Catatan Perjalanan Kalteng (bagian II)

“Si Ujang dan Si Acep”

01052015

13.44

Jujur saja, sungguh linglung untuk mulai lagi menuliskan apa yang baru saja terlewati. Otak dan hati saya terasa penuh. Dan diprediksi, ini akan makin penuh dan membuncit di hari berikutnya. Siapa yang tahan melihat perawan cantik yang terbongkar tempat persembunyiannya? Saya takluk.

Dengan perahu kayu yang disebut Klotok, kami berangkat. Melewati sungai Sekonyer, menyusuri lekukannya. Dari dermaga wisata Taman Nasional Tanjung Puting, perjalanan pun dimulai. Hembusan angin terasa damai. Ia membisikkan ucapan selamat datang dari yang ada di balik jutan bakau dan mangrove sana: orang utan, monyet, bekantan dan makhluk yang tak tersebutkan. Pun tuan rumah yang berenang anteng di dalam sungai: buaya.

Mereka mengintip saja. Maka jadilah sepanjang perjalanan menuju kawasan hutan lindung dan Taman Nasional Tanjung Puting ini membuat hati jadi hangat.

20150430_160800

dan ini:20150430_162259

ah, sori ya, saya masih belajar memotret yang baik. Haha..

Oh saya hampir lupa. Di cerita bagian pertama ada yang membuat perjalanan ini berbeda. Disebabkan keberadaan orang yang saya sebut mirip mantan “kecengan” saya ketika di Bandung sana. Dia yang di masa lalu memberi pembelajaran pertama soal bagaimana menghargai perasaan manusia, bersama sakit dan bahagianya.

Bolehlah kalian mengatakan saya naif dan pengkhayal ulung. Tapi ini benar-benar mirip. Garis muka, perawakan, terutama matanya. Hanya saja yang satu ini lebih tinggi dan lebih tegas. Tapi pembawaan dirinya di antara tim membuat saya mengingat si mantan kecengan. Haha… norak ya.

Si orang yang mirip kecengan saya di masa lalu ini, untuk selanjutnya sebut saja namanya “Ujang”. Ia merupakan sesama reporter dan forografer dari Palangkaraya yang juga fotografer. Bukan genit, tapi penampakannya membuat saya kerap mencuri pandang, memperhatikannya. Tapi seperti biasa, tak berani mendekat. Hanya salin mengenalkan diri lalu sedikit sapa basa basi. Cukup memperhatikannya yang tak henti memotret sana sini. Cukup dari kejauhan saja. Sembari mengenang dia yang telah dilepaskan di masa lalu.

*eaaa… 😛

Baiklah, tapi sebelum melanjutkan cerita, entah kenapa saya merasa perlu menjelaskan singkat soal definisi “kecengan” versi saya. Yakni mereka yang berhasil menarik hati dibandingkan siapapun. Dia yang dikagumi, yang jadinya lebih diperhatikan dibanding siapa pun. Lalu tanpa terasa dia diperbolehkan untuk kurang ajar jadi pengendali suasana hati.

Dalam melewati perasaan ajaib itu, terkadang perempuan bisa jadi naif, se naif naifnya tingkah laku. Terutama ketika saya harus putar otak, bagaimana agar perasaan ini tetap tersembunyi dengan apik. Dan sejauh ini, saya berhasil. Makanya saya beruntung punya kecengan yang keren-keren di masa lalu. Mereka banyak mengajari, memberi banyak hal positif yang bisa memperkaya otak dan hati. Lantas, perasaan suka yang datang itu tak perlu diumbar.

Oke oke…

Lanjut.

Di sela perjalanan, ketua tim memberi banyak arahan. Soal situasi yang akan kami lewati ketika sampai. Bahwa maksud dan tujuan kami bukan murni untuk berlibur, tapi melihat kawasan perusahaan sawit yang sudah masuk kawasan hutan lindung. Yang telanjur dibiarkan dirambah seenaknya. Dibuka lahannya untuk sawit.

Tapi kemudian ketika sampai, kami tahu bahwa warga sekitar memasrahkannya, malah membentuk pagar pengaman. Agar tak perlulah ada orang yang meributkan perjamahan. Menjadikan tanahnya sebagai tumbal untuk inpming-iming yangntak pastidi masa depan. Sebab merasa satu-satunya harapan untuk hidup mereka adalah janji plasma dari perusahaan.

Menyusuri sungai sekonyer sekitar hampir sejam, akhirnya kami pun sampai sekitar pukul tiga sore waktu setempat. Disambut gerimis, suara monyet dan juga pelangi. Ah. Brengsek indahnya Tuhan. Sumpah saya cinta Indonesia dengan segala kekacauannya. Momen ini tak boleh dilewatkan. Mari ber-selfie ria.

Menginjakkan kaki di sini. Disambut patung orang utan dan ucapan selamat datang.

Dermaga menggiring kami menyusuri saluran air sambungan sungai. Menuju lebih dekat ke penduduk serta di lokasi sasaran. Di sebelah sana ada anak-anak berenang dengan hati senang meski tanpa goyang dumang. Pandai sekali mereka. Sedikit melirik si Ujang. Dia tampak memotret tanpa henti. Sibuknya manusia itu.

Sapa sana sini, langkah rombongan terus berlanjut. Di sisi kanan ada rumah yang jaraknya berderet berjauhan. Warga yang didominasi kaum ibu dan anak-anak tengah bersantai di depan rumah. Membuat kami merasa jadi tontonan. Di sisi kiri ada para ibu dan anak-anak juga. Sedang mandi dan mencuci. Ada pula beberapa yang riang naik perahu kecil bermesin. Yang tidak menyenangkan ada di bagian tengah. Banyak anjing-anjing kalem tapi penasaran mungkin ingin berkenalan. Mereka dibiarkan lepas berkeliaran. Bersama ayam dan soang.

Di antara yang menyenangkan, ada lagi yang membuat saya tersentak. Ada satu lagi sosok yang penampakannya mirip mantan kecengan di masa lalu. Dia kecengan saya di periode berikutnya setelah yang pertama. Sebut saja namanya “Acep”.

*tsah.

Betulan deh, dia mirip dari segi gayanya. Perawakan jangkung, rambut gondorng. Gaya serampangannya. Berantakannya. Tapi saya tak mau mendekat dan bertanya. Sudah cukuplah dari di sungai tadi saya digerayangi masa lalu soal urusan macam begini. Zzzz.

Telah saya singgung sebelumnya, soal kelakuan sebagian masyarakat setempat yang tampaknya pasrah memberikan tanah mereka untuk tumbal. Sebab di tengah jalan, perjalanan kami dicegat sejumlah bapak. Bertanya, kami mau apa. Karena di depan sudah tidak ada apa-apa lagi. Lantas mereka meminta kami untuk segera kembali. Padahal kami hanya ingin survei untuk update data. Meninjau kondisi lahan secara langsung. Seharusnya itu tak mengusik mereka, bukan?

Tapi untung sikap balik tim stabil. Sebagian menahan warga, sebagian lagi mengendap-endap berjalan terus. Saya termasuk bagian dari tim yang tertahan. Lantas di jembatan, bersama tujuh bapak yang menatap curiga, kami berbincang soal keseharian warga, mata pencaharian, pendidikan, dan sedikit kebudayaan mereka.

Tak banyak jawaban yang didominasi kelakar dari mereka. Bahwa penduduk di sini awalnya tinggal di kawasan Taman Wisata Tanjung Puting. Nah, karena si taman akan jadi lokasi suaka, mereka pun direlokasi dengan sejumlah kompensasi. Jadilah sekarang mereka di sana. Dengan mata pencaharian utamanya memancing ikan dan jadi pengrajin pahat. Itu ganti dari mata pencaharian awal mereka dari berladang dan berburu di hutan.

Di depan perkampungan ada lahan luas yang diakui dulunya dipakai untuk pertanian. Tapi kemudian gagal karena lahannya kerap banjir. Pertanian pun ditinggalkan. Mereka yang berharap akan punya penghasilan dari sektor pariwisata pun rupanya nihil. Sebab perkampungan mereka seolah dilewati begitu saja oleh turis. Sebab yang lebih menarik ya di Tanjung Puting. Mereka cuma jadi perlintasan. Serupa remah-remah roti yang gak penting.

Ketika masyarakat belum mandiri. Pun pemerintah yang tak tanggap, di situlah perusahaan datang dengan investasi untuk penggarapan lahan sawit. Awalnya masyarakat menolak. Tapi lama kelamaan mereka melunak, bahka seperti disaksikan hari ini, mereka membantu agar kegiatan perusahaan merambah hutan berjalan kondusif. Dengan tak membiarkan pihak luar melakukan survei. Padahal di lokasi yang ingin kita jangkau, diindikasi perusahaan x tengah menurunkan alat berat, membuka lahan untuk sawit di atas lahan taman nasional.

Ah, sedih ketika melihat ketidakberdayaan. Dan kita hanya bisa prihatin.

Lalu eksploitasi berlanjut lagi dan lagi. Tanpa arahan, tanpa pengaturan. Serampangan. Oke kita butuh sawit. Produk sehari-hari manusia zaman ini mana ada yang tak pakai sawit. Tapi keserakahan membuatnya jadi mengerikan. Kita tak laginbergantung pada alam. Kitalah yang justru sudah merasa memilikinya untuk memenuhi keserakahan. Ujung-ujungnya, rusaklah.

Sudahlah, saya sedih membahas ini. Lebih lanjut akan saya jelaskan detailnya dalam berita saja.

17.55

Menjelang senja, diantar anjing-anjing kepo tapi bikin panik, kita pulang lagi naik perahu. Ya, kami memang tak ke kawasan wisata Tanjung Putingnya. Jadi tak sempat banyak melihat-lihat lebih lanjut ke dalam. Sebab terhambat pula di tengah jalan.

Para warga tersenyum membalas salam permisi. Ah, meski tak sempat berkenalan, semoga mereka selalu sehat. Tak terbayangkan tinggal di sana. Unik sekali buminya Tuhan. Ketika dinkota kita menikmati fasilitas publik serba enak, ada masyarakat lain yang serba terasingkan. Bahkan listrik pun dijadwal. Mereka yang seharusnya bisa bergantung pada alam untuk kesejahteraannya, tapi alam pun dirampas oleh orang kota.

Sepanjang perjalanan jadi terasa menyedihkan betul. Sinar matahari di langit sana mulai merona. Langit hitam, hutan hitam. Kapal yang lalu lalang menyuguhkan lampunya yang benderang. Tapi yang terindah cahaya kunang-kunang elegan. Air sungai memantulkan bayangan langit dan hutan. Damai ini mendadak bisu dan terasa menyedihkan.

Satu respons untuk “Catatan Perjalanan Kalteng (bagian II)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s