Review Novel “Burung-Burung Rantau” Karya Y.B. Mangunwijaya

20150514_152113

Marineti Dianwidhi. Gadis muda cerdas yang selalu resah hatinya, mempertanyakan banyak hal, soal ketidakadilan dunia, soal moralitas, pun soal hak-hak kelamin di masanya. Di kesehariannya, ia banyak menyibukkan diri dalam dunia kaum papa, membaktikan hidup di kampung kumuh berisi manusia-manusia tak beruntung.

Sayangnya, timbunan keresahan serta ragam aksi yang ia rintis itu dinilai oleh keluarganya sebagai “pemberontakan” yang nakal. Tapi beruntunglah Marineti, sebab punya seorang ayah yang baik. Ayahnya selalu punya banyak pengertian untuk anak gadisnya itu.

Diceritakan, Marineti sedang menempuh studi S2 dan tengah menghadapi penggarapan tesis. Kala itu, ia tertarik untuk membidik “Dampak Pengertian Semsta Kosmos Makro Maupun Mikro Bagi Pandangan Hidup, Tradisional Khususnya yang Bertrasisi di Indonesia”.

Itu baru judul awal yang perlu banyak revisi. Tapi judul ini membuat banyak orang merasa heran karena meski ia sangat concern dengan sosial, tapi tugas akhirnya justru mengarah pada astro fisika dan kimia nuklir. Baiklah, untuk urusan ini, Neti, panggilan akrabnya, punya alasan tersendiri.

Begitulah Neti, salah satu tokoh utama dalam novel Y.B. Magunwijaya alias Romo Mangun. Novel ini sebenarnya sudah beberapa pekan lalu saya baca, tapi kok ya semacam sempat minder menuliskan review-nya. Sebab ia terlampau mengagumkan, juga mencerahkan. Ini buku hasil rekomendasi teman saya, Risa. Maka, terima kasih banyak buat dia.

Lanjut soal isi novel, ini kisah tentang keluarga Letnan Jenderal Wiranto, seorang purnawirawan yang dulunya adalah calon guru yang sederhana. Tapi perang membuatnya menjadi tentara, lantas punya karier yang meroket, akhirnya sekarang ini ia membawa keluarganya di kedudukan yang terhormat di mata masyarakat. Maka Wiranto tetap merasa sebagai orang udik, manusia konvensional, yang ingin terus belajar dan mendengarkan.

Bersama istrinya yang cantik namun kurang peka humor, Yuniati, mereka menjadi saksi sekaligus pendamping kelima anaknya yang hidup pascakemerdekaan yang kesemuanya saling berbeda satu sama lain. Masing-masing menjelajah dunia dengan caranya sendiri. Yang mana pada intinya, kelima anak Wiranto bak burung-burung rantau yang tak lagi merasa terikat sebagai orang Indonesia. Tapi mereka bukannya tak nasionalis.

Anggraini Primaningsih selaku anak pertama, wanita karir yang mandiri dan cerdik. Menjadikan segala peluang untuk kepentingan bisnis. Ia bukan mencari harta untuk terlindung dari kemiskinan. Baginya, kekayaan dan kehormatan baginya adalah kebutuhan. Semacam kepuasan diri. Sementara yang kedua bernama Wibowo Laksono alias Bowo, doktor fisika-nuklir, anak kesayangan Yuniati yang tak suka bumi Indonesia untuk ditinggali, makanya ia menetap di Jenewa, Swiss dan bekerja di laboratorium internasional CERN.

Yang ketiga itu Letkol Candra Sucipto, pilot pesawat tempur yang meski dianggap punya  jiwa sekeras batu kasar, tetapi pada dasarnya hatinya intan. Makanya ia menjadi kakak kesayangan Neti. Sementara yang jadi adik kesayangan sekaligus satu-satunya milik Neti ialah Edi. Naas, ia meninggal karena narkoba. Edi yang ringkih dengan pribadi paling lembut itu pergi, menyisakan duka yang disikapi berbeda oleh tiap anggota keluarga.

Neti, sang tokoh sentral yang kerap mempertanyakan soal pernikahan pun akhirnya diuji. Ia jatuh cinta kepada bangsawan India bernama Gandhi. Darinya, ia belajar banyak soal karma dan kasta.

Sebagai novel filsafat, penulis membawa kita menuju pemikiran-pemikiran yang kaya. Bukan sekadar roman picisan, bukan pula cerita sendu serupa kumpulan cerpen “Oh Mama Oh Papa”. Romo Mangun makin mengagumkan dengan ragam analisis kealaman yang dibalut dalam wawasan sains. Membuat jiwa bergejolak, mengaduk-aduk perasaan.

Tapi penggalan paragraf di bagian prolog (halaman 404) sangat menenangkan:

“Berbahagialah, Neti, apabila kau masih dapat bertanya dan mempertanyakan. Berbahagialah yang masih dapat bertanya tanpa melihat jawabannya. Dengan ikhlas daj penuh kepercayaan. Sebab jikalau segala yang absurd kita jawab dengan sikap yang juga absurd, lebih malapetaka jadinya. Ataukah memang beginilah seharusnya? Menelan dan mencerna absurditas agar imun terhadap absurditas? Seperti orang harus disuntik dengan bakteri berbahaya agar kebal terhadap serangan maut bakteri yang sama, itu?”

Jadi, segera cari bukunya, Kawan. Ia bertebaran di toko buku maupun perpustakaan. Selamat membaca. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s