Menyimak Rumpi Para Ekonom

Muadzin berucap Allahu Akbar. Melantunkan bait adzan pakai alat bernama “pengeras suara”. Saktinya alat itu. Suara yang keluar dari mulutnya tak jadi keras seperti batu. Ia hanya terdengar, tersebar sampai ke telinga saya. Yang baru terjaga bukan karena si adzan. Tapi suara alarm hp berteriak cempreng.

Seperti kebanyakan manusia yang katanya normal, saya tidur setiap malam. Bahkan lebih sore dari kebanyakan. Bangun-bangun, ada sejumlah pesan terabaikan semalam. Salah satunya dari para rekan ekonom Rep yang membanggakan.

Saya baca pelan-pelan. Ada cerita soal kereta cepat. Dibarengi cuap-cuap “off the record”, persekongkolan, jualan, keuntungan, eh ada Ch*na (lagi). Ajaib sebab dia kerap nempel di sejumlah proyek infrastruktur kita. Berlanjut ada cerita para ekonom mengenang pengalaman berkereta di masa muda mereka dulu.

Percaya atau enggak, rasanya saya pernah membaca pesan-pesan itu di masa lampau. Entah kapan lalu berulang pagi ini. Ada perasaan yang sama pula. Diawali miris–soal kereta cepat–lalu kemudian lega dengan sejumlah obrolan canda yang terbaca di akhirnya.

De javu, mungkin karena ikut menyimak soal kelakuan pemerintah bangun infrastruktur bukan hal baru buat saya. Di sejumlah kesempatan dengan pelaku yang berbeda, kerap terdengar rumpian miris soal situasi perekonomian Indonesia.

Penguasa akrab dengan pengusaha. Mereka bekerja sama, bagaimana agar keuntungan mereka dan keluarga bisa terjaga. Kerja sama cari investor dengan perjanjian serampangan. Masyarakat sipil yang tak terlibat dikondisikan untuk menyimak dan terkagum-kagum. Orang-orang itu mendongeng soal nasionalisme dan kedaulatan negara. Mereka harus tampak bak “Bunda Maria” di layar kaca.

Padahal proses eksploitasi tanah rakyat terus berjalan. Bangun jalan, jembatan, rel, perumahan, persawahan, perkebunan. Proyek akbar makan tumbal. Yang menangis pertama-tama yakni masyarakat sipil yang terdampak dan melawan. Siap-siap berurusan dengan tentara dan polisi.

Ah sudahlah. Ini karena saya tengah rindu diceritakan hal-hal baik. Bukan hal busuk. Bukan pula hal-hal pura-pura baik padahal busuk.

Makanya, bagian terpenting adalah di akhirnya. Canda. Lihatlah, hari masih pagi. Jangan biarkan rumpi dengan topik brengsek itu mengganggu kebahagiaan pagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s