Doa Ramadhan

“Terlepas dari semua yang rutin dilaksanakan tahunan ini, semoga semua kita bisa menangkap makna penyucian diri darinya. Semoga tak jadi manusia-manusia merugi.” 

***

Menginjak hari ke sembilan Ramadhan. Saya merasa harus mengucapkan selamat datang padanya, secara tertulis, di sini. Oke. Saya tahu kalian semua sudah mengucapkannya sejak sembilan hari yang lalu. Ketika Ramadhan baru menginjak ambang pintu–seperti lazimnya selamat datang diucapkan. Biarlah. Memang sengaja saya mengunggu hari yang kesembilan, agar tidak sama dengan kebiasaan (haha, ngarang).

Selamat datang. Karena selama sebulan, tengah dimulai lagi ritual keagamaan massal yang diyakini punya sejumlah keistimewaan. Di mana katanya setan-setan dibelenggu, malaikat turun dan limpahan pahala tersedia buat kisanak muslim muslimat yang mau memperbanyak ibadahnya.

Selamat datang. Karena kemudian, semua orang bangun sahur di dini hari, tidak makan dan minum di siang hari, dan berbuka puasa di waktu matahari tenggelam. Pun semuanya berbondong-bondong merapat ke masjid dan musala. Menggelar sajadah dan mukenanya. Membuka kitab suci Alqurannya. Beriktikaf, bertadarus, bertarawih, bertahajud dan melakukan segala yang menyenangkan sesama melalui uang dan sikap yang baik hati.

Selamat datang. Meski sebagian merasa tak ada beda ramadhan dengan luar ramadhan. Lantas mereka tak menjalankan “kewajiban”. Tetap makan ketika lapar dan minum ketika haus. Yang punya malu melakukannya secara sembunyi-sembunyi. Tapi kelihatannya tak sedikit pula yang tak tahu malu. Meski keputusan untuk berpuasa murni urusan masing-masing individu.

Selamat datang. Meski dini lingkungan sekitar jadi rusuh di sejumlah lokasi. Ada yang bersemangat membangunkan sahur warga sekitar. Dengan imbauan berulang-ulang lewat speaker, diselingi ngaji Alquran dan shalawatan. Biar terdengar semua warga sekampung. Tapi yang kebangetan ialah mereka yang senang meledakkan petasan. Pelakunya pasti anak-anak kecil yang senang keramaian. Ah, diambil positifnya saja. Mungkin mereka senang dan bersemangat membangunkan masyarakat agar tak telat makan sahur.

Selamat datang. Ketika waktu berbuka selalu semarak dengan ragam makanan dan jajanan. Tukang dagang kolak dan es beraneka ragam tumpah di jalan dan rumah makan. Menyambut para kisanak dan nisanak yang lagi ngabuburit dan ingin berburu santapan berbuka. Kaum ibu di rumah tak mau ketinggalan, bersemangat membuat masakan istimewa. Sebagai bagian dari warga muslim, dulu saya kerap menimbun jajanan sejak siang. Begitu juga kah perilaku kalian? Anak-anak memang punya perut dengan daya tampung maksimal. Buka puasa seperti balas dendam membayar derita lapar dan haus seharian. Masa kecil memang menyenangkan.

Selamat datang. Ketika televisi dan media massa jadi serba “syariah”. Lagu yang diperdengarkan bernuansa Islam, sinetron di semua stasiun televisi kompak pakai kerudung, pakai istilah keagamaan yang dekat dengan Islam. Reality show dan paket-paket acara juga berperilaku serupa. Pandai mengambil hati masyarakat mayoritas yang sedang semangat berpuasa dan mengimbanginya dengan aroma religi.

Selamat datang. Meski harga pangan kembali jadi merangkak naik. Selalu begitu setiap tahun. Harga beras melambung. Harga bawang merah jadi berasa perih di kantong. Pun cabai rawit jadi makin pedas harganya di saku rakyat jelata macam kita. Hehe. Lantas pemerintah sok-sok an nampang, mengupayakan pengendalian harga. Dari mulai memantau pasokan produksi hingga memantau alur distribusi. Menenagkan masyarakat.

Selamat datang. Sungguh ini negara yang unik sekaligus damai. Kita bebas mengadakan acara buka puasa bareng bersama-sama. Bergilir, dari kelompok teman yang satu dengan yang lain. Momen kebersamaan memang harus diupayakan. Agar kedekatan antar teman diharapkan makin tulus dan seimbang. Meski tetap yang paling nikmat adalah berbuka puasa dengan keluarga, makan masakan ibu.

Selamat datang. Ramadhan. Terlepas dari semua yang rutin dilaksanakan tahunan ini, semoga semua kita bisa menangkap makna penyucian diri darinya. Semoga tak jadi manusia-manusia merugi. Maka, Tuhan, bantu kami.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s