Mengakrabi Kematian 

(Review Film Departures-おくりびと-Okuribito-2008)

okuribito

“Kematian adalah jembatan menuju alam yang baru. Jasad ditinggal menjadi bangkai, sementara ruh berpindah ke tempat lainnya.  Apresiasi penuh buat mereka yang hidup, lantas berperan sebagai ‘Pengantar ke Jembatan’. Dengan segenap penghormatan.”

***

Beberapa waktu lalu, Ibu saya pernah bilang, ingin belajar bagaimana cara mengurus jenazah. Bagaimana berhadapan dengan orang di ambang ajal, bagaimana kemudian menghadapi jasad, memandikannya, mengkafaninya, lalu mengantarkannya ke liang lahat. Saya ingat, kala itu ibu berkata dengan muka yang teduh tapi bersemangat. Saya tak tanya alasannya, tak mengkritik maupun memujinya. Hanya tertegun. Ia tengah mencoba mengakrabi kematian.

Seperti sengaja disambungkan, kemudian baru-baru ini saya menemukan seorang teman, namanya Fuji, memperkenalkan sebuah film Jepang berjudul “Departures”. Rilis pada 2008–berarti saya out of date banget yak, haha, biarlah, dari pada tidak sama sekali–dalam suatu rangkaian pesan chatting grup pada 16 Mei 2015.

“Aku akhirnya menjadi anggota orkestra. Tapi dengan cepat itu jadi kenangan setelah orkestra dibubarkan. Cello yang kumainkan ini tidak bersalah. Tapi, hanya karena dibeli oleh orang sepertiku, ia kehilangan pekerjaannya. Meski untuk beberapa hal, cello ini juga kadang jadi beban. Aku memutuskan berhenti bermain cello di orkestra dan kembali ke kota asalku, Yamagata. Instrumen musik mengagumkan itu, kupikir merupakan titik balik luar biasa buat hidupku. Tapi untuk beberapa alasan, aku merasa lega akhirnya bisa melepaskan cello itu. Seperti tiba-tiba merasa bebas dari sebuah ikatan. Apa yang aku yakini sebagai mimpiku, mungkin bukan benar-benar mimpiku yang sebenarnya.” (Daigo Kobayashi. Okuribito).

Begitu penggalan paragrafnya. Singkat cerita, rasa penasaran saya terobati karena bisa menontonnya hari ini. 🙂 Dan ya, saya pun banjir air mata. Banyak adegan cerita yang bikin hati sesak. Tapi sebelum cerita, saya mau komitmen sama diri sendiri untuk tak “bocor” menceritakan kronologis film secara detail. Karena khawatir pembaca sekalian hilang rasa penasarannya. Haha…

Film dimulai dengan aura senyap dengan rangkaian prolog yang kalem. Sabar, saya ikuti menit demi menit. Maka film yang disutradarai oleh Yojiro Takita ini akan memamerkan kekayaan pemikiran disertai kejutan-kejutan yang pelik namun cukup mencubit-cubit batin. Menyoal kematian yang tak diceritakan secara mengerikan, tak pula berdarah-darah. Ini cerita tentang kematian yang elegan, terhormat, khidmat, indah. Juga tentang pelajaran bagi yang hidup, untuk belajar mengakrabi mati dari profesi “pengantar” jenazah.

Ini kisah tentang Daigo Kobayashi (Masahiro Motoki), mantan pemain Cello grup orkestra di kawasan Tokyo. Sebab sepi penonton, merugi, akhirnya grup orkestra dibubarkan. Bersama istrinya (Ryoko Hirosue), seorang penata grafis mapan, mereka pun pulang ke kota kelahirannya di Yamagata. Memulai hidup baru, pekerjaan baru: pengurus jenazah.

Awalnya ia merahasiakan profesinya itu dari siapapun. Sebab pekerjaan macam begini langka sekaligus sepi peminat. Siapa pula yang mau bersentuhan dengan jasad setiap hari, dengan beragam kondisi. Tapi Daigo adalah seorang pemain Cello. Pemusik yang cinta harmoni. Ia dengan pasrah melewati hidup dengan gesekan irama yang tak melulu seragam untuk jadi indah. Kadang hidup rasanya pahit, terasingkan, terhina, tapi kadang juga membahagiakan, damai, indah.

Daigo bertahan. Sehingga dari yang pahit dia menemukan manis. Sebab kematian memang bukanlah hal yang mesti dijauhi, apalagi ditakuti. Hingga di bagian akhir ada jawaban soal sosok ayah Daigo yang sempat menghilang. Mereka bertemu lagi, berdamai dalam sosok ayahnya yang telah tinggal jasad. Tapi momen ini yang terindah. Sungguh.

Lewat pengalamannya menyentuh sejumlah mayat dengan beragam kondisi, dari yang terekstrem sampai yang berwajah damai, memperhatikan para keluarga yang ditinggalkan, respons mereka, ia menemukan suatu pelajaran penting. Bahwa jika kita merasa hidup itu begitu berkah mulia, kenapa tidak memperlakukan hal yang sama pada kematian?

Dari film ini kamu juga jadi bisa tahu soal tradisi seni Jepang dalam mengurus jenazah. Serupa dengan tradisi yang diajarkan agama yang saya anut, Islam, ada ilmu soal mengurus jenazah. Agama lain pun pasti ada tata cara mengurus jenazah, bukan? Jika di Islam, mayat dibungkus jadi pocong, dibalut kain kafan yang putih bersih, maka di tradisi Jepang, ia diperlakukan berbeda. Tapi esensinya sama, mengakrabi kematian.

Yang tak kalah juara, itu loh, alunan musik Cello yang dimainkan Daigo. Itu terdengar khidmat. Membuat perenungan semakin dramatis (Haha. Biarlah lebay sedikit). Sekhidmat ucapan ibu saya tempo hari yang berniat belajar mengurus jenazah.

Jadi, film yang memenangkan penghargaan Academy Award 2008 untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik, serta Japan Academy Prize ke-32 untuk kategori Film Terbaik ini, sangat saya rekomendasikan untuk ditonton. Kamu bisa membeli filmnya di toko VCD, download, lihat di Youtube, atau minta soft file nya dari saya atau teman yang punya. Bagi yang sudah menonton, ini sangat bisa ditonton ulang, apalagi ketika kamu merasa hati sedang gersang.

Begitulah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s