Pria ATM

Saya tak tahu berapa usianya, tapi sepertinya dia pria berusia di bawah 30 tahun. Entah namanya siapa, kami tak berkenalan. Mula-mula pria berbatik cokelat ini hanya menyapa, ketika saya tengah mengetik sendirian di satu sudut toko makanan dan minuman. Ah, sebetulnya saya tak sendirian. Ada penjaga toko dan banyak pelanggan lainnya di sini. Sibuk dengan urusannya masing-masing.

Si pria awalnya juga hanya sibuk di samping saya. Berhadapan dengan mesin ATM yang tengah dibongkar. Ada flashdisk tergantung di lehernya, serta sejumlah CD dan selotip. Entah sedang apa, untuk apa. Saya awalnya tidak peduli, hingga kemudian dia nyolek punggung saya.

“Kuliah di mana?”

“Kerja.”

“Kerja di mana?”

“Reporter koran,” kata saya singkat, lantas balik memalingkan wajah ke layar laptop.

Ayolah pria ATM. Jangan mengacaukan rencana saya hari ini untuk mengakrabi hening. Siapa pula kamu. Hanya orang asing.

“Saya pikir masih sekolah.”

Oke, jawab saja dengan senyum.

Saya kembali mengetik. Dia kembali dengan mesin ATM-nya.

***

Beberapa menit kemudian…

“Mbak berarti kerjaannya membuat jurnal ya? Membuat berita?”

“Iya betul.”

“Emang enak ya kerja di lapangan.”

“Iya.”

“Bebas, ga banyak duduk diam, nggak didikte, ngetik aja bisa sambil main di sini.”

“Iya.”

“Udah punya pacar mbak?”

“Engga.”

“Pacaran sama saya aja? Hehehe,” sambil nyengir.

“Engga makasih.”

“Hehehe.”

“Kenapa ketawa, Mas?”

“Engga apa-apa, Mbak.”

Oke. Pria ATM ini random sekali topik pembahasannya. Kenapa sekarang dia yang berlagak seperti wartawan: nanya-nanya orang asing. Saya duga, sepertinya dia kesepian atau mungkin bosan, makanya iseng mengajak ngobrol siapapun di dekatnya. Kebetulan itu adalah saya. Jadi, sebelum dia lebih ngelantur, saya sebaiknya mengalah dan mengambil kendali percakapan.

“Ngerjain apa sih Masnya?”

Dia masih nyengir. Mungkin masih menertawakan jawaban saya soal pacaran.

“Mbaknya serius banget,” katanya.

“Oh, enggak mas, biasa aja, haha,” tuh lihat. (Saya tertawa, kan? Saya juga tahu kok kamu hanya bercanda).

“Saya belum ada pacar loh, Mbak,” katanya lagi. Sambil nyengir lagi.

“O, saya kan nggak nanya, Mas, haha. Jadi Masnya lagi ngerjain apa? Bukan mau bobol ATM kan?”

“Ini kerjaan bulanan, Mbak, merekap data transaksi ATM,” katanya.

Baiklah. Sekarang giliran saya jadi pengendali percakapan. *merasa menang.

Dia pun mulai menjelaskan soal pekerjaannya. Yakni bagian IT. Menjadi konsultan perbankan yang tugasnyamem-back up data-data transaksi di ATM secara rutin tiap bulan. ATM dibongkar, diambil datanya, dikopi ke flashdisk, lalu diburning ke CD. Perusahaannya bekerja sama dengan bank anu dan bank ani. Meskipun bank sudah punya data transaksi otomatis, tetap ada back up olehnya dan perusahaannya untuk keperluan verifikasi. Mungkin untuk keperluan audit atau yang lainnya.

“Abis ini berarti ngider lagi ke ATM lain?”

“Iya mbak, saya hari ini kebagian wilayah Pejaten,” katanya.

“Oke Mas, dadah selamat bekerja.”

Profesi Pria ATM ini unik juga. Pekerjaan berseliweran di mana-mana. Tuhan sudah membaginya dengan adil, seperti juga adilnya ia ketika membagi rezeki kepada semesta setiap harinya. Bersyukur itu sikap hati yang sungguh mahal, Kelana.

***

Kelana. Kamu pun tahu, saya terbiasa setiap hari berhadapan dengan orang asing. Termasuk ketika menghadapi pria ATM yang baru saja berlalu. orang asing berseliweran di mana-mana. Terkadang dari sekian banyak mereka, ada interaksi sambil lalu, untuk kepentingan tertentu. Kisah hidup saya saat ini serupa flash fiction. Dimulai dari hal asing, bersinggungan sekilas, lalu berlalu tertiup angin. Lenyap.

Kelana. Awalnya saya lelah. Sebelumnya saya terbiasa mengekang orang lain lantas melabelinya sahabat, penasihat, atau teman dekat. Lalu saya menuntut mereka selalu ada dan memperhatikan segala keinginan. Atau mendengarkan segala kebutuhan. Tapi itu di masa lalu. Menghadapi hal-hal asing hari ini, saya tak mau lelah hati lantas merugi lagi. Kepada hal hal asing yang datang dan pergi. Seharusnya memang dibiarkan saja mereka melakukan pergerakan. Biarkan jika benda asing itu mau menyapa untuk kemudian pergi. Jika beruntung maka ada kisah yang bisa dipetik untuk pembelajaran hidup. Lalu lenyap lagi. Asing lagi. Begitu berulang-ulang setiap hari.

Hidup tanpa teman tanpa relasi. Sama sekali tak perlu merasa sepi dan menyedihkan. Justru kamu beruntung karena tak perlu lelah menghampiri masa lalu beserta semua orang yang sempat hadir mengisi hari. Hidup tanpa relasi merupakan cara aman untuk menghindari segala tuntutan, meredam keegoisan juga kekecewaan.

Pria ATM dan manusia-manusia asing lainnya. Biarkan mereka datang dan pergi, bebas berseliweran. Jangan dikekang. Jika ada persinggungan, bersikaplah yang baik. Sediakan apa yang mereka butuhkan, semampumu. Sebisa mungkin jangan melukai orang asing. Jika tidak, tetaplah duduk manis di sini. Di balik kaca bening. Menyaksikan semua yang asing.

Oke, senyum dulu yuk sambil tebak gambar berikut ini:

Screenshot_2015-06-04-22-01-09

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s