Dilan-nya Pidi Baiq

Pidi Baiq memang penulis yang nggak disiplin, makanya dia jadi asik-asik tulisannya. Menghibur, seperti biasanya. Kali ini baca bukunya yang berjudul “Dilan”. Kali ini bukan mau review buku. Kali ini hanya ingin komentar soal kisah Dilan dan Milea yang dikisahkan Kang Pidi. Kali ini hanya ingin sedikit komentar sedikit soal cinta. Kali ini, ah, terlalu banyak “kali ini” disebut di paragraf pertama. Haha..

Kisah Dilan dan Milea dikisahkan secara ringan, makanya sehari juga bisa beres kamu membacanya, dan terhibur. Dilan dikisahkan sebagai sosok yang percaya diri dan berani, juga pintar bicara. Sementara Milea adalah gadis cantik yang ditaksirnya. Mendekati Milea, Dilan punya cara unik yang bikin Milea tertarik. Dilan tak pakai cara-cara mainstream. Misalnya dia mendatangi Milea dengan percaya diri dan sukses merangkai kesan pertama.

Berikut kutipannya:

Selamat pagi”

“Pagi”, kujawab, sambil menoleh kepadanya sebentar

“Kamu Milea, ya?”

“Eh?”, kutoleh dia, memastikan barangkali aku kenal dirinya. Nyatanya tidak, lalu kujawab: “Iya”

“Boleh gak aku meramal?”

“Meramal?”, Aku langsung heran dengan pertanyaannya. Kok meramal? Kok bukan kenalan?

“Iya. Aku ramal, nanti kita akan bertemu di kantin”.

Noh kan, diceritakan kemudian, Milea mulak tertarik pada sosok Dilan, meski dia sudah punya pacar yang sesungguhnya tak menyenangkan. Tentu saja Dilan tak berhenti sampai di sana. Pergeraka  kedua, Dilan mengirimi Milea surat. Berikut petikannya:

Itu adalah surat undangan yang ditulis dengan mesin tik di atas kertas HVS. Aku langsung bisa nebak, surat itu dia bikin sendiri: “Bismillahirahmannirahiim. Dengan Rahmat Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dengan ini, dengan penuh perasaan, mengundang Milea Adnan untuk sekolah pada: Hari senin, selasa, rabu, kamis, jumat dan sabtu”. Semua nama hari-hari itu, disertai dengan tanggal.

Satu lagi. Ada petikan menarik selanjutnya:

Dia mendatangi meja kami, dan menyapaku:

“Hei, Milea!”

“Hei, Dilan”

“Cuma nyapa”

Lalu dia pergi bersama kedua temannya, entah kemana, mungkin ke kelas, tapi sebelum pergi, dia bicara ke Nandan:

“Eh, Dan, kamu tahu gak?”

“Tahu apa?”

“Aku mencintai Milea?”

“He he he”. Nandan tersenyum sambil sekilas memandangku. Rani, Dito dan Jenar, semuanya ketawa. Mukaku pasti merah.

“Tapi malu mau bilang”, kata Dilan lagi

“Itu, sudah bilang? He he” Nandan ketawa kecil

“Aku kan bilang ke kamu, bukan ke dia”

“Dia denger kan?”, tanya Nandan

“Mudah-mudahan”

Begitulah Dilan. Penuh percaya diri. Dan banyak lagi kutipan selanjutnya. Tak mau saya kutip banyak-banyak. Sila baca sendiri bukunya.

download

Dan Milea, si cantik yang banyak diminati pria lainnya, tentu saja merapat pada sosok Dilan yang pandai menunjukkan ketulusan. Cerdik membuatnya merasa istimewa. Melalui buku ini, Kang Pidi Baiq semacam ingin memberi tips bagaimana mendapatkan hati wanita. Atau, bagaimana cara menunjukkan perasaan dengan menyenangkan, tak berlebihan, tak dibuat berbelit-belit karena memang cinta itu seharusnya tak dibuat rumit. Tapi juga tetap elegan, sopan dan nggak basi.

Itu kisah Dilan, yang sungguh bikin saya iri. Saya kebalikannya Dilan dan Milea. Betapa sulit menunjukkan perasaan. Mungkin malu. Gengsi. Hahaha.. Biar aja, Dilan ya Dilan, saya ya saya. Bahkan saya lebih baik karena bukan tokoh rekaan. B-) Tapi terima kasih. Kisah Dilan sungguh menghibur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s