Empat Lontong Dua Gorengan

20150918_114944

Malam menggandeng lelah ketika Commuterline tiba lagi di Stasiun Pasar Minggu. Pintu kereta dibuka. Operator mempersilakan penumpang yang mau turun agar turun. Tapi kalau yang tidak mau, ya jangan turun. “Hati-hati saat melangkah turun dan perhatikan barang bawaan anda”. Begitulah saran rutin yang disampaikan di setiap pemberhentian.

Saya pun melangkah turun dengan waspada, sejenak tengok kiri kanan, sembari memperhatikan Jakarta yang sudah lama mati rasa. Waktu menunjuk pukul sembilan. Langkah kuteruskan menuju palang pintu keluar dan melewati penghalangnya pakai kartu uang. Lantas mengambil uang jaminan di loker. Begitu prosedurnya jika kamu mau segera keluar dari sana.

Di gerbang stasiun yang terbuka, saya disambut para bapak yang pura-pura menyambut. Tanpa ekspresi cemberut, mereka berebut minta jadi pengantar pulang. Merekalah para tukang ojek pengobral perhatian. Maaf, kali ini saya lagi-lagi tak masuk daftar penyalur rezeki Tuhan untuk bapak-bapak sekalian. Perjalanan berlanjut, berniat naik mikrolet 36.

Tapi langkah kaki sejenak terhenti melihat seorang ibu dengan senampan gorengan di sisi jalan. Saya ingat, itu ibu yang tadi pagi saya lihat ketika hendak naik kereta pagi-pagi. Dia masih terduduk di sana hingga larut begini. Bersama gorengan yang menumpuk kedinginan. Yang membuat enggan, si gorengan tak ditutup rapi sepanjang hari. Pasti debu-debu di areal stasiun ini hinggap berdesakan di permukaanya.

Tapi kemudian saya teringat ucapan ibu saya dulu. Kata dia, kalau jajan harus sambil diniatkan sedekah. Apalagi kalau ada pedagang yang tampak kesusahan. Masih kata ibu, jangan cuma cari enaknya makanan. Lagi pula, tujuan makan adalah kenyang. Kalau mau makan sehat dan enak, pulang ke rumah makan masakan beliau.

Mengingat itu saya jadi sedih. Saya kelaparan. Tapi tidak mungkin untuk pulang ke Bandung malam-malam begini. Lagi pula besok pagi harus liputan lagi. Niat hati ingin segera makan di warteg langganan di dekat kosan. Tapi saya akhirnya memutuskan mendekati si ibu gorengan saja. Setidaknya di sana ada lontong yang masih terbungkus rapi. Semoga tidak basi.

“Bu, beli lontongnya empat,” kata saya.

Si ibu tersenyum dan membungkus empat lontong ke satu plastik.

“Gorengannya juga ya neng, ngabisin,” kata dia nodong.

“Eh…”

Tanpa permisi, dua gorengan juga dimasukkan. Tahu dan tempe goreng.

Yasudahlah. Dari pada urusannya panjang, saya iya kan saja dan membayarnya.

Sepanjang jalan si lontong habis dimakan. Lontongnya enak karena saya lagi kelaparan. Tapi untuk gorengannya, asli, saya ragu-ragu. Tempe gorengnya sudah mengeras seperti beling. Saya bukan atlet debus makanya tak berani menggigitnya. Kalau tahu, maaf, tapi baunya mengerikan. Isi tahu sudah basi rupanya. Jadi, saya minta maaf kepada kalian berdua. Sebab saya harus menyimpan kalian di tempat sampah. Maaf. Empat lontong sudah sangat cukup untuk perut saya yang rakus. Sedih rasanya membayangkan gorengan lainnya yang masih di atas nampan. Pasti sebentar lagi akan dibuang tanpa diganti uang. Si ibu gorengan pastilah seorang yang tegar.

Si ibu gorengan hanya satu dari sekian banyak contoh orang-orang yang mencari uang dengan susah payah. Banyak orang berusaha kecil-kecilan di jalanan itu. Dengan tetap membawa senyum dan segenap syukur. Agar besok bisa kasih makan perutnya sendiri dan keluarganya. Agar pula mereka bisa menyekolahkan anaknya biar jadi manusia berguna.

Bersama-sama dengan si ibu, ada yang lainnya yang setiap hari semangat mengumpulkan receh jalanan. Misalnya para pengamen yang berdendang dengan ukulele, pedagang keriput yang menenteng botol-botol air mineral, rokok, lap dan tisu. Atau bapak ibu yang menggelar dagagannya di atas tikar maupun gerobak. Merekalah bagian dari pejuang jalanan. Mereka yang berusaha sungguh-sungguh lebih terhormat dari pada mereka yang selalu merasa kurang lantas merampok harta rakyat lewat kekuasaan.

Para pejuang jalanan itu mewarnai Jakarta sejak pagi buta sampai pagi buta keesokan harinya. Begitu terus setiap hari. Mereka menjaga jalanan di antara semua orang yang sibuk lalu lalang. Pun selalu ramah dan sesekali jadi petunjuk jalan. Keberadaan mereka, semoga selalu menjadi pengingat. Agar menjaga hati tetap lega ketika berdesakan dalam kepadatan penumpang kereta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s