Hilya

“Bisakah untuk tidak menegaskan perpisahan. Semua orang datang dan pergi setiap hari. Maka seharusnya itu menjadi hal biasa.”

Kelana. Saya ingin mencatatkan ini. Sebelum rasa dan momennya menguap dibawa tidur nanti malam. Tentang seseorang yang sudah saya anggap sahabat baik sejak sekitar setahun yang lalu. Sebut saja namanya Hilya. Kita satu tempat kerja di surat kabar yang katanya ternama bernama Republika. Kita juga satu kosan.

Dari awal dia sudah menyapa dengan riang. Padahal ketika itu kita belum saling mengenal betul. Saking akrabnya, saya jadi risih dan mengambil jarak. “Ada apa dengan orang asing ini? SKSD?

Baiklah. Tapi saya tak merasakan maksud yang jelek sama sekali. Saya pikir, mungkin memang pembawaannya begitu. Dia seperti prihatin ketika saya diam. Ketika duduk di pojokan. Ketika berjalan sendirian. Ketika mengasingkan diri dari sekitar. Dan sama sekali saya tak mau dikasih simpati semacam begitu. Sebab cukup menyinggung gengsi. Tapi dia seperti tak mengizinkan ada seorang teman yang sendirian. Dia mencari, datang, bertanya, bercerita.

Awalnya saya jawab ketus. Merasa terganggu.

Tapi Hilya tidak menyerah. Ia terus mencari. Datang. Bertanya. Bercerita. Terlebih kita di awal kerja ditempatkan satu desk, yakni desk agama. Setelah ada rolling pun, kita masih ditempatkan di desk yang “berbau” agama. Tak ada keluh kesah di sana. Kita merasa turut menyiarkan semangat Islam yang makin tak populer. Setakpopulernya desk ekonomi. Hingga lama kelamaan saya pun mulai menerimanya.

Suatu ketika, dia tersenyum ketika saya protes karena tingkahnya yang terus bertanya dan mengatur. Lalu jawabannya mengejutkan. Dia tak mau ada temannya yang merasa kesepian. Dia tak mau apa yang dialaminya dulu, yakni merasa ditinggalkan, dialami oleh temannya yang lain. Cukup perasaan menyebalkan itu dia yang rasa.

Itulah Hilya.

Yang kemudian terus menerus mencari, bertanya, bercerita, bahkan mulai mengatur agar saya jangan begini jangan begitu. Harus ini harus itu. Saya ketawa aja kalau dia sudah begitu. Tak lagi ada jengkel. Hanya meledeknya sambil tertawa jika dia mulai terlampau bawel.

Hingga kemudian rollingan desk terus berlanjut.

Dia di Nasional, tepatnya di pendidikan. Saya dirolling ke Ekonomi.

Singkat cerita, sejak di Nasional, Hilya tampak lelah setiap hari. Kita pun makin jarang bertemu dan ngobrol karena sama-sama sibuk. Sama-sama lelah. Tapi dia tak pernah bercerita. Seperti menyembunyikan kesah. Saya pikir ini tidak adil. Dia selalu menuntut saya bercerita dan meluapkan perasaan, tapi dia menyimpannya.

Ya, Kelana. Hingga kemudian Hilya datang berbisik. Katanya saya tampak lebih cerah meski lelah. Lalu saya jawab, sebab di desk ekonomi saya senang karena merasa punya teman-teman senasib yang sepertinya saling peduli. Haha. Tapi saya tahu adatnya Hilya. Pertanyaannya itu hanya prolog saja, untuk menyampaikan sesuatu yang penting.

Bahwa ia berencana pindah kerja. Ada LSM berbasis Islam yang dirasa cocok dengan prinsip dan visi hidupnya, menawarinya pekerjaan yang lebih baik.

Apa respons saya, Kelana? Ketika itu saya dukung dia seketika. Lagipula, tampaknya LSM itu memang jalan yang menurutnya baik. Dia akan menjadi jurnalis di sana. Yang menyebarkan pesan dakwah dan ikut membantu kegiatan kemanusiaan atas nama agama. Mulianya. Bagaimana saya tak mendukungnya, jika jalannya tampak indah begitu.

Saya dukung agar ia berhenti sakit-sakitan. Agar ia berhenti kelelahan. Saya tahu, nantinya dia tak akan lagi di Republika. Tak ada pula di kosan karena dia akan pindah juga. Tapi ketika itu saya pikir tak mengapa. Asal Hilya menjalani hidup dengan tenang, teman harus mendukung. Saya bahkan menyatakan kalau dia harus berani menegaskan pilihan untuk sesuatu yang ia rasa lebih baik. Lagi pula, semua orang datang dan pergi setiap hari. Maka seharusnya perpisahan menjadi hal biasa.

***

Singkat cerita (lagi).

Hilya cerita bahwa ia sudah bilang ke orang kantor. Menegaskan untuk resign. Dia cerita, bahwa salah satu pimpinan sangat memohon agar dia mengurungkan niatnya. Bahwa Republika butuh orang semacam dia, untuk dispesialisasi di desk agama. Begitu pun yang lain. Akan dispesialisasi berdasarkan passionnya. Dari cerita Hilya, sang pimpinan tampak merayu, bahwa di Nasional, Hilya hanya sementara. Sebab Hilya akan fokus di deak Agama atau berita internasional soal Timur Tengah. Si Bapak itu juga bilang, kalau masing-masing dari reporter sudah disiapkan spesialisasinya. Rolling ketika carep hanyalah proses pencarian jati diri.

Kata si pimpinan (berdasarkan cerita Hilya), di Republika ga terbatas jika mau berkarya sekaligus bekerja. Kesempatan pun terbuka luas untuk mempelajari banyak hal berskala nasional. Ia dan reporter adalah seperti hubungan saling tolong-menolong. Saling membantu mengkritisi kejadian di dunia, kebijakan pemerintah, kelakuan masyarakat, kisah para kaum pinggiran, mencatatkannya, lantas menyampaikan pada pembaca.

Kata Hilya, si bapak itu berkali-kali memohon agar jangan resign. Karena akan berdampak buat semangat teman-teman yang lain. Dan ia rasa, itu dampak yang buruk. Si Bapak bahkan sampai cerita, bahwa ia sedang memperjuangkan kesejahteraan para reporter. Janji-janji manis perusahaan. Dan Hilya merasa bersalah karena meninggalkan duluan.

Mendengar cerita Hilya, saya diam. Membayangkan Si Bqpak yang memohon. Membayangkan berada di posisi neng Hilya.

Diam. Karena ketika itu, rasa kehilangan mulai terasa.

***

Kemudian pagi ini, perpisahan itu makin ditegaskan. Saya yang malah bungkam. Tadi pagi dia bilang sudah mulai tak liputan. Dia sedang mempersiapkan kepindahan. Sial. Sial. Saya tak tahu harus komentar apa. Pagi hari menjadi mendung dan memang ia tengah mendung. Jalanan jadi tampak lelah. Semuanya tampak tak menyenangkan. Meski hari ini libur liputan.

Tapi satu hal. Seperti hukum tarik menarik, setiap orang akan merapat di tempatnya masing-masing, sesuai karakter dan perilakunya. Jodoh Hilya telah berakhir di sini. Tak apa. Sesekali bolehlah saling menyapa. Maka sesungguhnya tak ada perpisahan. Hanya penyesuaian posisi saja. Perpindahan yang sederhana dan tak perlu didramatisir.

Jadilah saya maunya diam saja. Bersembunyi saja. Hahaha…

Bukan karena malas atau benci. Bukan.

Saya hanya tak mau berada di situasi tak menyenangkan. Situasi yang bikin cengeng. Perpisahan itu seharusnya tak ditegaskan.

Tidak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s