Sakit

“Sakit itu mendewasakan.”

***

Sebelumnya saya mulai cerita, apa kalian masih ingat lagu berikut ini: “kepala, pundak, lutut, kaki, lutut, kaki, daun telinga, mata hidung dan pipi, kepala, pundak lutut, kaki, lutut, kaki”. Lagu ini biasa dinyanyikan ketika SD, di pelajaran olahraga. Menyebut anggota badan yang dimaksud lantas menyentuhnya. Jadilah tubuh kita berdiri dan membungkuk, untuk peregangan, serta otak kita yang mengakrabi nama-nama anggota tubuh.

Nah, anggota tubuh yang tersebut dinyanyian, kecuali pundak dan daun telinga, agak bermasalah sejak dua hari kemarin. Si kepala, lutut kaki dan lengan nyeri–maksa banget sinia buat nyambunginnya :-p . Buat saya, ini gak tertahankan, lalu jadilah cengeng, menangis di mata, mengalir di pipi, jadi beringus di hidung. Sudah tarik napas dan pakai metode penyembuhan diri dengan pikiran, mengalihkan pikiran ke hal-hal yang menyenangkan agar meski sakit tetap kalem, tak terlalu merintih dan bikin teman-teman khawatir lagi panik. Sudah pula nonton video-video Triplets Daehan, Minguk dan Manse. Tapi ternyata saya baru bisa berteori. Haha.

Kapok. Benar-benar kapok. Jadi sebelum si sakit datang, saya memang benar-benar lupa sarapan. Karena keasyikan mengerjakan suatu hal. Perut dibiarkan kosong sampai siang menjelang sore, lalu malah minum air ekstrak vitamin C. Habis sebotol. Di situlah mulai terasa aneh. Tak mau sakit, saya segera pergi ke warung nasi. Makan yang banyak di sana. Tapi sepertinya sudah terlambat deh. Kepala sudah mulai protes.

Dan… jreng jreng jreng, tengah malam seluruh badan juga protes. Mereka kesakitan, demam, racun bereaksi, memberi instruksi ke otak saya, dan diterjemahkan dengan sebutan “nyeri, demam dan ngilu”. Begitulah. Saya menangis sejadi-jadinya. Si nyeri bertahan hingga pagi, hingga siang, hingga sore. Lalu sore ditemani Binti, berobat ke klinik. Ada tumpukan obat mengerikan yang harus saya telan. Oke gak apa-apa, akan saya telan semuanya asalnya si sakit mau pergi. Jadilah, di sore hari kepala dan kaki tak nyeri. Mereka terbius oleh obat, dan membuat saya juga tertidur pulas.

Lucunya, si obat bius tak bertahan lama. Di pagi ini, nyeri datang lagi. Ah ya, biarlah untuk sementara ketergantungan sama benda pahit itu. Saya makan, mandi lalu minum obat. Syaraf terbius lagi. Sakit hilang lagi. Ini mengerikan, tapi dari pada saya nangis-nangis menyebalkan lagi, lebih baik makan dan minum obat yang banyak.

Atas sakit kemarin, saya sadar banyak hal. Bahwa sakit itu selain gak menyenangkan, tapi ia mendewasakan. Kemarin saya terlalu kekanak-kanakan, manja, minta diperhatikan, minta dilayani. Padahal saya harusnya bisa melakukan hal sederhana itu sendiri. Saya juga ternyata belum cukup sabar, ingin sakit segera hilang, tapi dengan cara yang salah: menangis. Ah, ke depan, kalau saya dikasih “rezeki” sakit lagi, saya harusnya ga mengulang kesalahan ini.

Kepada semua teman yang sudah direpotkan, saya sudah minta maaf. Mereka untungnya baik semua. Kata salah seorang teman, keluh kesahmu kepada teman adalah penanda ia ada. Ah, saya terharu mendengarnya. Terima kasih kepada mereka semua. Sebab kesakitan yang paling akut bagi orang sakit adalah ketika ia merasa ditinggalkan.

Begitulah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s