Hantu Migas

“Sementara, segala perilaku nantinya akan dimintai pertanggungjawaban.”

***

Kali ini saya ingin menyampaikan kisah yang datang dari negeri bernama, sebut saja “Antah Berantah”. Cerita bermula dari berita salah seorang teman reporter setempat yang katanya bikin “heboh” jagat media. Ada Pejabat bicara soal Mantan Pejabat yang juga tokoh partai besar di Tanah air. Omongannya dijadikan berita sama si kawan ini. Dimuat di salah satu situs berita dalam jaringan tempat ia bekerja.

Sialnya, omongan Si Pejabat tak disukai Si Mantan Pejabat yang dimaksud. Beritanya dibaca, lalu Si Mantan Pejabat merasa difitnah dan direndahkan. Ia pun curhat di media sosial. Galau, mungkin. Seperti kelakuan abege zaman sekarang. Semacam lebay. Dalam curhatnya, Si Mantan Pejabat mempertanyakan maksud dari pemberitaan yang tersebar. Mempertanyakan alasan kenapa Si Pejabat bisa bicara begitu, merasa tersudutkan, membela diri, minta dijawab.

Lalu? Lalu, ya, Si Pejabat memberi jawaban saja lewat humasnya, bahwa pihaknya terbuka untuk berdiskusi. Lalu sebentar lagi mungkin wartawan akan mengerubunginya, minta jawaban atas curhat Si Mantan Pejabat, lalu semua yang terjadi membuat pemberitaan di media massa makin bergelora.

Seperti seharusnya. Begitu terus. Makin panas makin bagus. Semua orang suka tontonan yang “heboh”, bukan? Lalu … bla bla bla. Sebut saja, nama Si Pejabat Pak Sudir. Nama Si Mantan Pejabat Pak Beye, dan kawan wartawan penulis berita penyulut itu bernama Sap Sap. Yang dibicarakan itu loh, seksi. Urusan tudingan tak becus dalam pekerjaan memberantas mafia minyak dan gas atau biasa disingkat Migas. Mengiringi isu itu ada wacana pembubaran Petral, bagaimana pemerintahan sekarang berkacak pinggang, belagak galak terhadap segala penyelewengan.

Yang mengiringinya pula yakni cerita soal pengelolaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang jalannya tergopoh-gopoh, padahal ia sentral sebab menyangkut hajat hidup orang banyak. Mengiringi kecompang-campingan itu, ada pula kisah tentang upaya pengelolaan energi terbarukan yang belum terasa hasilnya.

Lihatlah, berita itu dimanfaatkan untuk urusan yang lebih keruh lagi. Kepentingan politik.

Yang ganjil dan bikin sedih, media tempat Sap Sap bekerja tampak bersorak. Seperti yang memang diprediksi sejak awal. Makin eksis media, makin banyak disebut, tentulah makin senang ia. Bagaimana dengan si pembuat beritanya. Seharusnya ia juga ikut sama-sama senang. Secara para atasan tampak senang dan memujinya bukan kepalang. Jika memang berita murni urusan perlombaan bagaimana menarik pembaca sebanyak-banyaknya, bagaimana menjadi penarik perhatian dan jadi leading isu.

Terlepas dari untuk apa pemberitaan model begitu menjadi panas. Seharusnya kita semua kompak senang-senang saja, bukan? Ya, lalu kenapa sayanya yang repot? Padahal sebaiknya cukup duduk manis dan menyaksikan pertunjukan saja. Eh malah jemari saya gatal. Dasar anak usil. B-) Lalu saya berkata pada diri sendiri. “Hei, dan lihatlah dirimu sendiri. Kamu siapa? Oo.. rupanya pelaku media juga, toh. Reporter yang juga jadi alat penyambung lidah masyarakat, pejabat, dan mereka semua yang berkepentingan, mereka semua yang bisa menarik perhatian.

***

Berita. Dengan ajaib ia bekerja. Memengaruhi orang. Menghimpun opini. Menjatuhkan satu pihak, menggembirakan yang lainnya. Katanya, berita dibawa oleh mereka yang paling berkuasa. Tapi sepertinya itu hanya mitos belaka. Toh si pekerja media, wartawan, ialah manusia yang berotak. Ia bebas memilih apa yang ingin dituliskan, angle apa yang ingin disampaikan.

Kembali ke kejadian yang saya ceritakan di awal, Sap Sap kawan saya itu juga manusia berotak. Dia membuat berita itu, pasti punya maksud. Bukan dikendalikan oleh “hantu” apapun. Iya dia bilang galau, pusing dan mengaku gak mau memperkeruh suasana. Sejujurnya, saya senang ia tak seperti orang kebanyakan. Ga nyangka Si Sap Sap bicara begitu. Baguslah. Setidaknya tebakan saya tidak meleset-meleset amat. Bahwa otak dia masih waras. Lega.

Yap, balik ke itu berita. Terlepas dari kemudian kantor girang, atau orang politik jadikan itu satu kesempatan yang “entah” di pikiran orang awam. Tapi nyatanya, BBM kita bermasalah. Ada mafia yang berlaku serupa hantu, yang selama ini hanya jadi desas desus saja. Yang kemudian menggerogoti jembatan negara menuju kedaulatan energi. Seperti kentut yang berbau busuk tapi tak ada penampakannya.

Ketika seorang pejabat sekelas Pak Sudir menunjuk nama secara gamblang, bahwa pemberantasan mafia migas selalu berhenti di meja Pak Beye, loh itu harusnya jadi awal mula penyelidikan urusan mafia migas. Pak Sudir selaku menteri seharusnya tak asal ucap. Pak Beye pun sebagai mantan presiden harusnya tak asal sanggah. Mereka harusnya menindaklanjuti berita Sap Sap dengan sejumlah bukti. Bukannya malah bete-betean serupa pasangan kekasih yang lagi marahan.

Dengan begitu, harusnya si pembuat berita berbangga hati, meski tetap ia juga harus tetap galau dan berniat tak memperkeruh suasana. Bagaimanapun, segala perilaku nantinya akan dimintai pertanggungjawaban. Makanya, bukan karena dipuji kantor. Bukan pula karena menjadi tenar. Setidaknya, ia sudah membuka jalan mendorong agar penampakan mafia migas terungkap, meski ini mungkin sebuah langkah awal yang berjalan seperti siput.

Tapi siapa yang tahu, dari beritanya, ada informasi bagus dari Pak Sudir maupun Pak Beye. Ketika itu dimulai, semoga berlanjut pada penampakan hantu mafia migas. Meski sebenarnya saya pesimis. Tapi soal hantu migas itu, jika saja para penegak hukum itu bisa menunjukkan wujudnya, bahkan hanya jari kelingkingnya saja, itu pasti melegakan kita selaku pemirsa.

Bukankah semua sepakat, makhluk serakah, apapun bentuknya, harus kena ganjaran.

Tapi yang terpenting, kehati-hatian tetap jadi syarat. Selama masih menyandang status reporter, beranilah. Siapa tahu sikap itu membuat seseorang bisa berpindah ke posisi yang lebih baik menurut dirinya dan Tuhan. Akhir kata, atas kejadian yang saya ceritakan barusan, saya rupanya masih menyimak dari sini. Negeri yang jenaka dan tetap tercinta bernama INDONESIA.

*sembari nunggu kereta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s