Si Kakang

“Para bocah zaman sekarang, kenapa mereka cepat sekali ‘dewasa’-nya ==’ ”

***

Kelana, ini barusan di hadapan saya ada “kapi adi” alias sepupu. Anaknya adik ibu saya. Usianya sepuluh tahun. Orangnya cakep dan pinter. Ya mau gimana lagi, nasib jadi sepupu seorang Sonia mah begini jadinya. Haha..

Tapi asli nih anak emang ganteng. Suaranya juga bagus kalau mengaji Alquran. Mungkin dia punya bakat turunan punya suara bagus dari ibunya yang memang seorang qori alias pelantun ayat Alquran yang cukup eksis di kampung. Kakang, begitu kami akrab menyapanya. Pagi-pagi sekali dia datang dengan penampakan yang menurut saya “wah”. Dan karena itulah, saya jadinya pengen komentar sedikit di sini.

Berbaju batik warna merah, bercelana bahan, sudah mandi, wangi, pakai bedak dengan baluran yang merata. Dan rambutnya itu loh, Kelana. Ada jambul mengkilap karena minyak rambut yang jatuh rapi ke sebelah kanan. Ouwoow. Dia menampilkan diri dengan pede nya.

Si Kakang minta saya cubit saking gemesnyaaa.

Hari ini orang sekampung lagi ada acara Rajaban alias perayaan Isra Miraj. Si Kakang kabarnya bakal tampil jadi pelantun ayat Alquran. Makanya tampilannya super duper begitu. Ah Si Kakang. Di genggamannya ada uang Rp 50 ribu. Katanya itu uang dari Umi nya buat jajan. Saya makin geleng-geleng kepala.

Si Kakang cerita, di sekolah kemarin ada sejumlah gadis kecil yang mengiriminya surat. Caranya bercerita sangat “cool” gaya abege yang gak mau ke ge er an. Dia sudah tahu, lelaki harus memilih satu. Dia memilih satu teman yang menurutnya terbaik. Namanya Mela. Aheyy.

“Isinya apa Kang, suratnya?” tanya saya sembari menahan tawa.

“Duka ah, da ku Kakang teu dibaca, sedil, da teu resep, langsung disoehkeun terus dipasihkeun ka Bu Guru.”

Kurang lebih artinya begini: Gak tau ah, sama Kakang gak dibaca, gak suka. Suratnya langsung dirobek terus dikasih ke Bu Guru.

“Loh, jangan gitu, Kang. Keren loh orang yang bisa nulis surat,” kata saya protes.

“Da alim,” sahutnya. Artinya, intinya ya gimana lagi, orang gak suka. Gak mau. Hahahaha…

Aduh, budak leutik jaman ayeuna.

Anak kecil zaman sekarang. Beda zaman beda ceritanya. Ketika di masa sekarang anak kecil dikelilingi gelimpangan gadget. Entah yang cewek atau cowok, mereka sudah kenal cerita-cerita orang remaja dan dewasa. Lewat film, iklan, sinetron, lagu dan contoh yang banyak di sekitar. Yang gadis kecil sudah gemar pakai gincu. Bersolek. Cepat menginjak masa puber. Di sisi lain, kegiatan di sekolah menuntut mereka membawa setumpuk buku yang beratnya berkilo-kilo dalam ransel. Mereka berkompetisi agar jadi yang terbaik. Harus jadi ranking satu. Sebab itulah yang “katanya” yang terbaik.

Mereka jadi tahu akan banyak hal. Mereka bisa belajar dan melihat banyak hal. Bahkan yang ketika umur sepuluh tahun saya tak tahu dan tak peduli dalam hal A, anak zaman sekarang di usia serupa malah jauh lebih tahu soal hal A ini. Di sisi lain, saya kok merasa kasihan karena mereka tampak kehilangan lahan dan teman bermain, disadari atau tidak. Jadilah mereka jarang berlari lagi bersama kawan lainnya, jarang berkejaran, jarang berteriak, jarang bertengkar, juga jarang tertawa dan menangis sesuka hati. Diganti fokus mereka dengan game dan sinetron remaja. Itulah anak kecil kebanyakan saat ini. Ah entah bagaimana nanti anak kecil di zaman anak saya nanti.

Jadi ingat masa kecil dulu. Boro-boro mikir dandan. Yang ada di pikiran cuma main, main dan main. Zaman sekolah juga yang diingat cuma main, main dan main. Waktu mengaji habis maghrib juga malah main. Ahaha.. ini jadi tampak seperti punya masa kecil yang gagal ya. Tapi ya bukannya anak kecil itu tugasnya main? Wew. Di mana seorang anak kecil kenyang berimajinasi, menggambar, menulis cerita, berlari, tertawa dan menangis. Ah, dulu saya sering banget menangis sampai dikatai cengeng dan anak bawang. Hoho

Jajan pun cuma sekali habis. Tidak dalam jumlah besar. Kalau mau jajan minta lagi sama ibu. Itu pun susah banget dapetinnya. Nontonnya tiap minggu dari pagi sampai siang. Kartun semua. Seragam. Dari mulai power ranger, sun goku, doraemon, conan, sailor moon dan yang lainnya. Tiap sore juga ada Yoko si pendekar rajawali, atau Kera Sakti. Kita semua yang satu generasi, punya tontonan yang sama, bukan?

Boro-boro cerita soal cinta-cintaan. Lah dikatain lope-lope sama si anu atau si ani aja malunya bukan main. Lalu kita saling hina, marahan, lalu baikan lagi, main lagi. Umur sepuluh tahun, ada sih suka-sukaan. Tapi lebih malu-malu, karena kagum. Kalau naksir ya malu-malu kucing, kalo ditaksir ya diomelin cowoknya karena gak mau diledekin temen yang lain. Tapi lihat anak zaman sekarang sudah main-main surat cinta lebih dini. Sudah ahli bilang “patah hati”.

Halah, repot.

Saya jadi pengen deh, Kelana, ada di tengah-tengah mereka. Bantu ngasih arahan soal bagaimana menulis surat yang baik, bagaimana menyampaikan perasaan, menyulut mereka agar punya perbendaharaan kata yang kaya, lalu menyaksikan mereka yang saling mengapresiasi sejak dini. *mengkhayal.

Ah, anak kecil zaman sekarang. Kenapa mereka cepat sekali ‘dewasa’-nya. Atau apakah malah saya dan generasi saya dulu yang lambat menjadi dewasa. Entahlah. Semoga mereka tetap jadi malaikat yang manis dan bertumbuh jadi dewasa dengan baik-baik saja.

*senyum-senyum natap Si Kakang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s