Idola

“Idola. Kalau mau dihitung-hitung, mereka itu sebenarnya seperti butiran debu. Berserakan di mana-mana. Baik yang terang-terangan benderang seperti bintang, maupun yang dikagumi dalam sembunyi-sembunyi. Mereka seperti penyihir. Minta dipuja. Membuat dunia Si Penggemar teralihkan dalam jangka waktu yang tak ditentukan.”

***

Jadi, kata siapa jumlah penggemar lebih banyak dari pada para idola? Pemikiran itu salah besar. Mari kita analisis di sini.

Awalnya begini. Kabarnya, salah satu tugas manusia ketika dilahirkan, yakni mengapresiasi ciptaan Tuhan. Apapun penampakannya, ketika ia menggugah hati manusia lainnya maka ia bisa disebut idola. Bayi-bayi yang baru dilahirkan, mereka seperti malaikat yang menggemaskan. Tanpa mereka inginkan, orang tua, paman, bibi, nenek, kakek, sepupu, teman sepupu, dan semua yang bersinggungan dengannya mendadak menjadikannya idola. Sekaligus yang disayangi.

Si ibu pun, sebab kerelaannya memberi cinta dan mau bersakit-sakit melahirkan dan mendidik anak. Pun membantu membangun rumah tangga yang sehat, ia menjadi idola suaminya. Dipuja dalam hati sembari dijaga. Setiap manusia yang punya rasa percaya diri, sebenarnya berposisi sebagai idola untuk manusia lainnya dan penggemar bagi manusia yang lainnya lagi. Toh masing-masing telah dibekali Tuhan dengan sejumlah bakat beragam, eksklusif dan mengagumkan. Entah sikap “memuja” dan “dipuja” itu ditunjukkan atau tidak, manusia punya kemampuan mengapresiasi dan diapresiasi. Semacam kita ada di dunia untuk saling mengagumi, lalu menginspirasi satu sama lain.

Tapi jika dilihat dari kadar pemujaan, sudah pasti penggemar lebih banyak dari pada idolanya. Sesosok atau sekelompok orang bisa diidolakan oleh ribuan orang. Bahkan Si Penggemar tersebar di sejumlah belahan bumi. Pesona mereka terpancar seperti sinar bintang di langit. Terlebih di zaman serba teknologi macam begini. Para idola bisa dijangkau ramai lewat jaringan internet.

Mereka kebanyakan disebut kalangan selebritas atau seniman. Bakat mereka yang beragam–dari mulai berakting, melawak, bernyanyi, menulis puisi dan sajak serta seperangkat produk seni lainnya, atau berolahraga–itu membangkitkan rasa kagum. Lalu seperangkat komersial memanfaatkan peluang itu untuk ditransformasi menjadi pundi-pundi kekayaan dalam arti harfiyah. Produk-produk yang keluar dari diri idola diterapkan di sejumlah sektor ekonomi sehingga pebisnis untung besar.

Belum lagi mereka yang “diharuskan” menjadi idola, agar si penggemar disebut baik dan beradab. Contohnya, mengidolakan nabi dan rasul, para tokoh zuhud serta tokoh agama yang disepakati menjadi wakil Tuhan membimbing manusia menuju surga. Mereka idola yang tak kalah banyak pengikutnya. Produk-produk yang berbau religi tak perlu berkecil hati. Dari mulai buku, lagu, acara televisi hingga restoran dan laundry kiloan berlabel syariah nan halal pasti tak akan sepi peminat. Semua orang berhak memiliki idola yang membimbing mereka menuju kedamaian jiwa.

Baik penggemar seleb maupun ulama, mereka punya kesamaan kelakuan. Yakni sakit ketika idolanya dicerca, dan bahagia jika mendapat banyak persinggungan dengan Sang Idola. Baik secara perasaan sepihak maupun saling berinteraksi langsung. Idola punya segudang pabrik energi bahagia untuk disuntikkan ke penggemar di seluruh dunia.

Khusus untuk idola dari kalangan selebritas, saya mau beri contoh pertama. Tersebutlah ada seorang teman baik yang sangat mengidolakan boy band asal Korea Selatan bernama Super Junior, disingkat Suju. Ini penampakan mereka:

Ini gambar kiriman dari Iit Septyaningsih via watsapp
Ini gambar kiriman dari Iit Septyaningsih via watsapp

Segala tingkah lakunya terhadap Sang Idola selalu bikin saya tertegun bahkan geleng-geleng kepala. Sebagai penggemar, dia sangat sangat total. Dia punya segala informasi tentang Suju, dari mulai lagu-lagu dan maknanya, nama masing-masing member lengkap dengan kepribadian dan kebiasaan mereka, juga informasi terbaru soal mereka. Yang tak kalah salut, teman saya ini selalu antusias menyebarluaskan kegemarannya tentang Suju pada siapapun yang berminat. Termasuk pada saya.

Saya akui, Suju memang keren, berkualitas dan patut diapresiasi. Tampan, suaranya bagus, jago dance juga beberapa member jago akting. Utamanya, saya jadi menyukai member yakni orang bongsor bernama Kyuhyun dan si andalan soundtrack drama bernama Yesung. Suara mereka bikin melting. Ahahaha… tapi kalau soal pengorbanan untuk idola, jelas saya kalah jauh sama si teman ini. Secara, saya belum rela menghabiskan uang untuk membeli tiket konser mereka. Cukup menjadi pengapresiasi pasif.

Ada lagi teman yang sangat menggilai tiga bocah kembar bernama Daehan, Minguk dan Manse. Mereka anak aktor korea tampan bernama Ilkook. Lagi-lagi mereka asal Korea Selatan juga. Lewat reality show bertajuk “The Return of Superman”, tiga bocah ini mencuri perhatian khalayak di seluruh dunia, termasuk sampai bumi Majalengka tempat teman saya itu tinggal.

Sama seperti teman yang pertama, teman yang satu ini juga mempromosikan Triplets pada saya. Lantas saya terpengaruh. Pesona, kelucuan dan tingkah polah mereka tak bisa ditolak dan membuat siapapun jatuh cinta. Saya pun jadi ikutan suka. Terutama pada Naughty Manse. Si bungsu yang lincah namun perasa. Saya bahkan bisa bergadang untuk ngeyutub memelototi tingkah polah mereka bersama Appa yang dikemas dengan serangkaian momen menyenangkan.

Ini triplets dan appa

IMG_20150801_000357

Juga ini:

IMG_20150607_083713

Kalau ini manse kesayangan saya.

IMG_20150710_045022

— ini muka teraneh sekaligus terlucu milik Manse. Wkwkwk

*gambar-gambar kiriman dari Yane.

Kalau saya sebut idola yang lainnya, pasti naskah di judul ini akan sangat panjang. Artis dalam negeri misalnya Sheila on Seven, Ahmad Dhani atau Sherina, Surayah Pidi Baiq dan Olga Saputra. Artis luar negeri ada juga semisal band Green Day, The Script, Aamir Khan, Jhonny Deep, Britney, Lady Gaga, Lee Seung Gii, Shin Min Ah atau semuanya yang balatak dan tidak perlu saya sebut satu per satu–lagi pula saya punya wawasan sempit soal dunia hiburan. Wkwkwk. Belum lagi para seniman dan musisi underground. Penggemar mereka juga bejibun.

Dengan kelegaan manusia “ngeksis” tak menutup kemungkinan kalangan non selebritas menjaring idola yang banyak. Mereka bisa ngeksis dan menebar “pesona” lewat beragam media sosial, buku maupun blog. Jadilah kita diam-diam atau terang-terangan punya idola dari kalangan atasan tempat bekerja, senior di kampus, rekan kerja juga tetangga sebelah rumah.

Ini semua tampak konyol. Tapi janganlah keberadaan idola dan penggemar di seluruh dunia itu disikapi sinis. Mereka ada sehingga menjadi penyulut semangat. Para idola berguna sebagai sebagai sumber motivasi penggemar agar sukses, entah sifatnya kesuksesan pragmatis atau yang berorientasi ukhrowi. Caelah.

Jadi, janganlah usil dengan mencemooh mereka di belakang. Seharusnya semua orang tahu batasan karena teorinya, segala hal yang disikapi berlebihan pastilah merugikan. Sepakat, kita harus saling mengingatkan. Tapi tak perlu sembari merendahkan para penggemar. Berkaca diri saja. Jangan-jangan kitalah yang tak punya cukup rasa percaya diri. Lantas menjadi tak punya kemampuan untuk mengapresiasi. Ujung-ujungnya, tak ada yang berminat mengapresiasi kita. Jika demikian kejadiannya, saya membayangkan betapa hidup di dunia menjadi sepi tanpa energi.

Sekian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s