Catatan Perjalanan Kalteng (bagian III-Habis)

“Selesaikanlah ceritamu. Entah ada yang mendengar atau tidak, selesaikanlah apa yang telah dimulai.”

Ya, maka saya bertekad untuk menyelesaikan kisah perjalanan di Pangkalan Bun awal bulan ini. Tapi saya mau mengutip naskah Teraju pra edit saja ya. Sebab intinya sama, dan saya sedang menyerah untuk menyulut mood nulis. Hahaha… maafkan. Oiya, Teraju adalah salah satu rubrik di media tempat saya bekerja. Semacam tulisan depth reporting berbentuk feature tentang satu isu yang fokus. Tulisan yang berikut ini ditampilkan adalah salah satu judul saja. Menyoal Delang dan masyarakatnya yang menyenangkan.

***

Delang, yang Bertahan dalam Kepungan Sawit

Segelas tuak dan pinang sirih di keranjang tersaji di hadapan. Damang alias kepala adat Kecamatan Delang Kabupaten Lamandau Kalimantan Tengah Silpanus Yamaha, menghidangkannya sebagai tanda selamat datang. Kicau “Kami selalu terbuka pada pendatang, tapi tidak untuk merusak alam,” kata dia mengawali perbincangan. Berpegang pada prinsip tersebut, tanah Delang dan sekitarnya pun masih bersih dari sawit. Hanya ada rimbun pepohonan beraneka ragam. Sebab dari situlah masyarakat mencari penghidupan.

Masyarakat Delang terdiri dari 300 kepala keluarga atau 1107 jiwa. Terdiri dari sembilan desa dan satu kelurahan yakni Desa Riam Panahan, Sepoyu, Riam Tinggi, Landau Kantu, Lopus, Nyalang, Penyobaan, Sekombulan, Kubung dan Kelurahan Kudangan. Bagi mereka, hutan dan sungai adalah harta warisan yang teramat berharga. Makanya, penjagaan ketat kompak mereka lakukan bagi siapa saja pendatang yang berniat merusaknya demi keserakahan.

Atas prinsip tersebut, sempat tersiar kabar pengroyokan yang dilakukan masyarakat Delang terhadap salah satu pesuruh perusahaan akhir 2014 silam. Bahkan kabar menyebut, kasus tersebut sedang dalam pengurusan pihak kepolisian. “Padahal sama sekali tidak ada pengroyokan, saya hanya memukul sekali karena dia sudah bersikap keterlaluan kurang ajar,” kata Regenius Karya Maladi, warga pelaku pemukulan yang mengklarifikasi.

Ia berkisah, pemukulan disulut oleh sikap pesuruh perusahaan yang seenaknya menurunkan alat berat untuk meratakan sebagian hutan mereka. Padahal sama sekali mereka belum mengantongi izin dari warga, pun belum dilakukan musyawarah yang seharusnya digelar keesokan harinya.

Sebelum insiden terjadi, oknum salah satu mantan pimpinan desa itu tampak tak menghormati kepala desa. Terlihat dari sikapnya yang tertawa lantas dinilai melecehkan ketika kepala desa tengah memberi pengarahan. Emosi Maladi tersulut. Pemukulan pun terjadi.

Tapi yang dilaporkan ke polisi, Maladi dan warga dituding telah melakukan pengroyokan. Untunglah Damang Silpanus sigap membela warganya. Sebelum kriminalisasi terjadi, ia melarang agung untuk memenuhi panggilan kepolisian tapi jika mau, polisilah yang harusnya datang ke Delang untuk mendapatkan keterangan yang sebenarnya. Setelah itu, belum ada tindak lanjut apapun hingga detik ini. Polisi seperti bisu, dan Maladi bisa bernafas lega. Ke depannya, ia akan menggunakan strategi elegan yang lebih jitu dalam melakukan penjagaan hutan bersama masyarakat.

Penjagaan hutan Delang di tengah himpitan sawit menjadi begitu rentan. Terhimpit, sebab Data Walhi menyebut, dari luas daratan Kalimantan Tengah seluas 15,3 juta hektar, ada lahan 12,8 juta hektar yang telah diberi izin untuk ditanami sawit. Sisanya masih hutan yang salah satunya masih dijaga masyarakat Delang. Seperti terkepung, tapi mereka ingin bertahan. Tak mau merusak alam, tak mau juga jadi buruh di tanah sendiri.

Maka menjaga kekompakan semua wargalah yang saat ini menjadi penguat kebertahanan. Kepala Desa Kubung Edi Zachius turut bertutur,  ada sejumlah keberuntungan dibarengi berkah dalam upaya mereka menjaga hutan. Sebab ada aliran sungai super jernih mengalir melintasi hutan dekat perkampungan.

Ada mata air Sempangauan dan air bukit tunggal. Dari mata air itu mengalir ke Sungai Setongah, Sekakat, Kungkung, Kediu, Mangkalat, Mencara, Joa, Pekawai, Kantu, Setungkap dan juga Magin. Aliran mengalir hingga ke Sungai Delang dan Batang Kawa, Sungai Lamandau Nanga Bulik dan Pangkalan Bun.

Dari air tersebut mereka minum, mandi, mencuci dan menggerakkan turbin mikro hidro untuk listrik ke rumah warga. meski menyoal turbin, kondisinya sangat memprihatinkan. Karena kurang perawatan kurang dana. Makanya perhatian pemerintah diharapkan datang agar kemandirian mereka makin terjaga.

Di seberang sungai, pohon-pohon besar menjulang tinggi. Hewan buruan dan ternak tumbuh sehat. Hingga hidup mereka jadinya berkecukupan. Mata pencaharian mereka bertani, berladang, ternak sapi, babi dan ayam. Sesekali mereka masuk ke hutan berburu madu atau panen buah. “Kalau sudah musim buah, ada yang bisa sampai beli motor saking melimpahnya panen kami,” kata dia.

Peta Partisipatif Tegaskan Batas Wilayah

Menghadapi tantangan zaman, masyarakat setempat menyadari cara penjagaan hutan harus lebih cerdas dan elegan. Damng Silpanus Yamaha menerangkan, selain tetap menjaga kekompakan, mereka terus membuka bala bantuan dari semua orang yang berpikiran serupa soal menjaga alam. Makanya, mereka pun menggandeng Walhi untuk membuat peta partisipatif dengan menggunakan teknologi GPS.

Agar menjadi jelaslah batas wilayah meraka, mana saja yang merupakan zona Insakng Kosih Nyao Porut atau hutan tempat Penyaduan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang jauh dari pemukiman, seperti berburu, meramu, mencari madu dan lainnya yang lokasinya jauh dari kampung.

Dengan peta akan terang pulalah Tanah Bohiyakng Bato Bogano alias tempat pemujaan atau wilayah yang dikeramatkan seperti Bukit Rangah, Batu Batungkat, Air Terjun Sukam, Bukit Merangkas. “Kita juga memetakan wilayah Natai Ponotaan Tanjung Perobukan atau tempat berladang di sekitar kampung seperti babas dan pengampung,” kata Silpanus.

Atas kerja keras masyarakat bersama Walhi sejak 2013, peta partisipatif untuk wilayah Desa Landau Kantu, Kubung dan Sekombulan rampung juga. Peta untuk wilayah lain tengah menyusul. “Seharusnya bisa cepat juka kita punya cukup dana,” lanjutnya. Peta berfungsi sebagai penegas, manakala perusahaan atau pemerintah berniat masuk, sudah jelas wilayah masyarakat adat dalam peta yang tak boleh diusik. Dalam keyakinan mereka, menjaga hutan menjadi tugas penting. Itu adalah titipan nenek moyang. Untuk anak cucu di masa depan.

Peta juga berguna untuk memeroleh Surat Keputusan pengakuan wilayah adat dari pemerintah setempat. Peta tersebut akan dilaporkan ke kabupaten dan provinsi supaya betul-betul mengakui hak wilayah adat mereka.

Menjelang senja, bau sirih dari warga yang mengunyah masih menyeruak di tengah perbincangan kami. Menjadi pemandangan yang langka melihat bibir-bibir yang merah dan sesekali meludah apik dalam satu wadah. Bersama tuak yang sedikit demi sedikit diteguk. Membuat hidung dan rongga dada menjadi hangat. Sehangat keakraban yang mulai terbina. Sembari menggagas peluang ekowisata. Sebab sepkat, cerita tentang semangat melestarikan hutan perlu dibagi dan disebarluaskan kepada masyarakat dunia.

***

Begitulah kutipan naskahnya.

Dan waktu terus berlalu. Kebersamaan bersama masyarakat Delang mesti ditinggalkan juga. Pada Ahad (3/5/2015) kami pamit. Sebelum menuju bandara sempat beli souvenir dan mampir sejenak di istana kuning. Ada kisah yang keren di dalamnya loh. Tapi balik ke masyarakat Delanh, pokoknya mereka akan sangat bikin saya rindu. Semangat menjaga kedaulatannya pun bikin iri. Keren buat mereka yang sudah bisa menegaskan apa yang dimiliki dan wajib dipertahankan. Semoga semangat itu tetap terjaga dan menular kepada anak cucu. Agar hutan selalu erjaga. Biarlah dinilai kuno dan konservatif. Toh semua aspek butuh keseimbangan. Alam tak bisa dinodai keserakahan segelintir orang. Maka, tetaplah waspada.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s