Akmal

Akmal hanya perlu mengucapkannya dengan lantang. Ia adalah sama seperti anak-anak kebanyakan. Bisa bernyanyi dengan menyenangkan.”

***

Percakapan yang singkat siang tadi ketika mengantar teman membeli mi ayam di tenda pinggir jalan dekat kosan. Seorang bocah tampak sabar berdiri menunggu angkot nomor 36 lewat. Niatnya dipastikan bukan untuk jadi penumpang biasa. Akmal (bukan nama sebenarnya), bocah tiga belas tahun itu ingin numpang ngamen di angkot itu–seperti biasa.

Sejumlah pertanyaan saya tujukan untuknya. Bertanya dari mulai informasi umum dirinya semisal: rumahnya di mana, tinggal dengan siapa? Diberi nama oleh orangtua dengan sebutan apa? Usia berapa? Sekolah di mana? Hingga pertanyaan soal kegiatan hariannya, yakni mengamen. Tentunya saya tidak bermaksud untuk mengintrogasi, wawancara, atau apalah yang berbau “udang di balik tempe”.

Saya hanya penasaran. Hanya ingin menjadi teman. Sebab ketika saya menjadi penumpang angkot 36, sering kali mendapatinya nongkrong sembari bernyanyi di lawang pintu angkot. Dari pertanyaan yang ditujukan, ia menjawab singkat-singkat. Ah, maaf Mal, saya gak bermaksud bikin kamu risih.

Dari percakapan, didapatilah informasi singkat bahwa Akmal anak remaja putus sekolah. Ia tinggal bersama bibi nya di kawasan Jagakarsa. Hasil mengamen, dalam sehari ia mengaku bisa dapat paling banyak Rp 40 ribu. Tapi jika angkot sepi, ia harus tetap tersenyum meski hanya dapat receh Rp 20 ribuan. Dari hasil ngamen, ia juga mengaku hanya mengambil Rp 10 ribu untuk jajan. Sisanya ia setorkan untuk sang bibik.

Akmal menurut saya belum sungguh-sungguh mengamen. Sebab nyanyiannya terasa alakadarnya saja. Asal menyanyi, lalu mengadahkan tangan kepada penumpang. Makanya ini jadi kesempatan bagus bagi saya untuk mengkritik, selaku konsumen yang baik. Haha.

“Mal, kalo ngamen, nyanyinya yang sungguh-sungguh, biar ngehibur penumpang, kan jadi pahala juga,” kata saya sembari bercanda. Berhati-hati agar tak menyingung hatinya. Dia cuma mengangguk lugu. Lalu saya menyarankan dia untuk menabung sedikit-sedikit. Jangan semua uang hasil ngamen dipakai untuk jajan. Siapa tahu kalau punya tabungan, Akmal bisa membeli ukulele atau gitar. Siapa tahu pula dari tabungan itu Akmal bisa meneruskan sekolahnya.

Siapa tahu. Saya pun tak tahu, dan nyatanya tak cukup peduli dengan anak sebelia Akmal. Baru bisa memberinya recehan tak seberapa. Belum bisa ikut membantu memberinya perhatian dan perlindungan. Sehingga ia mengamen saat ini, bukanlah suatu kesalahan. Entah apa motifnya, saya harap Akmal tumbuh menjadi pria baik.

Tidak. Menyoal kritik terhadap cara dia bernyanyi ketika mengamen, itu sama sekali tak berkaitan dengan kondisi fisiknya. Di mana, orang-orang kebanyakan menyebut bibirnya sumbing. Lantas kenapa jika sumbing? Toh ia sudah dioperasi dan saat ini saya mengerti bunyi kata-kata yang ia ucapkan ketika berkomunikasi. Akmal hanya perlu mengucapkannya dengan lantang. Ia adalah sama seperti anak-anak kebanyakan. Bisa bernyanyi dengan menyenangkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s