Terhadap Seseorang Itu

Ilustrasi foto oleh Risa
Ilustrasi foto oleh Risa

Kelana, saya ingin menandainya di sini. Di antara percikan air curug yang menyerang bertubi-tubi. Terasa ke pipi, ke tangan dan kaki. Dingin, menggigit dan menyenangkan. Di senja hari yang sebentar lagi beranjak pergi. Saksinya matahari. Lihatlah. Wajahnya indah merona. Ikut malu dia, terhadap tanda yang saya buat di sini.

Ada ranting di sebelah sana. Ranting itu kelak akan berperan istimewa. Ujungnya tajam dan kuat. Berguna untuk menusuk tepat di jantung seseorang itu. Saya berniat membunuh dengan kejam. Hingga dadanya robek. Hingga darahnya bersimbah. Ranting harus tertancap kuat. Menusuk jantung. Tembus ke punggung.

Kelana. Barusan kamu sebut saya kejam. Saya memang berniat membunuhnya. Lantas aliran air terjun segera mengguyurnya. Hanyut. Melenyapkan jejaknya ke hilir. Batu akan menghantamnya sampai jasadnya pecah. Polisi tak akan tahu.

Meskipun. Pembunuhan ini sepertinya akan jadi yang terberat dan menyakitkan. Ini pengalaman pertama. Terhadap seseorang itu, ada banyak kebebalan yang dirahasiakan. Terdapat pula banyak keteledoran yang diumbar. Hanya satu dua teman yang tahu. Selebihnya, batu-batu besar di sini juga tahu. Guyuran air dari tebing yang akan menyapunya juga tahu. Matahari dan senja. Ya, mereka pun tahu. Lantas saling berbisik menyemangati. Bunuh saja!

Saya pikir, inilah satu-satunya jalan agar semua keadaan kembali normal. Agar tak perlu ada sikap lanjutan berupa bahagia yang berlebihan maupun kekecewaan mendalam. Kelana, kamu bilang saya pengecut. Kamu bilang, saya hanya berusaha lari dari perasaan suka terhadap seseorang itu. Jawabannya: memang iya.

Terhadap seseorang itu, saya telah banyak mengambil keuntungan. Sempat saya terlena. Tapi ini harus diakhiri. Ada bahagia yang dirasakan sepenggal-sepenggal. Sebab kebaikan itu memikat hati.

Menatap seseorang itu kemarin-kemarin, rasanya ia tampak benderang. Mungkin karena saya yang menatap dari kegelapan. Ataukah kebalikannya. Saya berdiri di antara terang, menggenggam senter yang menyala. Lampu senter diarahkan pada sisi gelap. Hanya berfokus menerangi seseorang itu. Yang berdiri di kegelapan yang jauh, bersama keramaian.

Ah, sudahlah. Ini harus diakhiri.

Kelana, barusan kamu sebut saya egois. Memang iya. Saya tak mau rugi, makanya akan saya tandai seseorang itu di atas batu ini. Lihatlah, ia hanya berbaring pasrah dan bodoh. Tak tahu apa-apa. Ia terus tersenyum dan berkelakar. Mengira saya hanya bercanda. Memang begitulah seharusnya. Semua orang menyukainya. Semua orang mengharap keberadaannya. Meminta perhatiannya. Siapa yang tega melenyapkannya?

Adalah saya. Kelana.

Ranting itu telah tertancap di dadanya. Berhasil tembus hingga ke punggung. Tapi seseorang itu tetap tersenyum. Bodoh. Ia masih tak menyadari pembunuhan itu. Bahkan ketika ombak mulai membawa jasadnya, ia tampak bahagia. Tertawa nyaring. Menertawakan apakah?

Senja telah beranjak. Matahari sembunyi. Tak tega melihat kenyataan yang terjadi. Seseorang itu enggan lenyap. Tapi saya keburu mati. Jadi zombi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s