBBI bilang, ia berarti perasaan nyaman atau gembira yang berlebihan. Perasaan tersebut datang, salah satunya ketika kita menemukan hal baru yang menyenangkan. Misalnya ketika merasa menemukan seseorang baru yang menarik hati, berfokus pada hobi baru, mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan cita-cita, atau ketika kamu menginjak tempat baru yang memesona. Euforia yang tak terkendali bisa menghasilkan tingkah norak. “Kakara”, begitu orang sunda menyebutnya. Tuhan kabarnya tidak menyukai segala yang berlebihan. Ketidaksukaan Tuhan karena dia memang tahu apa yang membuat ciptaannya tidak nyaman. Tingkah norak bisa jadi memalukan jika momen euforia telah hilang di kemudian hari.

Bersemangat dalam segala kegiatan baik memang sangat amat dibutuhkan. Ketika euforia muncul untuk hal baik, maka hasilnya pun bisa jadi maksimal dan monumental. Kebertahanan kamu menjalankan hal baik dengan sepenuh hati bergantung dari seberapa kuat kamu menjawab tantangan bertingkah istikomah, atau bahasa kerennya kontinu. Berkesinambungan, berkelanjutan, terus-menerus, disiplin. Inilah yang bagi saya sulit. Apalagi si pemalas ini terkadang mengaku-aku sibuk. Menjadikan alasan pekerjaan sebagai alasan menunda melakukan hal baik di kesehariannya.

Hal baik itu, salah satunya ngeblog dan membaca buku. Yap. Sekian lama saya absen menulis di sini. Lalu ketika datang lagi malam ini, saya mengawalinya dengan canggung. Lalalala. Malu dengan sikap dan semangat yang ditunjukkan ketika awal blog ini dibuat. Saya ketika itu bisa menulis tentang apapun dengan ringan. Bahkan di sela pekerjaan. Ke mana saya yang dulu itu. Semangat itu meredup karena berbagai alasan yang didalangi kebosanan dan kemalasan. Pokoknya, maaf ya, untuk diri saya sendiri.

Jika mau dipaparkan alasannya, selain malas, ada banyak hal yang membuat energi menulis saya meredup. Kebanyakan disebabkan euforia di berbagai hal yang saya terima saat ini terasa lenyap. Ini, sekali lagi, karena saya yang terlalu bereuforia, terlalu berekspektasi tinggi di awal perolehan. Ujung-ujungnya rasa kecewa itu datang.

Bukan pada mereka, tapi pada saya sendiri yang nyatanya tak puas akan keadaan diri. Padahal banyak hal mesti disyukuri ketimbang diratapi. Tuhan kabarnya menyukai segala amal baik yang berkelanjutan. Kesukaan Tuhan karena dia memang tahu apa yang membuat ciptaannya nyaman. Tingkah disiplin bisa jadi berat dijalankan ketika bosan. Tapi ketika kamu menjalaninya, Tuhan menjanjikan bahagia dan sehat sentosa.

Sekian.

Pejaten, 27102015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s