Review Buku “Rembulan Tenggelam di Wajahmu”-nya Tere Liye

“Ini kisah tentang bagaimana belajar menerima bahagia dengan sederhana.”

20150528_205456

Rehan alias Ray adalah yatim piatu. Tumbuh sejak bayi di panti asuhan. Tak jelas siapa bapak ibu. Karena banyak tertekan, ia kerap melawan. Bahkan seiring usia yang bertumbuh, ia menjadi cerdas dan kuat dan lebih tangkas lagi melakukan pemberontakan. Mencuri, berjudi dan segala hal yang mungkin dilakukan untuk bertahan: dari perasaan pahit hidup.

Banyak pertanyaan dalam hidup. Salah satunya, mengapa tampaknya kehidupan tidak adil? Karena berkali-kali sepertinya malang menimpa diri. Di mana banyak orang yang kita sayang meninggalkan kita atau mereka semua malah pergi ditimpa kemalangan. Di novel ini, ada jawaban versi penulis. Dikisahkan dalam rangkaian flash back kehidupan Abang Ray dari kecil hingga menjelang ajal.

Oke. Ini novel diterbitkan pada 2009. Sebagaimana novel pada umumnya, tokoh Ray dan semua karakter di dalamnya hanya rekaan belaka. Ia dituliskan untuk menginspirasi. Meski, tebal halaman novel ada 425 halaman. Ini tapi alurnya terasa lambat dan “nyinetron sangat”–mungkin ini efek kemarin saya baca novelnya Romo Mangun :-), tapi ada beberapa petikan paragraf tulisan Bang Tere (Penulis) ini yang penting banget untuk dikutip, dihayati, lalu diamalkan:

“Semua orang selalu diberi kesempatan untuk kembali. Sebelum maut menjemput. Sebelum semuanya benar-benar terlambat. Setiap manusia diberikan kesempatan mendapatkan penjelasan atas berbagai pertanyaan yang mengganjal hidupnya” (Hal 42).

Ada beberapa kesamaan dalam rangkaian novelnya Bang Tere yang sebelumnya yang pernah dibaca, misalnya Daun Jatuh tak Pernah Membenci Angin; Kau, Aku dan Sepucuk Angpau Merah; Bumi; Negeri di Ujung Tanduk dan Negeri Para Bedebah. Yakni soal hukum sebab akibat. Jika kita berbuat baik, akan ada akibat baik, entah kita sadar atau tidak. Begitupun sebaliknya. Dia pokonya salah satu penulis top, dengan gendre-nya sendiri. Dan di novel Rembulan ini, hukum sebab akibat itu begitu ditekankan.

Satu lagi kutipan penting:

“Kita membiarkan hati yang mengambil alih. Menduga-duga. Tidak puas mendua-duga, kita membiarkan hati mulai menyalahkan. Mengutuk semuanya” (Hal 200).

Hayo, apa ada yang tersindir? Saya sih iya. Padahal Tuhan itu sebagaimana prasangka hambanya loh. Ketika kita berprasangka baik kepada Tuhan, pasti hidup kita akan aelalu tenang. Meski semua orang bilang kita orang paling sial, karena tahu ada Tuhan bersama kita, hati ini akan senang. Hidup itu bukan karena penilaian manusia, bukan? Jadi, menduga-dugalah untuk dugaan-dugaan baik (menasihati diri sendiri).

Baiklah, review saya tidak panjang-panjang, kalau diteruskan malah curhat. Bacalah selengkapnya saja. Ada nasihat dari seorang penjaga perpus di kawasan Jatinangor. Namanya “Perpustakaan Batu Api”. Namanya Bang Anton. Kata dia, jangan pernah merasa rugi untuk membaca apapun. Karena membaca, apapun, termasuk melatih mata dan otak untuk menyerap lebih cepat, memahami lebih tepat, dan memunculkan candu untuk membaca lebih banyak lagi untuk memperkaya jiwamu.

Dadah dulu untuk hari ini. Mari tidur sebelum jadi upik abu. 😀

Satu respons untuk “Review Buku “Rembulan Tenggelam di Wajahmu”-nya Tere Liye

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s