Selamat Datang Nyonya Hujan :-D

20151007_191746

Ini peristiwa penting. Harus dicatat hari dan tanggalnya: Rabu (7/10) pukul 18.36 hujan turun dari langit Jakarta. Tepatnya di depan Grand Sahid Jaya saya berdiri. Itu hotel yang lumayan berkelas khusus buat mereka yang berdompet tebal. Kabarnya, pemilik hotel adalah Pak Sahid. Dia merupakan Juragan Properti yang aset bisnisnya menggurita di mana-mana. Di dalam sana berlama-lama saya numpang ngetik. Setelah selesai, lantas segera saya beranjak berlari menuju halte Karet Bus Transjakarta.

Berlari, karena Nyonya Hujan tengah memberi prolog mengutus rintik-rintik gerimis. Berlari, bukan karena saya mau menghindarimu. Hanya saja saya enggan basah-basahan. Saya juga harus menjaga kesehatan, agar tak merepotkan orang-orang.

Saya tidak sedang menggombal. Tapi sejujurnya saya senang kamu datang. Terlebih kamu kemudian turun deras dan cukup lama durasinya, untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Saya ucapkan selamat datang dari balik atap halte.

Sejam telah berlalu. Kamu masih berada di antara orang-orang Jakarta yang terburu-buru. Orang-orang itu semacam pejuang yang setiap hari berkutat di antara kutukan ibu kota. Malam masih balita. Semua pekerja kompak balik bekerja. Mencari makanan, sisa-sisa kesenangan, lalu kembali ke tempat pulang pakai kendaraan umum dan pribadi. Sesaklah jalanan Jakarta di sana sini.

Di mana saya.

Ini.

Saya masih mendengarkan nyanyian rintikmu sambil menunggu bus transjakarta jurusan Pejaten. Saya akan berbaur bersama  mereka yang berdesakan di dalam bus. Mendengarkanmu bernyanyi membuat otak dingin dan hati damai. Meski suaramu berkolaborasi dengan derap langkah kaki orang-orang yang berlari-lari di areal transit bus, suara mesin kendaraan bermotor di jalanan sana, lengkap dengan teriakan klakson dan sirine mobil polisi yang barusan lewat. Kamu tetap terdengar merdu.

Wahai Nyonya Hujan. Pasti kamu juga rindu akan kami, bukan? Warga kota yang selalu dilanda gersang dan tak sabaran. Pasti kamu juga iba melihat mereka yang sesak dilanda kabut asap di Sumatera dan Kalimantan sana. Iya kah? Kamu juga pasti sedih melihat petani yang terus terteror miskin. Mereka harus segera menanam padi, jagung dan singkong. Untuk mengenyangkan perut segenap rakyat.

Tapi saya tahu. Tuhan menurunkanmu untuk tujuan yang lebih dari itu. Ada rezeki yang berkelanjutan dan tak terhitung jika dikonversi ke rupiah. Maka, turunlah yang banyak. Buatlah genangan-genangan dan becek di sepanjang jalan. Agar anak-anak kecil bisa keluar rumah. Bahagia main becek-becekan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s