Berburu Bahagia

“Jadi begini teorinya: Tak perlu sibuk mencari. Ia tak pergi ke mana-mana. Bahagia ada di dalam hati kamu. Ia muncul lewat pintu bernama Pikiran Positif.”

***

Halo, Kelana. Mau pergi ke mana kamu di hari libur? Ke gunung, ke pantai, atau ke pasar malam dan dufan? Tempat rekreasi bertebaran di mana-mana, bukan? Atau jika budget tak cukup tebal di dompet, kamu bisa berjalan-jalan di mal, mampir di toko buku terdekat, berbagi cerita bersama teman dekat. Sekadar melihat-lihat barang komersil yang bergelimpangan.

Jika nyatanya kamu malas bergerak, hiburan tetap bisa diupayakan. Tinggal buka laptop atau gadget. Lantas nonton film favorit, membaca atau mendengarkan musik. Atau mungkin kamu mau menghasilkan karya tulis di waktu luang. Itu pun menyenangkan. Kebahagiaan bisa kamu dapatkan dengan mudah asalkan kamu berniat bahagia.

Bahagia bisa didapatkan dengan jalan apapun. Bahkan dengan cara-cara imitasi sekalipun. Saya beri satu contoh berkaitan dengan apa yang saya lakukan beberapa hari lalu. Tepatnya pada 09082015, saya bersama tiga orang kawan, Risa, Mba Dwi dan Dian, pergi berekreasi ke “dunia fantasi” di Ancol Jakarta Utara. Kebetulan tempat hiburan yang bagi kami tiketnya mahal itu tengah membuka harga diskon khusus kelamin perempuan. Jadi dengan pergi ke sana, kami bisa berhemat banyak. Saya pikir, tak apalah sesekali bermain mahal. Biar ga penasaran. Hahaha…

Tak mau melewatkan kesempatan, semua wahana coba dijelajahi. Rela jalan dan antre-antre sampai tua. Yang perdana yakni Wahana Torpedo. Tubuh kami dikageti, diombang-ambing, diputar, dibanting, naik dan turun. Kompak, semua teriak. Untung tak ada yang muntah. Ah, ini pengalaman gila. Yang biasanya naik wahana tingkat pasar malam sekarang harus naik beginian. Huahah… sangat menguji nyali.

Menenangkan tubuh dan otak, kami berlanjut menjelajah Rumah Sadler dan Rumah Jahil. Visual kami dipermainkan sekaligus dimanjakan dengan permukaan dan beragam pantulan cahaya. Baiklah, ini benar-benar Dunia Fantasi.

Rakus ingin menjelajahi semua wahana, kami mendatangi yang lainnya. Pertunjukan boneka dufan dan para penghuni hutan, museum hello kitty, naik wahana histeria, kora-kora, halilintar, ice age, kursi goyang pingwin, diseling tertawa, teriak, pasrah mengantre super panjang, bercerita soal suzana dan leak, ngobrol soal kantor. Segala rupa bahasan dibicarakan. Di antara pekerjaan itu, kami juga sholat, foto-foto, makan pop mie dan sosis.

Sebagaimana yang dirasakan kebanyakan orang, diakui bermain di dufan menyenangkan. Dunia Fantasi merupakan salah satu jenis tempat hiburan imitasi. Ia direka-reka dan berbiaya fantastik pastinya. Ia perwujudan imajinasi manusia yang kemudian direalisasikan dalam bentuk nyata. Dibangun oleh perusahaan raksasa. Dijual ke khalayak tanpa pandang latar belakang. Siapa yang siap bayar, dia boleh dapat layanan sensasi permainan dunia yang lain dari biasanya. Meski hanya dalam hitungan menit.

Di sela tawa, jerit dan sibuk dufan, saya sejenak membayangkan bos-bos konglomerat yang membangun dufan. Adakah saat ini mereka tengah memonitor kami, rakyat jelata, sembari ongkang-ongkang kaki. Hahaha. Lantas mereka tertawa sambil berkata, “Selamat tenggelam dalam ilusi sesaat, bersenang-senanglah sejenak, berteriaklah, berpikirlah bahwa kamu bahagia di sini. Segelintir uang tiket masuk dari kalian yang massal itu sungguh luar biasa membuat kami makin kaya raya.”

Loh. Jadilah saya berfantasi liar di dunia fantasi. Maafkan. Ini hanya imajinasi yang pasti menurut Kisanak menyebalkan.

Sebab tetap bagi saya hiburan imitasi macam begini tak ada apa-apanya dibanding tempat hiburan alami. Di antaranya pegunungan, pantai, gua, hujan, pelangi dan pemandangan alami ciptaan Tuhan lainnya. Ia telah dengan sendirinya ada dan tersedia. Tanpa menghasilkan limbah ataupun menghabiskan energi listrik bermiliar watt. Ia juga secara gratis menyediakan oksigen segar dan gigitan nakal air jernih dari danau, pantai dan curug.

Dunia fantasi dan yang pemandangan alami, ya, keduanya menakjubkan dengan takaran yang jomplang. Pun keduanya diperoleh dangan rasa susah payah yang tak imbang. Untuk rekreasi imitasi macam dufan, ia kerap kali bisa dijangkau dengan biaya mahal, panjang antrean, kenikmatannya instan, lantas diakhiri lelah yang panjang. Tapi untuk rekreasi alam, ia juga terkadang mahal serta harus dibayar dengan perjalanan panjang dan tenaga ekstra. Istimewanya, khususnya buat saya pribadi, ia memberikan bahagia dan kesehatan lebih lama, diakhiri rasa bahagia yang panjang.

Akhir kata, ya sudahlah. Saya terlalu repot menganalisis bahagia. Padahal setiap orang punya cara eksklusif untuk merasakannya. Setidaknya, ada kesamaan di antara keduanya. Keberadaannya berguna menyulut bahagia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s