Inside Out, Melirik Sejenak ke dalam Benak

Menjadi seseorang yang “tak terencana” ternyata tak buruk juga. Terkadang justru banyak kejutan menyenangkan saya alami karenanya. Tentu ini bukan berarti saya bangga mempertahankan sikap grasak-grusuk di keseharian. Sama sekali tidak. Sebab semua orang pun paham, tak terencana sering kali hanya menyusahkan diri sendiri, kawan. Tapi marilah kita bicara hal-hal menyenangkan saja.

Pengumuman. Saya mau mengapresiasi lagi. Ini soal film yang belum lama saya tonton: Inside Out.

Nih, cover internasionalnya:

B2WkULzCQAAktwy.jpg-large

Tapi sabar dulu. Terlebih dahulu saya bernafsu menceritakan bagaimana muasal saya bisa menonton ini film. Tepatnya dua hari lalu, menjelang magrib, saya dilanda lapar dan lelah tak terperi (asik). Perjalanan dari Serpong tadi pagi jadi alasan mendramatisir keadaan. Lantas, saya sendirian berjalan cari makan sambil menyelesaikan beberapa berita hasil telepon-telepon. Otak kemudian memberi instruksi: Nia, kamu harus makan enak, lalu cari hiburan!”

Oke.

Lalu tubuh saya bergerak begitu saja. Makan dan jajan yang banyak sampai kenyang di mal dekat kantor. Lantas, bioskop XXI yang jaraknya hanya beberapa langkah itu memanggil-manggil. Lah, dia minta dikunjungi rupanya. Hahaha. Baiklah. Ini salah si bioskop yang menghionotis saya loh. Tanpa rencana ataupun referensi film sama sekali, saya masuk.

Tak sempat lihat deretan poster yang terpajang mewah di dinding bioskop, saya malah langsung melihat jadwal tayang film di belakang punggung kasir, pilih bangku dan bayar. Kebetulan yang jadwal tayangnya tiga menit lagi yakni film berjudul “Inside Out”.

Haaa… whatever lah kamu film macam apa. Begitu pikiran saya pada awalnya. Saya hanya mau nonton saja. Judi saya kali ini menghasilkan keberuntungan. Filmnya cantik. Sangat cantik, kawan.

***

Lantas, berikut ini review nya (maap prolog kepanjangan :-p ):

Cerita film sebenarnya sederhana saja. Tentang kisah gadis kecil berusia 11 tahun bernama Riley Andersen yang merasakan beragam emosi seperti kebanyakan manusia normal. Ada lima emosi yang berperan: Bahagia, Takut, Marah, Jijik dan Sedih. Kita semua punya itu, bukan. Riley sejqk lahir kaya dengan kenangan bahagia. Ia punya orangtua yang baik dan menghargainya. Pun, punya bakat main hoki yang membanggakan.

Hingga kemudian ia harus pindah rumah dan merasakan sejumlah ketidaknyamanan dan kekecewaan. Sempat bingung apakah harus merasa senang ataukah sedih. Ia menahan perasaannya, tapi malah menjadi pemarah dan nakal. Tapi kemudian ia sadar, bahwa kesedihan tak perlu ditahan. Ungkapkan saja. Kesedihan tak haram ditunjukkan untuk mengetahui betapa orang-orang peduli padamu.

Inside-Out-Trailer-Pull-RGB-d335_1cs.pub16.264

Menjadi menarik, yakni ketika emosi-emosi tersebut divisualisasikan dengan cerdas dan memikat. Salut saya dengan sutradara sekaligus penulis ini film. Namanya Pete Docter. Film bertagline “Meet the little voices inside your head” ini sukses bikin saya baper. Memancing saya sejenak melirik ke benak. Mendeteksi, apa yang lebih dominan dari lima emosi yang bekerja di diri saya. Seperti Riley, saya pun punya Joy (pengisi suara oleh Amy Poehler), Fear (Bill Hader), Anger (Lewis Black), Disgust (Mindy Kaling) dan Sadness (Phyllis Smith).

Kelimanya hidup, mengobrol, berkompromi, lantas menginstruksi untuk tingkah laku Riley. Joy, tentunya berperan menginspirasi Riley agar selalu berpikir positif, Anger menjaga agar Riley menjadi pemberani, tapi ia juga butuh kontrol dari Fear agar Riley selamat dari bahaya. Sedangkan Disgust membimbing Riley agar bisa beradaptasi dan tumbuh menjadi gadis elegan. Joy yang mendominasi mempersilakan semua emosi bekerja sama, kecuali Sadness. Ia selalu “disingkirkan” di pojokan. Tak apa. Sadness tahu ia tak boleh mengganggu. Demi kebahagiaan Riley.

Begini penampakan mereka.

Ini Joy dan Sadness.

194072_1_iocs_JoySadness1_135_per16_135_R1n

Dan ini tiga lainnya.

194342_1_iocs_AngerDisgustFear1_101_per16_101_R1n

Mereka tinggal di markas bernama Headquartes. Ada perangkat yang tampak kekinian di mana ia bekerja sebagai pusat kendali pikiran Riley. Di masa adaptasi Riley di lingkungan baru San Fransisco, Headquartes rusuh. Mereka ikutan kaget. Situasi diperparah ketika Joy dan Sadness terisap ke luar markas. Keduanya pun harus berjuang kembali, dengan segara hambatan kocak. Mereka harus pulang demi kebahagiaan Relay.

Dalam perjalanannya, pada akhirnya Joy sadar bahwa Sadness pun punya peran besar untuk memperbaiki banyak hal yang hancur selama merek pergi.

Film ini berhasil memengaruhi saya. Di antara banyak canda, celotehan dan percakapan segar, film ini menyuruh saya melirik sejenak ke dalam benak, emosi macam apakah yang mendominasi sehari-hari? Sering kali kita bersedih dan merasa pengecut berlebihan. Pasti Joy di dalam sana sangat bersedih. Gantilah pikiran-pikiran jelek. Agar mereka “yang di dalam sana” tak hancur. Berusahalah. Emosimu di dalam sana selalu berupaya membahagiakanmu. Bahkan, mereka berjuang setiap hari agar pulau-pulau kebahagiaan lampunya menyala. Bantulah mereka melalui perilaku baikmu. Bekerja samalah. Mereka menngawasimu loh.

Tak boleh hanya sekadar dapat cerita dari tulisan. Kalian harus menontonnya sendiri. Bagi saya, ini satu lagi buah imajinasi produksi Disney Pixar yang memukau. Kalau soal rangkaian imajinasi yang tervisualisasikan, jangan ditanya. Semua yang terangkai di film kreatif dan serba out of the box.

Satu hal lagi, sebenarnya di intro film ada tayangan yang membuat saya jatuh cinta juga. Durasinya sekitar 6 menit. Itu film pendek yang dipenuhi penggalan kisah yang dilantunkan merdu. Judulnya “LAVA”. Akan saya ceritakan di posting selanjutnya.

Babay…

*Sumber gambar-gambar di atas dari: http://pixar.wikia.com/wiki/Inside_Out

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s