Oportunis

Sejenak mari mengapresiasi karya salah seorang teman. Jadi barusan itu iseng buka facebook, setelah sekian lama ga dibuka-buka. Ada beragam apdetan, pemberitahuan, chatting dan kabar bahagia dari para sahabat. Kemudian di beranda menemukan ada foto cewek seksi lg jongkok imut, berikut puisi. Wkwkwk.

Itu tulisan karya senior di kampus. Namanya Andri Prayoga. Berikut puisinya:

“Sosialisme harus ilmiah

Ia tidak boleh bersandar

Pada angin dan angan-angan

Perempuan yang mengumbar harapan

tanpa peduli perwujudan

Pria yang mengumbar harapan tanpa peduli perwujudan

Anggota dewan yang mengumbar janji dan harapan

tanpa peduli perwujudan

Walikota yang mengumbar janji dan harapan

tanpa peduli perwujudan

Harus ditinggalkan

Kasih sayang mereka

Adalah kasih sayang angin-anginan

Hinggap sebentar kemudian pergi

Adalah ilusi,

tak nyata,

di dalamnya tak punya daya perwujudan

Sosialisme kita harus ilmiah

Rumah yang hendak kita bangun

Ialah rumah yang tersusun dari bambu atau batu-batu”

***

Membaca puisi ini, saya menggarisbawahi soal kasih sayang angin-anginan. Atau lebih tepatnya disebut kasih sayang basa basi. Tindakan yang tampak seperti kasih sayang, padahal ia diberikan agar disebut peduli, disebut setia kawan, disebut orang baik, disebut setia, disebut kerja bagus dan tak melakukan pembiaran. Berkaitan dengan pemerintah, nyatanya kerapkali perhatian mereka kepada masyarakat tampak seperti seremonial belaka. Tapi mereka merasa bangga. Merasa telah berbuat banyak. Selebihnya, masyarakat mengurus dirinya sendiri. Berjuang mandiri.

Pastinya, ada hal-hal yang telah diperbuat pemerintah, dari dulu hingga kini. Ia tertera gamblang dalam anggaran pendapatan belanja negara, serta beragam program kerja jangka panjang, pendek dan menengah. Tanggung jawab mereka mengurus rakyat juga terawasi banyak mata dan lembaga. Meski tak bisa seluruhnya dilayani. Sebab urusan masyarakat bejibun. Masyarakat juga harus mandiri, meski jangan jadikan “kemandirian masyarakat” sebagai dalih untuk melakukan pembiaran atas kemiskinan dan penderitaan orang kecil.

Pemerintah. Tapi bisakah kalian setidaknya tak menyusahkan masyarakat yang sudah tangguh dari lahir. Mengapa mengaku mampu menstabilkan harga pangan, tapi harga terus melambung susul menyusul. Kemarin daging sapi, disusul ayam, tomat dan bawang. Semua komoditas seolah antre, ingin tampil dberitakan di koran dan televisi.

Mengaku mampu menjamin layanan kesehatan masyarakat lewat asuransi. Tapi sistemnya bermasalah bahkan dituding zolim dan tak sesuai ajaran agama tertentu. Mengaku bisa mewakili masyarakat memanfaatkan lahan dan hutan, tapi manfaat sumber daya alam terkonsentrasi di kalangan juragan dan asing. Tak perlulah disebut semuanya. Semua sudah sama-sama maklum.

Pun, mengaku bisa menjamin keberlangsungan pendidikan berkualitas yang kondusif, mengaku bisa menjamin biaya pendidikan tanah air. Sekolah, yang selama ini mengurus biaya operasionalnya secara mandiri, lantas digratiskan. Pemerintah percaya diri bisa menanggung biaya itu lewat anggaran Biaya Operasional Sekolah (BOS). Tapi lihatlah pelaksanaannya. Para guru di sejumlah daerah saat ini sudah delapan bulan “puasa” tak digaji. Sebab si BOS tak kunjung turun. Jika turun pun, itu hanya gaji kecil yang tak seberapa.

Tapi mungkin saja anggapan saya terlalu menggeneralisir. Mungkin juga saya yang tak punya cukup wawasan sehingga tak melihat kasih sayang negara dalam bentuk nyata dan solutif. Entahlah. Yang lebih mengenaskan ketika pamer kasih sayang diumbar di media massa. Ilusi kasih sayang tanpa perwujudan disemarakkan. Media senang-senang saja. Toh ada uang yang mengalir lewat iklan kenarsisan pejabat. Masyarakat damai-damai saja. Tak usah terlalu dipersoalkan lah. Yang penting bisa dapat untung buat sendiri. Saling sikut sedikit tak mengapa. Demi bisa makan hari ini. Sudah biasa digombali. Mati rasa.

Begitulah. Media massa kebanyakan mungkin sudah sejak awal oportunis. Entah ketulusannya disembunyikan di kantong siapa. Atau ia telah dijual di minimarket dengan harga obral. Semua pada akhirnya sama-sama “senang”. Begitulah. Saya harap ini pemikiran salah. Semoga hanya pikiran selewat sebagai dampak sempitnya wawasan. Banyak hal positif bertebaran. Termasuk hal positif dari dunia pers tanah air. Seharusnya di sana ada banyak ketulusan juga buat kita semua.

Selamat malam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s