Pebisnis Necis

“Apa-apa yang tampak menyenangkan dan serbamudah belum tentu tampak seperti yang terlihat. Begitu pun sebaliknya.”

Di gedung tinggi lantai sembilan, sekumpulan orang-orang kelas atas berkumpul mengadakan sebuah perhelatan. Pameran bisnis. Yang lelaki berpakaian ala eksekutif kantoran, lengkap dengan dasi dan jas. Yang wanita tampak cantik dengan riasan make up mahal dan gincu, gaun dibalut blazer dan hak tinggi. Semua belia, bersih dan wangi, penuh percaya diri. Brr.. hembusan angin AC di ruangan tersebut membuat saya merinding.

Tersebutlah kisah anak-anak muda necis yang piawai berbisnis. Usia sekitar 20-23 tahun. Maklum saja, empat tahun mereka menempuh sekolah khusus bisnis berinisial PM dengan uang masuk Rp 40 juta. Model pendidikannya setingkat S1 dengan bayaran setiap semesternya Rp 14 juta. Masing-masing dari mereka punya rintisan usaha yang akan dipromosikan di hadapan para investor. Wow, bukan? Beberapa di antara mereka lantas saya wawancarai untuk kepentingan pekerjaan. Nantinya mereka akan nampang membawa kisah pengalaman bisnisnya di salah satu rubrik koran. Satu halaman.

Bersinggungan dengan mereka cukup mengesankan sekaligus menggelitik usil di benak. Anak-anak ini memang sudah dicetak dan diarahkan menjadi pebisnis andal dengan segala ketersediaan. Urusan modal uang–yang kerap jadi kendala seseorang ketika ingin memulai bisnis–bukan masalah bagi mereka. Mau sejuta, dua juta, sepuluh juta bahkan satu miliar pun mereka bisa dapat dengan mudah. Pinjam uangnya dari orangtua, kerabat, yang notabene memang konglomerat.

Strategi bisnis berikut antisipasinya pun telah mereka rumuskan dengan matang. Dibantu para pembimbing sekolah, juga para alumni berpengalaman. Maka permasalahan menjadi wirausaha bagi mereka ada di peperangan ide belaka. Di mana mereka fokus membuat bisnis baru yang out of the box, yang menarik perhatian khalayak, juga kesabaran dan ketekunan ketika bisnis dimulai. Lantas, gelontoran omzet dengan jumlah fantastik pun menghujani mereka.

Di sisi lain, nun jauh di gedung tinggi yang ber-AC di sebelah sana saya, saya menyaksikan seorang bapak tua yang berjualan gorengan bertahun-tahun. Dari zaman ia bujangan hingga punya sebelas anak. Modal pinjam sana sini, harus bayar sewa gerobak per bulan, padahal keuntungan per hari tak seberapa. Peluhnya setiap hari bercucuran untuk mendorong gerobak ke sekolah. Tak sempat ia rehat sambil menikmati makanan enak bersama keluarga tercinta. Waktunya habis seharian untuk menggoreng bala-bala, tahu dan pisang molen.

Si Bapak gorengan pastinya juga tahu soal strategi bisnis. Meski ia tak pernah sekolah dengan SPP Rp 14 juta satu semester. Meski ia tak pernah dikenalkan dengan investor untuk mendukung pengembangan bisnis mereka. Ia tahu bahwa pelanggan menginginkan gorengan yang enak dan fresh. Makanya ia atur kapan harus menggoreng dan kapan harus berhenti agar gorengannya tetap hangat ketika dibeli. Ia juga pakai hitung-hitungan, berapa keuntungan harian dari hasil jualan, yang minim penambahan kecuali nombok karena kebutuhan keluarganya di rumah membengkak.

Betapa jomplang cerita hidup yang tersaksikan di depan mata. Mereka seperti berjalan masing-masing. Karena memang keduanya beda kasta. Yang kaya berkumpul dengan yang kaya, dan yang berlagak kaya, dan yang miskin berkumpul dengan sesamanya pula. Lihatlah karakteristik konsumennya pun berbeda. Yang satu mereka yang suka nongkrong di kafe dan rela membayar mahal untuk pergaulan dan kenyamanan. Yang satu lagi kebanyakan orang-orang yang mau serba murah meriah.

Nasib orang beserta pilihan mereka telah diatur. Pakai campur tangan Tuhan yang Mahaadil, tentunya. Klaim itu selalu saya jaga dalam diri. Di sisi lain, saya pun tak tahu kondisi yang sebenarnya. Hanya sok sinis dengan si kaya, dan sok bersimpati untuk si miskin. Itulah kenyatannya. Lalu saya siapa. Hanya penyaksi cerita yang bukan golongan keduanya. Berkali-kali saya wanti-wanti diri, bahwa rumput tetangga selalu lebih hijau. Maka tak boleh usil. Apa-apa yang tampak menyenangkan dan serbamudah belum tentu tampak seperti yang terlihat. Begitu pun sebaliknya. Tuhan pasti punya maksud dari segala yang tampak jomplang ini. Berpikir positif saja. Seperti seharusnya.

Biarlah yang terasa jomplang tetap jomplang. Ada bayaran kebahagiaan dari peluh yang menetes, ada tanggung jawab berat pula dari setiap kemudahan dan kenyamanan hidupnya orang kaya. Tak boleh menggeneralisir. Masing-masing sudah diberi bahagia dan sedih sendiri-sendiri. Siapapun orangnya, bagi yang bekerja keras, dialah yang akan dapat bahagia lebih banyak. Itu janji Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s