Rindu Strikam

“Uang di saku per bulan mungkin saja menebal. Tapi bisakah ia membeli kebersamaan dengan teman-teman sekolah, yang tercerabut setelah lulus kuliah? Jika bisa, berapa harganya? Ah, saya berharap gaji saya sebulan cukup untuk membayarnya.”

***

IMG_20150620_204347

Kalian tahu, kostum bernama Toga. Itu baju gombrang berwarna hitam yang kerap digunakan para sarjana ketika hajatan wisuda. Kalian juga tahu, kan, bentuk topinya yang aneh. Itu loh, topi bulat yang atasnya datar berbentuk segi lima, dan di tengah-tengahnya ada tali yang menjuntai. Ketika si sarjana dikukuhkan kelulusannya oleh rektor, tali tersebut dipindahkan dari sisi sebelah kiri ke sebelah kanan. Konon kabarnya, itu simbol harapan, agar setelah lulus, si sarjana tak melulu mempergunakan otak kirinya. Ia diminta bisa lebih mempergunakan otak kanannya. Agar kreatif bersosialisasi dalam menghadapi “dunia yang sebenarnya” di masyarakat. Kreatif, agar sukses dan beruntung.

Institusi pendidikan, sekolah, merupakan tempat di mana anak-anak dan remaja kebanyakan bertumbuh. Mendapatkan pelajaran, pengajaran, para guru dengan beragam karakter, serta teman-teman yang menyenangkan sekaligus menyebalkan. Seperti terpisah dari masyarakat umum, masuk di dunia kecil, sekolah menjadi tempat bertumbuh yang eksklusif. Sebab katanya lembaga ini disiapkan untuk generasi muda menghadapi dunia yang sebenarnya, setelah mereka memeroleh ijazah kelak. Begitulah tradisinya, di negara saya tercinta bernama Indonesia.

Dunia kecil ini cukup aman dan nyaman, tapi kemudian seiring berjalannya waktu, seorang siswa harus menjalani ujian dan mengucapkan selamat tinggal kepadanya. Begitu pun ketika di kampus. Lembaga terakhir untuk kemudian menginjak dunia yang lebih luas, menjangkau mimpi dengan kaki-kaki sendiri. Yang ditinggalkan bukan hanya institusi, tapi juga segala yang ada di dalamnya. Termasuk yang terpenting. Teman-teman sepermainan.

Setelah lulus dari kampus, ada acara perpisahan. Kita berfoto bersama, katanya ingin mengabadikan kebersamaan. Di sana, kemudian masing-masing dari kita berucap, akan berusaha meluangkan waktu agar sesekali bisa bertemu dan bernostalgia. Masing-masing dari kita juga berjanji akan saling jaga komunikasi, karena media sosial begitu bertebaran dengan beragam jenis.

Lantas setelah itu, kita pun berpencar. Menjalani nasibnya masing-masing. Bagi yang bekerja, salah satunya saya, kita bekerja keras untuk mandiri, membuktikan kemampuan untuk perusahaan, mencari gaji besar, agar setidaknya mampu makan kenyang dari penghasilan sendiri, membeli barang-barang mahal dengan uang gaji sendiri. Tampaknya menyenangkan.

Bagi yang menikah, ia bekerja keras pula mengatur urusan rumah tangga, juga urusan suami, istri maupun anak. Otak kanan benar-benar dipergunakan sebab setiap hari selalu ada kejutan. Bagi yang berbisnis, mengerahkan segenap kreativitas tampaknya menjadi prioritas. Maka saya salut dengan para pebisnis. Mereka menjadi bos untuk urusan finansial mereka sendiri. Pun, bagi yang merasa belum jelas tujuan hidupnya, tetap ia harus kreatif bekerja keras, agar melewati hari dengan berguna untuk orang-orang di sekitarnya.

Bagi pekerja keras, apapun kesibukannya, uang di saku per bulan mungkin saja menebal. Tapi bisakah ia membeli kebersamaan dengan teman-teman sekolah, yang tercerabut setelah lulus kuliah? Jika bisa, berapa harganya? Ah, saya berharap gaji saya sebulan cukup untuk membayarnya. Jika tidak, saya rela menabung untuk membelinya. Saya tebak, pasti harganya teramat mahal.

Lantas ketika uang itu ada, di mana dan kepada siapa bisa membelinya? Sungguh, saat ini saya ingin membayar untuk kebersamaan yang mahal itu. Sebab sungguh rindu berkumpul lagi. Rindu berjalan bersama-sama kalian mengitari kampus sambil berfoto-foto ria. Rindu makan seblak di Kopma sambil ngeceng senior di Mahapeka dan Suaka. Atau mengobrol dengan Mang Asep Cuanki.

*Rindu kalian. Sekumpulan Strikam. Kapan-kapan saya akan bercerita khusus tentang mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s