Mengeja Kebersamaan di Papandayan

23.09

11052015

“Batu, air, pohon, bunga, kawah, awan, uap, dingin, matahari dan gemintang. Mereka berserakan dan terasa dalam susunan abstrak. Berbagi penampakan di waktu yang tepat. Mahasempurna. Menjadi terindah dan minta dipuji selamanya. Papandayan.”

Berasal dari kata bahasa sunda bernama “Panday”, artinya Pandai Besi. Konon zaman dahulu kala, terdapat sekelompok masyarakat yang melintasi ini gunung. Mereka mendengar suara-suara seperti tukang pandai besi yang tengah bekerja dan menempa di area gunung. Merasa mistis, mereka pun menjadi kreatif dan menamakannya “Papandayan” untuk membedakannya dengan gunung yang lain. Selidik punya selidik, rupanya itu memang suara gaib yang dihasilkan dari dalam kawah gunung yang tengah aktif. Kawahnya bekerja, menghasilkan bunyi serupa pandai besi. Lalu menarik perhatian manusia untuk menjangkaunya.

Gunung Papandayan.

Begitulah salah seorang warga setempat berkisah. Tentang gunung api strato yang terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat tepatnya di Kecamatan Cisurupan. Mengutip Wikipedia, gunung dengan ketinggian 2665 meter di atas permukaan laut ini terletak sekitar 70 km sebelah tenggara Kota Bandung. Malam Ahad (9/5/2015) kami menjejakkan kaki di kakinya. Memulai perjalanan bersama senja yang baru saja berakhir. Diganti gulita. Jadilah ini kisah tentang perjalanan milik kami berenam. Binti, Cristi, Indri, Irene, Risa dan Sonia. Dengan carrier di pundak, perjalanan kami mulai secara perdana, tanpa cahaya matahari.

Omong-omong soal carrier. Ada pelajaran perdana sekaligus salah satu yang tersulit dalam agenda naik gunung. Agar cukup tanpa merepotkan ketika dibawa. Bagaimana kita cerdas menyusun barang-barang keperluan berkemah dan mendaki. Memasukkan tenda, matras, kantung tidur, jaket, kompor, makanan dan peralatan lainnya. Cukup berkeringat dan makan waktu ketika kami menyusunnya kala itu.

Kapten Binti selaku senior dalam hal mendaki memberikan instruksi pertamanya. Melihat kondisi carrier saya yang paling mini, ada matras, kompor beserta tabung gas mini yang harus saya bawa. Baiklah, harus cukup. Memeras otak, bongkar pasang. Muat juga tuh barang semua masuk. Pekerjaan tersulit kemudian adalah menutup resletingnya. Sekuat tenaga. Hahaha… untung ini tas didesain kuat.

Melihat carrier yang lainnya, hampir sama seperti saya. Tapi lihatlah milik Kapten Binti. Widih. Luar biasa besarnya. Jangkungnya lebih dari setengah badan kita. Isinya ada tenda dan perlengkapan utama kelompok. Dia betul-betul kapten tim tertangguh.

Lantas packing rampung, kita semua pun mulai berjalan sekitar pukul sepuluh pagi, pada Sabtu (9/5). Menarik perhatian pengguna jalan karena gembolan besar di pundak. Tapi kami berjalan saja. Toh mereka cuma berkomentar saja. Tidak menambah beban di punggung, ataupun menguranginya. Berganti angkot tiga kali, lalu naik bus, lalu sesampainya di Terminal Guntur Garut, rehat sejenak, naik mobil angkutan lagi, lalu naik mobil pick up lagi. Sampailah di kaki gunungnya.

Rangkaian perjalanan dari satu angkutan ke angkutan yang lainnya cukup kompleks. Dari mulai menguji lelah dan berat di pundak, sampai praktik percaloan orang-orang jalanan yang terasa menjengkelkan. Orang memang punya macam-macam cara dalam mengais rezeki. Tapi untuk para calo di sini, sungguh mereka itu minta dikutuk. Haha.. maaf saya emosi. Mereka berkedok tukang ojek, tapi memeras para supir pick up. Mereka merasa bisa mendominasi karena kami semua perempuan. Maaf, bolehlah saya sebut, merekalah yang jadi salah satu bagian penghambat kemajuan daerah.

Tapi biarlah. Toh akhirnya kami berjalan juga. Menapaki langkan demi langkah sembari saling mengeja karakter satu sama lain. Menyesuaikan diri agar sepanjang jalan menjadi menyenangkan.

Yap, singkat cerita, sampailah kami di kaki gunung pukul 20.00 WIB. Sebelumnya kami telah menjamak shalat agar sepanjang perjalanan menjadi tenang. Seorang bapak bersama anak lelakinya yang bernama Hasan turut mengiringi. Mereka rupanya juga ingin menuju gunung bagian atas sebab di sana ada warung milik mereka. Jadilah perjalanan malam ini diiringi sang bapak dan anak lelakinya. Bagi saya, mereka seperti malaikat yang diutus Tuhan untuk jadi pemandu kami menempuh perjalanan terjal nan gulita ini. Beberapa jam berjalan, ada satu lagi pemuda yang berjalan menyusul. Jadilah kami punya tiga bodyguard. Dua orang dewasa dan si kecil Hasan yang memang masih duduk di bangku kelas dua SD tapi kuat begadang dan bolak-balik gunung.

Sesekali berhenti beristirahat, tapi semua tabah dan mau terus berjalan menanjak. Sepanjang jalan yang terasa hanya terjal. Dingin mencubit. Kita semua pakai jaket super tebal dan ada syal melingkar di leher pemberian salah seorang sahabat. Membantu mempertahankan hangat tubuh. Salut sama Risa yang meski fisiknya tampak paling ringkih, tapi mentalnya yang terbaik. Dia bahkan bisa jadi orang yang paling bisa dipercaya. Ada pula Binti yang berjalan dan bertanggung jawab di barisan paling depan. Serta Cristi yang kalem dan tampak memperhatikan kondisi kami diam-diam. Serta ada Irene dan Indri, rekan wartawan dari media tetangga yang keduanya juga yang tertangguh. Terima kasih atas keberadaan mereka yang mengiringi perjalanan ini.

Oksigen menipis mengundang batuk dan agak sesak. Lalu di area tertentu ada bau belerang yang menyengat. Tapi indah bintang yang mulai beranak pinak menjadi obat terbaik sehingga lelah tak berlangsung dramatis. Keindahan Papandaian hanya kami dengar dari cerita para penjaga kami malam ini, bahwa di sebelah sana ada kawah berwarna-warni. Katanya, ada 13 lainnya kawah milik Papandaian. Oke, mari berimajinasi saja.

Sesampainya di pintu Lawang Angin, ada tiga jalur menuju puncak yakni jalur menuju Camping Ground Pondok Saladah, jalur menuju Tegal Alun atau menuju Pengalengan. Kita memilih jalur pertama menuju Pondok Saladah dan memang akan bermalam di sana untuk kemudian meneruskan perjalanan menuju puncak besok pagi. Di Pondok Saladah para pendaki bisa mudah mendapatkan air dan kamar mandi. Senangnya. Jadi saya gak perlu pipis sembarangan. Haha…

Para penjaga kami akhirnya sampai juga di warungnya masing-masing. Terpaksa kami pun ditinggalkan. Kembali berjalan berenam saja. Ayo ayo. Ah kita memang tangguh. Sebab kita saling berpegangan, berbagi air mineral, berbagi makanan dan madu. Karena sepanjang jalan harus saling menguatkan, mengalah dan jujur mengutarakan apa yang dirasa. Agar semua bisa tetap sehat dan semangat. Sempat tersesat, tapi tak lama. Tuhan memang benar-benar menjaga kami malam ini.

At last, sampailah kami di Pondok Saladah sekitar pukul 23.00. Ah, saya merasa keren banget bisa bertahan sejauh ini. Meski belum menjangkau puncak. Keberadaan kami adalah keren di tengah alam yang super keren. Satu hal yang penting. Hari ini ada dua kawan yang berulang tahun malam ini dan esok harinya. Binti dan Cristi. Selamat buat mereka karena masih diberi hidup hingga hari ini. Semoga makin cantik dan diberkahi serta segera menemukan jodohnya. Amin.

Begini rangkaiannya: Mendirikan tenda. Masak makanan instan. Tidur. Bangun di shubuh hari. Mengantre di kamar mandi. Masak lagi untuk sarapan. Keukeh masak makanan instan. Menu yang tersaji yakni bandrek, mie, makaroni, kornet, roti. Semua serba instan sembari mulai narsis foto-foto. Lalu kita mulai packing dan beres beres untuk kemudian bersiap naik ke puncak ini gunung.

Ralat, sebenarnya puncaknya tidak terlalu jelas. Intinya kita menuju Tegal Alun. Sayangnya tak melewati hutan mati, tapi jalur lain di mana kami harus lebih melebarkan langkah kaki, sedikit memanjat dan berpegang naik di akar pohon yang menanjak cukup curam. Tegal Alun adalah padang Edelweis yang tetap indah meski bunganya masih kuncup kala itu. Ia yang merupakan primadonanya Papandayan.

Sejak awal semua orang bilang trek Papandayan terbilang bersahabat bagi pendaki pemula. Wow mungkin iya, bagi mereka yang ahli. Saya akui tingkat bahayanya memang tak terlalu besar. Tapi setiap perjalanan butuh ketabahan, kekuatan tangan, kaki dan hati untuk menjangkau semua yang pada akhirnya membahagiakan.

Seperti diberi kejutan, jika semalam saya hanya bisa membayangkan penampakan suasana gunung berdasarkan cerita orang dan foto yang tersebar di internet, hari ini sembari menuju puncak gunung, cahaya matahari memberi tahu banyak hal dan selengkap-lengkapnya. Cahaya ini membuka keindahan secara visual. Terima kasih.

Cahaya matahari makin menegaskan penampakan batu, air, pohon, bunga, kawah, awan, uap dan dingin yang berserakan. Mereka berada dalam susunan abstrak. Berbagi penampakan di waktu yang tepat. Mahasempurna. Jika sempat dan cukup punya nyali dan persiapan fisik, datang dan berkunjunglah. Lalu kamu akan menemukan syukur yang membuncah di sana. Dia beserta karyanya selalu menjadi yang terindah dan pantas dipuji Selamanya.

Papandayan.

*masih takjub

***

Btw, sebenarnya saya hampir despret untuk mengunggah foto-foto di sana. Gagal melulu. Sudah berkali-kali dicoba, tapi tetap susah. Yang jelas, alam Papandayan itu brengsek indahnya kawan. Maha suci hanya buat Allah sang penciptanya. Mungkin lain kali, saya coba lagi. Itu pun kalau ingat. Tapi kalau kalian sangat penasaran sama penampakan Papandayan, googling aja (Si Nia ga tau diri lempar tanggung jawab ke Kang Google :-p). Banyak kok gambarnya yang indah-indah lantas minta dikunjungi dengan khidmat.

Karena judulnya “Mengeja Kebersamaan”, paling tidak saya ingin mengabadikan foto dengan tiga teman kosan yang berangkat kemarin saja ya.

Ini teman-teman se kos yang ngikut kemping di Papandayan. Cewek-cewek tangguhlah mereka itu. :-D
Ini teman-teman se kos yang ngikut kemping di Papandayan. Cewek-cewek tangguhlah mereka itu. 😀 (dari kiri ke kanan: Risa, Saya, Kristi dan Binti)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s