Lupa (sebuah cerpen)

Setiap Nara datang ke rumah, ia pasti meninggalkan sesuatu ketika pulang. Entah jam tangan, kaus kaki, atau ikat rambut. Itu belum seberapa. Ia bahkan pernah ketinggalan barang-barang yang cukup penting semisal charger laptop, flash disk, kartu ATM dan ponsel. Padahal itu penting buatnya yang merupakan seorang pekerja kantoran. Nara benar-benar ceroboh.

Seperti kali ini. Barusan ia berpamitan setelah berjam-jam membincangkan banyak hal. Tepatnya, Nara lah yang banyak bercerita. Aku, seperti biasa, menjadi pendengar yang baik untuknya. Aku senang-senang saja. Sejujurnya, kehadiran Nara membuat hati ini menjadi hangat. Tepat pukul empat sore, ia harus pergi karena ada rapat malam di kantornya. Lantas meninggalkan kunci kamar kosannya di rumahku.

Lupa. Itulah selalu yang jadi alasannya ketika ada barang yang tertinggal. Tapi sepertinya ia melakukannya dengan sengaja. Entahlah. Sengaja atau tidak, aku senang. Maka yang kulakukan ketika itu terjadi adalah geleng-geleng kepala sambil tersenyum sembari menasihatinya agar tak terlalu panik. Kemudian bilang kalau ia tak perlu merasa bersalah. Sering-seringlah kamu meninggalkan barang. Agar sering pula kamu kembali ke sini, Nara. Tugasku selanjutnya adalah menunggunya datang kembali ke rumah, mengambil barang yang ditinggalkan. Berharap Nara menggantinya dengan meninggalkan barang lain miliknya untukku.

Nara adalah seorang kawan lama. Pertama kali kami saling mengenal ketika SMA. Nara punya banyak kawan di sana sini alias banyak orang yang ingin berteman dengannya. Secara, Nara pintar dan bisa diandalkan. Ia juga menyenangkan dan pandai mencairkan suasana. Ia paling tak suka melihat ada temannya yang murung dan menyendiri. Pasti ia langsung menghampiri dan membangun obrolan yang menyenangkan.

Begitulah ia, ketika pertama kali mendatangiku. Sepertinya kala itu ia iba karena melihatku duduk bengong di pojokan. Ketika itu, ia bagaikan malaikat. Menyapa ceria, menegaskan kecantikan wajahnya. Demi tuhan, aku langsung jatuh cinta. Sialnya, rasa itu terus terpelihara, sekaligus juga tetap tersembunyi hingga kini.

Omong-omong, dengarlah ada suara orang mengetuk pintu di depan rumah. Itu pasti Nara ku yang ingin mengambil kunci. Aku lantas menghampiri dengan suka hati. Tapi perasaan itu mendadak sirna ketika kulihat Nara datang tak seorang diri. Ada Bara bersamanya. Sekilas info soal Bara, ia merupakan temanku juga. Bara selama ini sangat getol mengejar cinta Nara. Padahal Nara sudah menolak. Tapi Bara manusia pantang menyerah. Wanita suka dengan pria gigih. Dan itu sangat menjengkelkan buatku. Jangan-jangan Nara mulai terpengaruh dan mempertimbangkan perasaan Bara. Ini bahaya. Lantas, mengapa sekarang mereka datang bersama-sama?

“Lara, maaf ya, aku heran kenapa selalu ninggalin barang di rumah ini,” itu Nara, menyapaku yang masih bengong.

“Kok, datang sama Bara?” kataku, terlalu fokus pada kehadiran Bara.

“Oh, iya, dia mau ikut katanya, kangen mungkin sama kamu, hehehe,” Nara bercanda. Aku tersenyum hambar. Itu sama sekali tak terdengar lucu. Senyum itu hanya untuk menghormatinya.

Nara bilang, ia sedang terburu-buru, makanya ia segera minta kuncinya dikembalikan. Padahal aku sangat ingin ia tinggal sejenak lebih lama. Terlebih ada Bara di sisinya. Semakin aku tak suka jika ia segera pergi. Tapi aku hanya diam. Dengan berat hati, kunci itu kukembalikan.

“Semoga gak ada lagi yang ketinggalan ya,” kata Nara sebelum pergi bersama Bara.

“Justru aku harap, kamu ninggalin satu lagi barang sebelum pergi,” kataku kemudian.

Nara tertawa. Bara curiga.

Entah mengapa aku sangat ingin mengatakannya sebelum kesempatan itu benar-benar hilang selamanya. Meski nantinya dikatain norak, atau mungkin membuat suasana jadi aneh, biar saja.

“Barang apa yang mau aku tinggal di sini?”

“Separuh hati kamu,” jawabku.

Eaaa….

Kemudian hening.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s