Absen

“Tak ada yang boleh benar-benar ditinggalkan. Ada yang mungkin dilupakan, tapi teringat lagi. Atau ditinggalkan untuk kemudian kembali lagi. Sekadar menyapa melepas rindu, mengganti pandangan atau menjadikannya tempat pulang.”

***

Permisi, saya mau absen.

Ah maaf. Sungguh maaf. Sudah berapa lama saya meninggalkan ini blog. Alasannya klasik dan super gak kreatif. Sibuk, tak ada waktu, padahal tengah bersembunyi sebab tengah terlena dengan kemalasan. B-)

Saya punya banyak PR hari ini. Naskah perjalanan kemarin di Kalimantan baru setengah jalan. Atau brain storming lainnya yang bertebaran, berantakan, lalu sebagian bahkan sudah menguap hilang. Haha.. benar-benar terasa kacau otak saya. Oiya, ada juga perjalanan ke Gunung Papandaian yang belum dikisahkan. Maafkan, para pembaca tercinta. Tapi ya, soal Papandaian. Ini kali pertama saya melakukan perjalanan bak orang-orang yang menamakan dirinya “pecinta alam” itu. Perdana pendakian malam yang penuh kejutan yang mengundang rasa takjub sekaligus syukur. Ragam penampakan di sana seperti jadi pengobat badan yang terasa remuk di sana sini.

Tapi yasudahlah. Sekarang rasanya saya seperti memenangkan peperangan. Cucian semua yang kotor bekas camping kemarin sudah dicuci. Tinggal tenda yang rencananya akan dicuci sama-sama. Hutang-hutang sepanjang perjalanan sudah dibayar. Kurang lebihnya kami sepakat saling mengikhlaskan. Tidur selepas piket malam sudah cukup. Sisanya, saya sedang bernapas di sini, sambil mengetik yang harus diketik. Absen.

Menyoal kutipan kalimat pertama di bawah judul itu, saya memang sedang sekuat tenaga meninggalkan sesuatu yang hadir saat ini. Sesuatu yang sepertinya menyenangkan, tapi sebenarnya abstrak. Intinya, saya tengah terkejut menyadari ada suatu perasaan baru yang datang pada seorang teman baik. Di mana ada kelebihan fokus dan perhatian untuk si teman yang beruntung ini. Seperti biasa tapi juga langka. Perasaan ini datang secara mengendap-endap. Menyelinap. Membuat saya malu dan bertanya-tanya.

Maka menjaga jarak mungkin jadi solusi saat ini. Lagi pula, butuh waktu bagi saya untuk mencerna semua Hal baru yang datang. Maka, mninggalkannya sejenak semoga menjadi pilihan yang terbaik untuk kemudian semoga bisa mengikuti alur yang telah dirancang-Nya saja. Jangan sampai mengulangi kesalahan yang lalu-lalu.

Entah nantinya perasaan ini akan ditinggalkan untuk kemudian kembali lagi. Atau ditinggalkan untuk suatu saat disapa lagi untuk nostalgia. Atau ditinggalkan untuk kemudian menggantinya dengan perasaan lain yang lebih general. Atau menjadikannya tempat pulang. Entahlah. Tak perlu menduga-duga. Toh apa yang akan terjadi di masa depan adalah yang terbaik. Saya lebih suka dikasih kejutan saja sama Tuhan. Eaaaa….

Ah yasudahlah. Syukuri saja. Toh menyukai seseorang lebih baik dari pada membenci. Lagi pula, ini normal-normal saja. Dia orang yang baik pada semua orang makanya pantas disukai semua orang. Termasuk saya. Yang jelas terkhusus blog ini, saya maunya tak meninggalkan dia. Di sini saya bebas bercerita, merunut pikiran. Semoga menjadikan otak lebih waras.

*rehat

2 respons untuk ‘Absen

  1. Teman yg katanya baik itu kayaknya kalo baca tulisan ini bakal langsung ngeuh, hehe… Intinya nikmatin aja perasaan yg sedang hadir. Entah itu akan menetap lama atau hanya sekadar singgah sebentar.
    BTW, sebagai sesama mantan editor EYD euy EYD 😀

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s