Ada Mereka, Saya Bahagia

15052015

“Saudara satu darah satu kandungan. Keberadaannya menjadi yang pertama-tama sebagai teman berbagi cerita bahagia sekaligus duka. Pun menjadi yang perdana sebagai teman bermain, bertengkar lalu berbaikan secara instan. Saudara Kandung.”

***

Mereka, yang mana sama-sama kita sebut “keluarga”. Bagi yang bukan anak tunggal, ada saudara kandung di dalamnya. Merekalah orang pertama yang mendampingi kita sejak kecil. Untuk jadi teman bercerita, bermain, belajar dan bertengkar. Kita sama-sama memulai kehidupan di tempat dan lingkungan yang nyaris sama, cuma waktunya saja yang berbeda. Ada yang lebih dulu, ada yang belakangan. Makanya ada istilah kakak dan adik.

Tapi menyoal periode waktu kelahiran di keluarga saya, kami sejak awal dan entah kenapa, diajarkan untuk menjadi setara. Tidak ada istilah “kakak, teteh atau Aa” untuk memanggil saudara kandung yang lebih tua. Atau adik bagi yang muda. Semua dipanggil nama. Yang besar terhadap yang kecil maupun sebaliknya. Kami biasa saja hingga saat ini. Meski kalangan luar menganggapnya aneh sebab tak lazim. Biarlah. Meski tak ada embel-embel pangkat di keluarga, toh rasa saling menghormati dan menjaga antarsaudara sepertinya tak kalah kuat ketimbang keluarga lainnya yang mengaku telah berlaku lazim. B-)

Setelah memulai masa kecil bersama, nyatanya semua sudah punya garis hidup masing-masing. Ada yang merantau di tempat yang jauh, ada pula yang telah kembali ke rumah, ada pula yang tengah menjelang masa perantauan. Yakni si bungsu Khotami. Dengan tetap, Ibu adalah penjaga gawang yang baik, yang setia, makanya ia yang paling terhormat.

Di situasi macam begini, saat liburan dan berkumpul adalah waktu yang menyenangkan, meski tak juga ditunggu, untuk berkumpul, bermain dan berbagi cerita di rumah orangtua. Ah apa pula kita ini. Saking santainya, apapun bisa dilakukan. Dari mulai bermain kartu remi atau ludo seharian atau bertanding game di komputer untuk mencari siapa pemegang skor tertinggi. Di antara kebersamaan itu ada saling berbagi cerita, juga tawa, juga tak jarang pertengkaran kecil yang wajar-wajar saja. Tapi tentu tak sampai saling cakar dan pukul seperti yang kami lakukan di masa kecil. Ini hanya perdebatan kecil dari komunikasi yang sehat dai jujur.

Loh ini saya jadi bingung alur ceritanya ke mana, haha.. tapi intinya ya kawan, ada mereka, saya bahagia. Mungkin situasi seperti ini bisa saja berubah. Ketika masing-masing dari kita sudah punya keluarga. Bapak pernah bilang, baiknya saudara kandung hanya di masa kecil saja. Kecenderungan saudara saling membela hanya sampai mereka membangun keluarga baru saja. Ketika mereka sudah punya keluarga masing-masing, akan beda lagi ceritanya. Karena ada keluarga baru milik masing-masing dari mereka yang tentu saja paling jadi prioritas. Itu Bapak cerita ketika membicarakan salah seorang di keluarga besar yang bertikai karena urusan harta warisan. Ada juga kakak adik yang saling iri dan ga nyadar sudah saling mempersaingkan kualitas anak-anak mereka.

Ah. Cerita iu harusnya jadi pelajaran buat kita agar tidak berlaku begitu. Saudara kandung tetaplah saudara kandung. Pernah tumbuh di rahim yang sama dari seorang ibu yang mulia. Semakin besar, seharusnya makin pahamlah kita soal bagaimana berbagi kepentingan dalam hidup. Jangan sampai sesama saudara saling membenci. Saya tak bisa membayangkan betapa buruk jadinya, jika hal itu terjadi. Tulisan ini, semoga ia jadi pengingat di masa depan. Itu pun kalau saya masih ada umur panjang.

Tapi ya sudahlah. Masa depan biarlah nanti terjadi seperti seharusnya. Saat ini saya sedang hangat mengintrogasi salah seorang adik yang tampak galau dengan tugas akhirnya, tapi gengsi untuk mengungkapkannya. Tak sia-sialah saya setahun menjalani profesi sebagai wartawan. Darinya, saya dapat banyak cerita kocak soal kelakuan para calon teknokrat macam dirinya itu di kampus. Tak detail memang. Ada banyak istilah mesin, fisika, kimia dan apalah itu yang tak begitu saya paham. Hehehe. Nanti akan saya ceritakan kemudian deh.

Tapi intinya, ada mereka saya bahagia. Begitu pun dengan kalian terhadap saudara-saudara kalian, bukan? Maka buat yang sedang bertengkar, segeralah berdamai. Coba ingat-ingat lagi masa kecil kalian. Ingatlah dulu, ketika kita semua masih jadi malaikat dalam sesosok “anak kecil”. Dengan pikirannya yang kerap dipandang sederhana oleh orang dewasa, mereka bijak dan begitu mudahnya memaafkan. Setelah bertengkar, selang beberapa menit sudah baikan. Setelah menangis bisa langsung tertawa lagi. Orang dewasa tak tahu, pikiran anak kecil bukannya sederhana, tapi mereka memang punya kebijakan hidup yang belum disadari, dibungkus dalam ketulusan dan bersih hati.

*sambil nahan perut laper. Kenapa di rumah ini saya selalu cepat lapar. Wow

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s