Sejenak Mengabaikan Ia

Kelana, Ia selalu berjalan cepat. Melesat sambil tertawa melihat saya yang lambat. Membuat lelah. Sesekali Ia seperti berhenti. Berjalan mengendap-endap. Atau mendekap saya erat. Membuat sesak. Hampir mati bosan. Padahal itu tipuan. Ia tak mendekap. Ia terus berlari ke depan.

Tingkahnya yang menyebalkan itu tak lantas membuat saya membencinya. Justru, selalu saya tergoda menatapnya di tempat yang tinggi. Membayangkan kebahagiaan nun jauh di sana. Tanpa tahu alur jalannya ke mana. Padahal Ia angkuh meledeki saya yang mendongak di bawah sini. Sambil terus berjalan ke depan. Tak mau selangkah pun Ia mundur. Minta dikejar. Beruntungnya menjadi Ia.

Punya apa Ia? Yakni segala yang dimau manusia. Penghargaan, keberuntungan, kebahagiaan, kelonggaran, kekayaan, kesehatan, kedamaian. Maka, selalu saja, saya dan semua orang mengejarnya, minta diperhatikan. Agar kebagian bahagia. Sebab jika lengah, hal sebaliknya lah yang akan didapat. Kamu tertinggal dan menjadi pecundang.

Kelana, kamu pun tahu, saya tak mau tertinggal. Siapa pula sudi jadi pecundang. Tapi untuk kali ini, saya ingin sejenak nakal. Hanya sejenak saja. Saya ingin mengabaikannya yang saat ini terus-menerus membuat lelah. Untuk hal lain terkait pemenuhan ego diri. Bahwa saya ingin mengupayakan terus betah tinggal di planet bumi dengan cara saya sendiri.

Lantas, perjalanan panjang pun dimulai. Naik mobil dan segala macam angkutan darat, saya berangkat sendirian. Untuk menyapa kawan-kawan lama nun jauh di sana. Sebenarnya tidak terlalu jauh. Kita masih berpijak di tanah yang sama bernama Pulau Jawa. Hanya saja, Ia membuatnya menjadi jauh. Karena kesibukan kami masing-masing mengejar Ia dari garis start yang berbeda. Pertemuan dengan mereka pun menjadi mahal.

Bisa saja saya mengabaikannya. Toh pertemuan itu–yang dibayar dengan mengabaikan Ia, juga menguras tenaga dan budget–nantinya hanya sebatas pertemuan sederhana. Teman baru mengajak ke gunung, pantai, museum dan tempat rekreasi lainnya. Bukankah lebih baik saya pergi bersama mereka. Atas nama “Pengalaman Baru”. Bisa saja saya tinggal mengikhlaskan perpisahan dengan para teman di masa lalu, bahwa kebersamaan itu telah lenyap. Tak bisa lagi diperjuangkan karena Ia dan takdir telah memutuskan.

Nyatanya saya tetap berjalan sendirian. Nakal mengabaikan Ia. Pertama-tama, saya menjangkau sesosok sahabat lama di kejauhan sana. Ia tersenyum lebar menyambut saya di pinggir jalan yang lengang. Ada Ayahnya di belakang dia. Sebab kala itu Ia sudah menunjuk pukul dua belas malam. Tahukah Kelana, saya sangat sangat sangat lega. Melihat dia yang masih sama seperti dulu, sehat walafiat dan bahagia.

Saya mengabaikan Ia. Untuk bercengkrama panjang lebar soal masa muda. Bercerita soal kesukaan masing-masing saat ini. Saling mendengarkan keluhan dan kisah hidup saat ini. Lantas membicarakan tentang bagaimana cara pandang kami menatap hidup juga menatap Ia. Sisanya makan, nonton, jalan-jalan dan mengabadikan momen kebersamaan. Tidak ke tempat rekreasi indah yang banyak dikunjungi orang. Hanya berjalan di alun-alun kota kecil sambil wisata kuliner. Tapi ini perjalanan yang menyenangkan hingga membuat saya merasa beruntung telah berani mengabaikan Ia sejenak.

20150815_200504

Ini kita.

Selanjutnya, saya masih berjalan menuju kawan lama lainnya. Dia telah berkeluarga dan memiliki satu anak lelaki yang pandai bernyanyi lagu “Naik Kereta Api, Tut Tut Tut”. Ia telah banyak mengubah kehidupan sahabat-sahabat kesayangan saya. Tidak salah, karena kehidupan harus terus bergerak maju.

Maka dari kunjungan ini, saya ingin memastikan bahwa hati mereka masih sama seperti dulu. Dipenuhi kebaikan dan kebahagiaan. Di sana juga ada teman lama lagi yang menjadi partner bisnisnya. Seorang yang penuh rencana dan suka humor. Terutama, dia tengah keranjingan musisi sekaligus penulis bernama Pidi Baiq yang akrab dipanggil Surayah. Guys, bisnis seblak kalian keren. Pasti akan berkembang bagus jika tak cepat bosan dan sungguh-sungguh. Begitu doa saya dalam hati.

20150819_173412

Ini mereka.

Di perjalanan berikutnya, ada kawan yang membawa kabar pernikahan. Wah, ini kabar mengejutkan. Harus dikunjungil Diperhatikan sejak awal, jalan si kawan yang satu ini seperti “siratal mustakim”. Lurus, konsisten, penuh pengabdian atas nama dakwah Islam. Ia bertemu jodohnya pun ketika tengah mengabdi sebagai guru di tanah Maluku sana. Keren.

20150829_111013

Ini pengantennya.

Ada beberapa kawan lagi. Tapi saya belum bisa berkunjung karena saya harus mengobati kangen sama kampung halaman dan orang-orang di rumah. Jangan cemas, telah saya niatkan kunjungan selanjutnya di liburan berikutnya. Semoga Tuhan masih memberi kesempatan saya untuk menakali Ia lagi.

***

Pada akhirnya, semua harus disudahi sejenak. Dalam perjalanan pulang, saya agak terkejut. Ia berada di samping saya. Duduk manis di bangku bus menuju Jakarta. “Hei, kamu tidak menakali apalagi mengabaikan saya,” katanya. Lantas Ia memberi saya sekotak Bahagia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s