Meninjau Merdeka  (Review Roman Burung-Burung Manyar Karya Y.B. Mangunwijaya)

20150704_133808

Merdeka. Kata ini terdengar gagah, patut dirayakan sebab serba kemenangan. Menyoal “Indonesia Merdeka”, sejumlah tokoh yang didaulat pahlawan kerap disebut-sebut dan dinyanyikan. Soekarno-Hatta dipuja-juga, begitu pun para pahlawan nasional yang dimakamkan di Kalibata.

Merdeka ialah ketika Kisanak terbebas dari belenggu lantas berbahagia tinggal di dunia, di mana pun tepatnya. Dalam konteks kedaulatan sebuah negara, secara umum ia diartikan sebagai negara yang tak didikte atau di bawah tekanan bangsa lain. Ia bisa mandiri, berswadaya, berswakelola dan berswasembada. Merdeka kelihatannya menyenangkan.

Menyaksikan Indonesia saat ini, benarkah ia telah benar-benar merdeka. Secara pengakuan, ya, seluruh dunia mengamini Indonesia sebagai negara berdaulat. Tapi lihatlah situasinya sampai saat ini. Pahlawan yang dielu-elukan itu, yang telah dikebumikan, apakah mereka tahu, situasinya saat ini, Indonesia tengah terbelenggu tekanan ekonomi?

Lantas, seorang teman pun merekomendasikan membaca novel “Burung-Burung Manyar” karya Y.B. Mangunwijaya. Pertama kali terbit di 1981. Sebelumnya saya memang sudah terpesona sama tulisan beliau di novelnya yang lain berjudul “Burung-Burung Rantau”. Makanya ketika direkomendasikan, kemudian disodori bukunya, saya sambut dengan gembira. Btw, Romo Mangun mungkin pecinta burung.

Satu per satu halamannya saya buka. Ini kisah roman tentang zaman revolusi Indonesia. Tokoh utama bernama Setadewa alias Teto yang justru berperan sebagai perwira KNIL, berperang dari pihak Belanda melawan Indonesia. Di sisi lain, kekasihnya bernama Larasati alias Atik ada di pihak “pejuang” Indonesia. Berada di sisi Syahrir.

Membaca novel ini membuat kamu merasa perlu meninjau ulang tentang makna merdeka. Kata siapa pribumi yang ada di bawah tekanan penjajahan sepakat semuanya untuk urusan mencapai merdeka? Tidak semua begitu. Pribumi pun ada yang merasa tanah airnya belum siap untuk merdeka.

“Suatu bangsa yang sudah berabad-abad hanya membungkuk dan minder harus dididik dahulu menjadi kepribadian. Barulah kemerdekaan datang seperti buah durian yang jatuh karena sudah matang.” Demikian menurut tokoh utama novel.

Indonesia yang katanya telah merdeka. Tapi lihatlah luka-luka bangsa yang busuk dan sudah bernanah ini. Orang-orang yang terbatas kemampuan finansialnya masih mendominasi. Sehingga jika kamu telisik, banyak pemandangan yang menunjukkan kebodohan dan kesengsaraan di sana sini. Meski tetap senyum bahagia terselip di wajah-wajah manusia yang pandai bersyukur. Entah bagaimana pun keadaannya.

Tapi apa pula yang disebut tanah air. Teto mendengar dari mulut seorang anggota Polisi Militer Belanda yang merasa tak memiliki tempat lagi di Belanda. Bahwa tanah air bukanlah tanah di mana manusia lahir dan dibesarkan. Tanah air ialah tanah di mana kamu merasa aman dan damai hidup di sana.

“Maka kupikir, tanah-air adalah di mana tidak ada kekejaman antara orang dengan orang. Kalau adat atau kebiasaan suatu nasion kejam, kukira lebih baik jangan punya tanah-air saja.”

Teto tak sendirian. Toh sejumlah penduduk sipil dalam novel ini diceritakan bergumam. Bahwa mengapa harus mengupayakan merdeka. Malah mengundang perang dan sengsara. Tak mengapalah ada Belanda. Yang penting sapi dan ternak aman. Yang penting bisa hidup, makan, kawin dan membesarkan anak dengan tenteram.

Tak apalah membayar pajak rutin kepada kompeni dan nipon. Yang penting damai. Tapi perjuangan menuju merdeka adalah dengan perang. Ini tak kondusif dan membuat rakyat sipil menderita. Lagi pula, toh pada akhirnya kemerdekaan Indonesia hanya buat kepentigan kalangan elit saja. Hadiah merdeka banyaknya dinikmati oleh preman dan kalangan culas yang sebenarnya berniat menjajah bangsanya sendiri.

Tapi, Kisanak sekalian pasti setuju. Kemerdekaan milik orang yang berani. Ia harus diperjuangkan. Makanya dalam roman, Teto sendiri diceritakan soal nuraninya yang gelisah menaruh hormat untuk Syahrir, pejuang kemerdekaan Indonesia yang kharismanya melumpuhkan.

Romo Mangun, sapaan akrab penulis, memang penulis tingkat expert. Dia keren sebab tak terbatas aturan-aturan bahwa menulis secara teknis harus begini dan begitu. Menulis saja. Alhasil, tulisannya bertutur, lawas tapi renyah. Selain akan menemukan rangkaian kalimat yang mengalir, kamu akan tersenyum sesekali, menemukan kalimat-kalimat aneh serapan dari bahasa kompeni. Ada juga kata-kata serapan seperti interesan untuk kata interest alias menarik. Parsitisapi untuk partisipasi. Entrupsi untuk kata Intruksi. Peripentip untuk kata Preventif. Penjelasannya disampaikan dalam catatan kaki. Makanya, kamu butuh konsentrasi tinggi dalam membacanya.

Romo Mangun juga banyak mengisyaratkan pandangan lelaki terhadap perempuan yang selalu dimulai dari pandangan fisik. Misalnya, pandangan soal pantat besar, dada montok, kulit mulus dan wajah cantik. Soal penghormatan terhadap perempuan, itu urusan nomor dua. Ia menceritakan soal sifat lelaki yang semacam ini dengan jujur dan mengarahkannya agar wajar.

Di roman juga ada kisah cinta. Antara Teto dan Atik. Meski saling cinta, mereka beda orientasi perjuangan. Atik pro kemerdekaan dan Teto “si penghianat”. Bak perilaku Buring Manyar dalam memilih pasangan. Si Betina memilih Jantan nya berdasarkan seberapa bagus sang Jantan membuat sangkar, dialah yang terpilih untuk jadi pasangan. Bagi Jantan yang tak terpilih, ia akan menghancurkan sangkarnya, dan akan membuat ulang sangkar baru untuk menarik betina lain. Pemilihan pasangan bagi Manyar berorientasi kepada masa depan, keturunan. Tak membabi buta melainkan sangat memperhatikan nasib keturunan.

Terus terang, alur percintaan mereka tak diceritakan detail, bahkan terasa ganjil di sana sini. Teto dan Atik saling auka sejak remaja, tapi terpisah sekian lama karena urusan beda orientasi perjuangan. Teto pengecut tak memperjuangkan cintanya, sehingga mereka terpisah sekian lama. Sementara Atik sangat logis memilih pria lain untuk dinikahi, tapi masih memendam cinta untuk Teto yang pengecut. Bagi saya, ini ganjil. Sungguh. Untunglah ini hanya cerita rekaan.

Ketika kondisinya telah damai, di mana Teto dan Atik sudah sama-sama tua, mereka paham kalau pada akhirnya cinta tak selalu harus bersama-sama. Cinta adalah saling menghormati kedaulatan pasangannya.

Cinta yang merdeka.

*tetep kalem

Nb: Makasih Mbak Kristi sudah dikasih pinjem bukunya. Makasih juga Mbak Risa atas rekomendasi bacaannya. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s