Sepatu Dandi (Cerpen)

“Ih, Si Dandi sekolahnya nyeker lagi!” Najwa mengomel.

“Kakinya kotor, kamu gak boleh masuk kelas!” sambut Ika galak. Mereka kala itu tengah betugas piket kebersihan kelas. Tak hanya berdua, di sana ada Nabil dan Anis juga yang piket. Ika masih menghadang Dandi di depan pintu. Najwa dan Anis memelototi sambil melempar tatapan jijik. Kaki Dandi memang kotor maksimal. Ada lumpur tebal yang melapisinya. Sepanjang jalan dari rumahnya ke sekolah memang berlumpur. Maklum musim hujan.

Ketiganya terus mengintimidasi meski mata Dandi sudah berkaca-kaca. Ia pun hanya bisa berdiri mematung di depan kelas. Para petugas piket telah menutup pintu kelas. Tak membiarkannya masuk. Ini bukan kali pertama ia datang ke sekolah tanpa sepatu. Ketika ada dalam kondisi tersebut, ia berusaha datang pagi-pagi sekali, segera masuk kelas, menuju bangkunya, tak beranjak ke mana-mana, menyembunyikan kakinya yang telanjang. Jika guru menyuruhnya ke depan untuk mengerjakan soal atau menghapus kapur di papan tulis, ia tinggal memohon pada Alia, teman sebangkunya. Meminjam sepatu sebentar. Sebelum-sebelumnya sukses, tapi kali ini ia dihadang oleh petugas piket. Ah, hari ini sedang sial rupanya.

“Kalian tadi sadar nggak, kakinya Dandi berdarah itu,” Nabil akhirnya bicara. Sejak tadi ia tampak iba. Teman-teman agak keterlaluan menurutnya. Mungkin di jalan dia menginjak duri atau beling. Tapi ketiga temannya malah tak peduli. Menurut Ika, sekolah tapi tak bersepatu adalah melanggar peraturan, pun mengganggu kebersihan kelas. Anak nakal macam itu tak boleh diampuni. Pasti kalau Bu Guru datang, ia akan melakukan hal serupa. Biarkan saja Dandi di luar. Ia pantas mendapatkan hukuman itu. Semua sepakat dengan Ika kecuali Nabil. Ia melangkah pergi sambil membawa ember berisi air bekas mengepel lantai. Menghampiri Dandi. Bocah itu tampak berjongkok sambil memeluk lutut. Kepalanya tertunduk.

“Kamu boleh masuk, tapi cuci dulu kakinya,” kata Nabil seraya menyodorkan ember. Dandi ragu-ragu berdiri. Tapi ia tak segera menyelupkan kakinya ke ember. Seperti ada yang ditahannya. Kaki Dandi berdarah. Tak sengaja di jalan tadi ia menginjak beling. “Ah, hari ini begitu merepotkan,” gerutunya.

“Cepat bersihkan, sebelum Bu Guru datang!” Nabil kembali memerintah. Membuat Dandi reflek bergegas memasukkan kedua kakinya ke ember. Mukanya meringis menahan perih. Benar saja, kakinya berdarah. Di jalan tadi tak sengaja ia menginjak beling dan melukai kakinya. Air di ember tercemar darah. Nabil merasa jeri. Bingung harus berbuat apa.

Dari kejauhan, Alia, teman sebangku Dandi datang. “Lagi-lagi kamu gak pakai sepatu, Dan,” tanyanya lembut. Dandi tersenyum. Alia sigap menyuruh Nabil ke toilet sekolah mengganti air di ember. Kaki Dandi harus dibilas. Nabil menurut. Wajahnya benar-benar khawatir. Di pikirannya, ia takut teman sekelasnya itu mati karena kehabisan darah. Tiga menit, air bersih sudah tersedia. Rasa khawatir memberi energi bagi Nabil untuk bertindak cepat. Kaki Dandi lantas dibilas. Alia lantas membalut kakinya yang luka dengan syal yang semenjak tadi tergulung di lehernya. Sementara Nabil sibuk bercerita soal aksi pengusiran oleh Ika, Anis dan Najwa beberapa menit lalu.

“Aku ingin masuk kelas,” kata Dandi lirih.

Sejenak, Alia dan Nabil jadi tertegun. Ika anak yang galak dan pengadu. Mereka tak berani. Tapi kemudian Alia tersenyum. Ia punya ide bagus. “Kalau Ika ingin Dandi ke kelas pakai sepatu, oke, dia akan pakai sepatu,” Alia tersenyum lebar, merasa bangga dengan ide yang barusan nyangkut di benaknya.

***

Pintu kelas dibuka. Ika, Anis dan Najwa hampir menyelesaikan piket kebersihannya. Najwa mengelap lantai dengan lap kering, Ika menata meja guru dan Anis tampak sibuk membereskan peralatan kebersihan di pojokan. Ketiganya lantas menoleh ke pemandangan di ambang pintu yang terbuka. Mereka mendapati Alia, Dandi dan Nabil yang berjalan beriringan. Ketiganya memakai sepatu.

Formasinya. Kaki kiri Alia dibungkus sepatu dan berpijak di lantai, kaki kanannya telanjang menginjak kaki kiri Dandi yang dibungkus sepatu Alia. Kaki kanan Dandi telanjang tapi dibalut perban. Tapi kaki itu tetap tak tersentuh lantai karena menginjak kakinya Nabil. Sementara Nabil di sebelah kanan menjadi penopang kedua temannya. Kakinya berpijak dan bersepatu. Mengambil komando “kiri-kanan-kiri-kanan”, berjalan beriringan hingga mereka sampai ke bangku masing-masing. Ketiganya tertawa puas, sementara tiga lainnya terbengong-bengong tanpa komentar.

20150819_102445-1

***

“Tok tok tok…”

Pintu kelas Dandi diketuk. Ibu guru membuka pintunya. Ia mendapati gadis kecil berseragam putih merah.

“Ibu, saya Arimbi, siswa kelas I, adiknya A Dandi, mau menyampaikan titipan Mama,” kata si gadis kecil. Ibu guru terkesan, betapa pintar dan menggemaskannya anak cantik ini. Lantas si gadis kecil menyerahkan sekotak makanan bekal makan siang itu pada Ibu guru minta disampaikan ke abangnya.

“Terima kasih, Arimbi cantik,” kata Ibu guru.

Arimbi lantas pamit dan balik kanan, kembali menuju kelasnya dengan jalan yang diseret-seret. Kaki kecil itu terbungkus sepatu yang ukurannya kebesaran. Bu guru hapal betul siapa pemilik sepatu butut itu.

-tamat-

*cerpen khususnya dipersembahkan buat Asyam, adik kecil di Padalarang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s