Pengumuman, Ternyata Dilan Gak Sama Milea!

“Kamu tau gak? Hitler muncul sebelum aku lahir. Katanya, dia bunuhin orang-orang Yahudi,” kata Dilan sambil mengunyah buburnya.

“Hitler? Jerman?” Kutanya karena ingin memastikan Hitler yang dimaksud oleh Dilan.

“Iya. Adolf Hitler, pemimpin NAZI.”

“Oh. Terus?”

“Nah, pas aku lahir, dia langsung gak ada. Kayaknya, takut ke aku, deh.”

“Hahaha, takut diserang.”

“Terus. Aku lahir, dibarengin kamu lahir. Kayak sengaja mau bikin aku seneng di Bumi,” kata Dilan serius, sambil menyuapkan buburnya.

IMG_20150824_204547

***

Itu sepenggal percakapan antara Dilan dan Milea alias Lia, ketika mereka masih berpacaran. Penggalan percakapan kocak romantis lainnya bertebaran di setiap lembar buku. Membuat pembaca relax, terhibur sambil senyum-senyum.  Yap. Mereka merupakan tokoh rekaan Pidi Baiq dalam buku “Dilan, Dia Adalah Dilanku tahun 1991”. Ini merupakan kisah kedua. Pada buku pertama dikisahkan soal kocaknya Dilan melakukan pedekate ke Milea sehingga mereka “jadian”.

Menemukan buku “Dilan” bagian kedua ini, saya langsung membuka lembar terakhir. Penasaran ending kisah mereka. Sebab kata Surayah alias Pidi Baiq, tujuan pacaran adalah untuk putus. Bisa karena menikah, bisa karena berpisah. Nah, ternyata oh ternyata, Dilan gak sama Milea. Milea menikah dengan Mas Herdi. Sekarang sudah punya satu anak. Ah, saya kecewa. Pembaca memang selalu menuntut akhir bahagia. Huahahaha…

Tapi kemudian saya baca itu buku pinjeman secara kilat. Dari mulai halaman pertama. Bagaimana mereka saling berinteraksi sebagai pacar berserta pengungkapan rasa cinta yang tidak biasa. Manusia semacam Dilan memang menyenangkan. Beruntunglah menjadi seorang Lia yang diinginkan Dilan jadi pacarnya.

Tapi yang namanya pacaran, gak selamanya bahagia. Milea yang khawatir akan keselamatan Dilan selaku anggota geng motor menjadi penyebab mereka putus. Sementara Dilan tak mau dikekang. Untuk detailnya, silakan baca sendiri bukunya. Tak masalah sekarang kalian tahu jalan ceritanya secara umum dari saya. Soalnya, detail naskah Dilan lembar per lembar tetap kocak untuk disimak.

Meski begitu, satu hal saya catat, bahwa setiap kenangan bersama orang spesial, tidak dibuat untuk dilupakan ketika kita telah menginjak masa depan. Apapun ceritanya, ya pahit, ya manis, segala kenangan harusnya dihormati dan dihargai. Kenangan merupakan kisah yang sarat pembelajaran. Untuk mendewasakan diri. Jika dalam suatu hubungan, diakhiri dengan cerita yang tak sesuai harapan. Tidak apa-apa. Itu kenangan. Itu pembelajaran. Dan hidup harus terus berjalan dibarengi senyuman.

Sekian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s