Baper di Ragunan (Part I)

“Bahkan ketika merambah tempat rekreasi pun, untuk sedikit bersenang-senang, mereka masih harus bersimbah peluh.”

download

Sumber gambar ilustrasi dari: http://statik.tempo.co/?id=107776&width=475

***

Telah lewat 45 menit, bayi berusia delapan bulan itu masih menangis di pangkuan salah seorang perempuan penumpang Bus Transjakarta. Mungkin itu ibunya, atau tantenya, atau kakaknya. Saya tak tahu. Yang pasti ia tengah berusaha menenangkan sang bayi. Tangisan sang bayi paling lantang di antara rengekan balita lainnya. Sementara, beberapa orang dewasa terdengar berkeluh kesah.

Kondisi di dalam bus panas dan padat oleh mereka. Kalangan yang oleh pemerintah kerap disebut masyarakat kelas menengah ke bawah. Ketika itu musim mudik liburan lebaran. Mereka pun berbondong-bondong menuju tempat rekreasi bertarif murah. Yakni Kebun Binatang Ragunan. Alhasil, suasana bus yang padat penumpang itu pun terasa lelah. Seperti kura-kura, bus berjalan perlahan. Maklum, suasana jalanan macet karena antrian bus di depan yang mengular hingga Halte Ragunan.

“Mulai padat penumpang sejak pukul 10.00 WIB, kalau pagi malah sepi,” kata petugas Bus Transjakarta yang kala itu berjaga, Defit R kepada saya pada Ahad (19/7). Ia masih setia menjaga penumpang di depan pintu bus hingga tengah hari. Defit berdiri tegak dengan banyak mengumbar sabar. Sesekali ia tersenyum ketika tangisan sang bayi makin kuat. Tak banyak yang bisa dilakukan.

Bus pun akhirnya berhenti di halte Ragunan. Memuntahkan penumpang yang masih harus berjuang. Sebab sebelum masuk Ragunan, mereka harus antre panjang untuk membeli tiket masuk. “Namanya juga liburan murah, maklum saja,” kata salah seorang pengunjung Sri Cahya (23 tahun). Seperti diketahui, tiket masuk ragunan tergolong murah. Yakni Rp 4.500 untuk dewasa dan Rp 3.500 untuk anak-anak.

Kebun Binatang Ragunan tengah mengalami masa puncak keramaian. Kepadatan tampak di setiap gerbang. Memasuki areal ragunan, suasana lebih padat lagi di mana anak-anak dan orangtua tampak memadati jalan. Sementara yang lainnya mengampar tikar, berserakan di taman dan pinggir jalan. Turut meramaikan suasana, ada petugas yang mengumumkan anak dan keluarga yang terpisah dari rombongannya lewat pengeras suara.

Udara di Ragunan panas. Tapi ribuan pengunjung itu rela berpanas-panas ria, pun berdesakan dengan yang lainnya. Demi sebuah liburan keluarga. Sungguh saya salut sama mereka. Bahkan ketika merambah tempat rekreasi pun, untuk sedikit bersenang-senang, mereka masih harus bersimbah peluh. Ah maaf saya baper.

Laporan dari Bagian Hubungan Masyarakat (Humas) Ragunan Wahyudi menyebut, jumlah pengunjung tercatat sebanyak 150 ribu jiwa per hari ini. Jumlah tersebut diprediksi akan terus bertambah hingga loket tutup pada pukul 17.00 WIB.

Menyambut pengunjung yang membeludak, jajaran petugas Ragunan mengaku telah melakukan beragam persiapan. Hal tersebut dari mulai mengerahkan tenaga keamanan hingga seribu personel, hingga melakuka ¬†pengaturan parkir. “Kita koordinasi dengan kepolisian, TNI dan anak pramuka,” tuturnya. Pengaturan gerbang yakni membuka empat gerbang utama agar mencegah penumpukan pengunjung di titik-titik masuk.

Diakuinya, secara fisik Ragunan tidak menyediakan fasilitas baru. Namun terdapat aplikasi bernama “Ragunan Zoo” yang bisa diunduh gratis melalui aplikasi playstore di smartphone. Ragunan Zoo merupakan aplikasi peta yang menunjukkan ada apa saja di Ragunan dan letaknya di mana saja. “Ketika tersesat, kita juga bisa mudah mendeteksi pengunjung yang mengunduh aplikasi ini, karena bisa dideteksi keberadaannya lewat GPS,” ujarnya.

Kepada Pak Wahyu beserta jajaran petugas Ragunan saya sangat berharap agar mereka menjaga masyarakat pengunjung dengan apik. Meski mereka membayar murah, mereka berharap bahagia bersama keluarga di tempat rekreasi. Tolong bantu mereka dengan menerapkan ketertiban. Jangan biarkan mereka berdesakan kemudian menjadi lelah. Jangan pula biarkan mereka kehilangan sanak keluarga satu sama lain. Selamat bertugas!

Mengkonfirmasi kondisi tempat rekreasi murah yang sarat keridaknyamanan di sana sini, saya pun iseng menghubungi Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan Destinasi Wisata Kementerian Pariwisata Lokot Ahmad Enda. Ia merespons. Kata dia, wisata murah akan mengundang banyak pengunjung, makanya ia disebut juga dengan //mass tourism//. Ragunan dan Kebun Raya Bogor merupakan salah satu di antaranya.

“Pemerintah prinsipnya pelayanan kepada pengunjung tetap baik, nyaman maka perlu dibuat //visitor management//,” ujarnya melalui pesan Whatsapp. Manajemen pengunjung tersebut meliputi pengaturan jadwal kunjungan, alurnya dan kapasitas kunjungannya.

Untuk Ragunan, ia menilai dari aspek pelayanan belum maksimal karena jumlah pengunjung melebihi kapasitas. “Sama dengan bandara, kalau lebaran dan tahun baru bandara melebihi kapasitasnya sehingga pelayanan tidak optimal sesuai SOP,” tuturnya.

Namun, untuk melakukan pembatasan pengunjung, ia mengaku hal tersebut agak sulit. Terlebih jumlah tempat wisata yang murah terbatas di Jakarta. Maka upaya yang saat ini dilakukan, yakni Kementerian telah membuat surat kepada Pemerintah Daerah untuk melayani pengunjung dengan baik, dari mulai aspek keamanannya, kebersihan dan ketertiban di kawasan pariwisata.

Begitulah masyarakat yang katanya menengah ke bawah. Mereka selalu tangguh. Bahwa mereka tak kuat membayar berjuta-juta untuk liburan nyaman dan menyenangkan, maka jalan murah pun dipilih. Tak mengapa. Mereka pun tahu bahwa kebersamaan keluarga sangat mahal dan layak untuk diperjuangkan.

N sonia fitri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s