Seperti Tikus

images

“Manusia katanya seperti tikus, takut kurang, takut bencana, lalu membuat tanggul perlindungan diri, antisipasi.”

Sepekan ini dijejali garapan pemberitaan bagaimana negara memasok beras nasional lewat Badan Urusan Logistik, soal keamanan dan kedaulatan pangan, berujung pada situasi Indonesia yang katanya tengah lemah ekonominya. Cerita hidup itu terlalu berjejal dalam kepala. Dan sepertinya saya terlalu sok berlebihan memikirkannya. Tak banyak yang ingin ditulis. Hanya ingin berbagi catatan yang terasa mendamaikan. Tulisannya Pak Putu Wijaya dalam buku berjudul “Goro-Goro” 441. Ditulis pada 2002.

Silakan membaca juga, siapa tahu hati Anda bisa ikutan adem sembari memikirkan tempat piknik menyenangkan.

***

Banjir

Oleh: Putu Wijaya

Banjir juga ada macam-macam. Ada banjir air dari luapan kali, kalau ada tanggul bobol, seperti yang terjadi Januari lalu sehingga jalan tol ke Bandara Soekarno-Hatta terhambat. Pesawat-pesawat yang biasa tak peduli pada penumpang yang terlambat, kali itu rela menunggu.

Ada juga banjir duit. Seorang anak kampung yang sedang dalam upacara khitan (sunatan) dibanjiri duit pemberian oleh kerabat dan kenalan. Kalau mau jujur, ia pasti ingin berkali-kali kebanjiran, karena berarti rezeki nomplok.

Seorang pejabat yang menduduki kursi empuk, juga kebanjiran bunga, paket. Apalagi di hari-hari raya, meskipun sudah ada larangan, banjir rezeki untuk menjilat pantat itu terus saja nomplok dengan segala macam terobosan.

Kata banjir memang mengandung arti berlimpahan. Sesuatu yang mendadak menerpa. Dan segala yang mendadak membuat jantung berdebar-debar. Walhasil, mempengaruhi kesehatan. Membuat orang bisa sakit.

Banjir mungkin lebih banyak bahayanya daripada untungnya. Karena itu, bukan hanya walikota sibuk membuat tanggul agar masyarakat terhindar dari banjir, manusia perorangan juga. Semua orang membuat barikade-barikade yang membatasi dirinya dari segala kemungkinan banjir.

Agama, tata krama, susila, ajaran moral, pendidikan, membantu manusia membangun dinding pertahanan pribadinya dari banjir. Untuk itu tidak sedikit uang yang dikeluarkan, karena memang membangun tanggul dalam batin itu susah. Habis, tidak kelihatan.

“Memang tanggul seperti tidak ada gunanya di masa tidak ada banjir,” kata Pak Amat. Bahkan kalau ternyata tidak ada banjir, nampaknya seperti mubazir, dibuat-buat begitu. Tetapi jangan terlalu percaya. Rasa aman yang diam-diam tertanamkan karena adanya tanggul yang melindungi kita, itulah labanya. Kita jadi tenang bekerja. Enak tidur.

Asuransi contohnya. Tabungan juga. Kalau punya persediaan, hidup orang seperti dilindungi tanggul. Makanya, manusia semua tak ubahnya dengan tikus yang selalu menumpuk, selalu menimbun persediaan di gudang., takut akan datang masa sulit.

Kita harus selalu siap beras di zaman paceklik. Meskipun sudah beberapa kali terbukti ramalan paceklik meleset, tidak ada salahnya meneruskan kebiasaan menimbun. Memang risikonya dianggap pengacau ekonomi. Tetapi, siapa yang bukan pengacau ekonomi di dunia ini?

Bu Amat sependapat dengan Pak Amat soal menabung. “Asal jangan ketakutan banjir menjadi penyakit dan berhala. Hidup nanti malahan akan menjadi ketakutan. Kita akan selalu berada dalam keadaan serba takut. Padahal nyerempet-nyerempet bahaya itu banyak gunanya untuk membuat kita terasah,” kata Bu Amat.

Ami yang tidak sependapat.

“Ketakutan pada banjir adalah warisan lama dari hidup yang dikuasai oleh alam,” kata Ami. “Itu keliru besar! Orang Timur seperti kata Pak Sutan Takdir Alisjahbana almarhum memang membiarkan dirinya dikuasai oleh alam. Ketakutan pada banjir pun, adalah bagian dari produk budaya takut kepada alam itu. Sekarang kita hidup di masa teknologi tinggi, alam kita kuasai. Tidak ada banjir yang datang mendadak yang tidak diketahui. Semuanya bisa dideteksi sejak awal. Jadi, pola hidup tikus yang takut kepada bahaya banjir, sudah kuno. Itu sangat primitif. Kita sekarang hidup dalam suatu perencanaan yang pasti, jangan buang energi untuk sesuatu yang tak perlu!”

Perbedaan memandang banjir berkibar di rumah Pak Amat. Tapi keluarga itu rukun. Tetap makan bersama di meja. Selalu ramai-ramai nonton Srimulat di depan layar televisi. Sekali-sekali piknik ke Makro, Careefour atau pusat perbelanjaan yang lain. Karena piknik ke Puncak atau ke tempat lain sudah mahal. Perbedaan konsep banjir tak membuat mereka lupa bahwa mereka satu keluarga.

“Ada yang sudah kita lupakan sekarang,” kata Bu Amat. “Kita punya kepentingan yang sama untuk piknik. Kita punya kepentingan yang sama untuk menikmati suasana damai. Kita punya kepentingan yang sama untuk menjadi sebuah keluarga. Mungkin untuk itu harus ada hari Minggu buat para aktivis, buat para politisi, buat semua orang-orang yang militan, untuk piknik di dunia ini. Barangkali itu bisa membuat kita kembali bersatu dalam damai.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s