Review Buku “Goro-Goro” Putu Wijaya

“Pelajaran ada di antara hal-hal yang jauh dan yang dekat. Yang jauh dikejar-kejar, yang dekat terabaikan. Lantas kapan kamu mau belajar?”

***

20150806_032147

Secara keseluruhan, Putu Wijaya seakan menyampaikan pesan itu dalam buku Goro-Goro-nya. Dengan ketebalan buku 485 lembar, terdiri dari 125 judul, buku ini berisi serangkaian cerita sekilas-sekilas tentang segala yang dekat dengan keseharian. Ditulis oleh Putu dalam periode 2000-2002. Tentang kisah keluarga Pak Amat dan Bu Amat merespons suatu peristiwa dan pemikiran, dari sudut pandangnya sebagai perwakilan masyarakat pada umumnya.

Misalnya, sikap Pak Amat terhadap keberadaan partai, fungsinya untuk negara, kritik soal suatu A, B dan E, serta alasan ideologis mereka. Kebanyakan berisi obrolan ringan, seperti kita yang melakukannya di keseharian. Tapi dari sana, kamu bisa menemukan banyak sindiran untuk negeri Indonesia, pun sindiran untuk diri sendiri dalam menyikapi indonesia. Juga tentang kelakuan masyarakat Indonesia yang meyakini buaian dongeng demokrasi, tentang pola pikir, fanatisme, politik, partai, feminisme, budaya, sosial dan macam-macam. Ketika membaca satu-persatu kisah di tiap judul, kamu akan mengakhirinya dengan senyuman, entah lega, kocak atau miris. Serangkaian naskah ini mencubit, kadang menggigit, tapi juga menggelitik, yang lainnya mendamaikan hati.

Saya beri satu contoh cerita flash di buku ini. Judulnya “Dono”. Diceritakan Pak Amat merenung soal meninggalnya komedian Dono Warkop. Selanjutnya ia menggiring pembaca menelisik arti dari seorang yang disebut “Pelawak”. Kerap ia sosok yang dianggap bodoh dan tidak penting. Lantas selanjutnya ditemukan pesan apresiasi Putu terhadap para pelawak-pelawak cerdas. Maksudnya, mereka tak hanya melawak dengan menggunakan kelemahan fisik belaka. Tapi mereka membangun lawakan obrolan yang cerdas tentang realita sosial budaya. Bahwa pelawak bukanlah bahan lawakan. Mereka cerdas dan berpikir atas pembuatan karyanya sehingga semua orang tertawa.

Dari ratusan judul yang kisahnya beragam itu, ada satu kesamaan yakni gamblangnya keberagaman pendapat dalam obrolan yang terbangun dari Pak Amat, Bu Amat serta anak-anaknya. Sebab memang menyikapi satu hal tidak bisa hanya dari satu sisi saja. Sebab pula, semua orang bebas mengutarakan pemikirannya tanpa perlu disekat-sekat oleh jabatan rumah tangga. Baik ayah, ibu maupun anak. Semua berhak menyuarakan aspirasinya. Pintu diskusi selalu terbuka. Demi tujuan baik saling mengerti bersama.

Inilah Goro-Goro yang dirangkai seperti gado-gado. Beragam cerita muncul pasca bencana dan huru-hara terlewati. Singkatnya, buku ini merupakan kumpulan naskah yang berasal dari rubrik tetap di tabloid tokoh suplemen harian Bali Pos yang beredar kala itu. Diterbitkan oleh Grafiti. Bercerita soal opini penulis yang diwakili oleh Keluarga Amat tentang masalah aktual di kehidupan sehari-hari periode 2000-2002. Peristiwa dan pemikiran itu menjadi sorotan semua orang. Tapi suara dari masyarakat bawah sering kali dianggap remah-remah roti. Padahal kalau disoroti, banyak pembelajaran di sana. Kita memang terbiasa mencari-cari pelajaran dari yang jauh-jauh. Maka naskahnya Putu ini mengajak kita melihat yang dekat-dekat dulu untuk refleksi.

Note: bab niat untuk bikin review buku ini sudah dari dua bulan lalu. Tapi terus ditunda karena sinia sok sibuk. Tapi akhirnya rampung juga nih barang. Meski tampak berantakan. Lega πŸ™‚

Satu respons untuk β€œReview Buku “Goro-Goro” Putu Wijaya”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s