Ketika Semua Pohon Terbuat Dari Plastik (Review film Dr. Seuss’ The Lorax

Sumber gambar dari: http://www.movieinsider.com/m6222/dr-seuss-the-lorax/videos/7918/
Sumber gambar dari: http://www.movieinsider.com/m6222/dr-seuss-the-lorax/videos/7918/

Ted Wiggins tinggal di kota bernama Thneedville. Kondisinya damai tertata rapi, super bersih dan berwarna-warni. Semua tampak normal dan warganya bebas riang gembira bernyanyi. Semua orang mematuhi aturan berikut paket pelayanan Walikota Aloysius O’Hare dengan senang hati. Tak ada masalah karena segala hal bisa dibeli dengan uang. Termasuk udara yang mereka hirup sehari-hari.

Udara dijual dalam galon-galon menyegarkan. Warga kota tak perlu kotor-kotoran dengan keberadaan tanah dan tanaman. Kota terlindung sepenuhnya dari “kekotoran” itu, karena segalanya dilapisi plastik. Sekeliling kota pun dilindungi tembok tinggi. Kalau ingin ada pohon di sekitar rumah dan taman, tak perlu repot menanam. Cukup membelinya dari pabrik. Simsalabim, pohon tinggal ditata saja sesuai keinginan.

Pohon yang dibeli warga terbuat dari plastik. Dengan sentuhan teknologi entah, kondisinya bisa diatur dengan tombol kendali. Misalnya, kamu mau pohon musim semi. “Klik” dia akan ada di keadaan seperti berada di musim semi. “Klik” musim gugur, nanti daun-daun plastik berguguran. Pohon ajaib di Thneedville bahkan bisa disetting untuk berdisko. Ted dan warga kota seharusnya baik-baik saja.

Bagi warga kota, keberadaan pohon betulan yang hidup, tumbuh dan menghasilkan oksigen hampir jadi mitos belaka. Cerita itu bahkan terabaikan karena keberadaan pohon tak diinginkan. Siapa pula yang rela meninggalkan gaya hidup serba instan? Mengapa pula perlu repot keluar dari zona nyaman? Ted awalnya berpikir seperti kebanyakan warga kota. Lagi pula, seharusnya semua berjalan damai-damai saja sebagaimana harapan Pak Walikota.

Pikirannya berubah ketika ia melihat lukisan hutan Truffula. Bentuk pohonnya indah, berbatang warna-warni dan berdaun seperti gulali. Lukisan tersebut merupakan hasil karya Audrey, tetangganya sekaligus gadis yang ditaksir Ted. Si gadis berharap pohon Truffula bukan mitos belaka. Ia yakin pohon betulan masih ada dan bisa menjadi bagian dari ekosistem kota. “Siapapun yang bisa membawakan pohon indah ini, pasti akan langsung kunikahi,” kata Audrey di depan Ted.

Tralala… semangat Ted tersulut. Ia bertekad membawa pohon Truffula untuk memenangkan hati Audrey. Atas petunjuk rahasia dari sang nenek, pencarian Ted dimulai. Ia melewati tembok kota dan melihat dunia luar. Mencari seseorang bernama Once-Ler yang bisa memberinya petunjuk soal keberadaan pohon.

Cerita penelusuran pohon pun dimulai. Lewat penuturan Once-Ler yang “nyicil”, Ted paham bahwa telah terjadi kejahatan lingkungan besar-besaran, sementara semua orang tidak peduli. Ia juga bercerita soal makhluk bernama Lorax. Ia penjaga hutan yang sedih karena pohon ditebang sembarangan.

Intinya, Lorax berusaha sekuat tenaga memperingatkan agar hutan harus dijaga, jangan serakah. Tapi Once-Ler membandel bahkan berhasil mencekoki warga hutan dengan junk food. Sialnya, tawaran serba instan itu disambut kemudian mengabaikan keberlanjutan kesehatan alam.

Benar saja. Awalnya Once-Ler berjaya. Bisnisnya pesat dan menjadi kaya raya. Tapi ketika pohon terakhir tumbang, kehancuran pun menerpa bisnisnya. Ia baru sadar kalau alam sudah rusak. Ujung-ujungnya dia menyesal. Cerita Once-Ler diakhiri dengan pemberian benih pohon. Itu benih terakhir dan harus diupayakan ditanam di kota.

Setelah mendapatkan benih, Ted bersemangat kembali ke kota. Bertekad menanam pohon meski rintangan datang dari Pak Walikota. Tentu penanaman benih terakhir pohon Truffula ditentang penguasa, karena akan mengganggu kelangsungan bisnis jual beli udara. Misi Ted mencari pohon bukan lagi sekadar karena ngeceng Audrey. Tapi dia juga ingin jadi bagian dari perbaikan lingkungan hidup yang nyatanya sudah porak-poranda.

Ini saya sedang menceritakan soal film yang disutradarai oleh Chris Renaud yang rilis pada 2012. Judulnya, Dr. Seuss’ The Lorax. Begitulah. Untuk detail selengkapnya, sila tonton sendiri filmnya. Ini saya kasih cuplikannya:

***

The Lorax merupakan film animasi sederhana dengan lagu-lagu yang menurut saya agak lebay. Tapi dari rangkaian cerita, simbol-simbol dan percakapannya. Ini merupakan sindiran keras dan tepat sasaran bagi kelakuan manusia yang serakah mengeksploitasi bumi, khususnya hutan. Kamu lihat juga, kan, soal kebakaran hutan dan kabut asap di enam provinsi di wilayah Sumatera-Kalimantan.

Bagi saya, ini dampak mengerikan–sangat sangat mengerikan–dari kegiatan eksploitasi hutan yang egois. Akibat salah kelola hutan dan gambut, semua kerepotan di musim kemarau panjang. Api berkobar. Asap meracuni warga setempat. Asapnya bahkan sampai ke negara tetangga. Memancing omelan. Pemerintah menjanjikan penanggulangan secara cepat, solusi permanen serta penegakkan hukum bagi dalang pembakar hutan. Entahlah. Terlalu lelah digombali hingga sulit untuk optimis.

Lagi pula, warga terlalu sibuk menyelamatkan diri dari ancaman kabut asap. Lorax di hutan Indonesia terlalu banyak kecewa. Kutukan Lorax telah berlaku. Mereka pun sudah lama pergi entah ke mana. Soal janji penguasa, mari kita lihat saja tahun depan. Apakah ada kebakaran hutan lagi atau tidak.

Kenapa ini film saya sebut sederhana. Sebab film yang diadaptasi dari buku karya Dr. Seuss ini menampilkan perumpamaan khas anak-anak. Logikanya bahkan terabaikan. Haha… bukannya sok intelek. Tapi coba kamu lihat. Warga Thneedville teramat bodoh dan tak menyadari lingkungan di balik tembok kota rusak parah. Ini mungkin sindiran bagi orang-orang perkotaan yang teramat individualis.

Tapi yang ganjil, dari mana mereka mendapatkan air bersih, udara dan kehidupan yang sehat kalau lingkungannya sudah amat porak-poranda? Sementara lingkungan hidup saling berkaitan dan bergantung antara yang satu dengan yang lainnya. Dari jualannya Walikota? Lantas Walikota dapat pasokan udara dan air dari mana? Lingkungan sehat memproduksi air dan udara bersih. Adakah ia bisa diproduksi di pabrik buatan Aloysius O’Hare?

Selebihnya, mari abaikan saja yang ganjil-ganjil itu. Pada intinya, The Lorax merupakan kritik cadas. Kita sudah terlalu banyak menggunakan plastik. Menutupi kebobrokan diri yang tak becus mengelola lingkungan asri.

N sonia fitri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s